Bimbang, Kuliah Atau Sekolah TK?
Namun, seiring berjalannya waktu, aku mulai melihat perubahan kebiasaan dalam diri anakku. Dulu, dia senang bermain di luar rumah. Entah bermain sepeda atau sekadar jalan-jalan sore di sekitar rumah sambil menyapa dan bermain bersama anak-anak tetangga.
Tiba-tiba, dia mulai menolak ketika diajak bermain di luar rumah. Dia justru lebih senang menghabiskan waktunya di dalam rumah. Membaca buku—Alhamdulillah, di usia empat tahun anakku sudah lancar membaca—menggambar, bermain dengan mainannya, atau sekadar menonton TV.
Perubahan kecil ini mulai membuatku berpikir. Jangan-jangan, memang sudah saatnya anakku mendapatkan lingkungan baru di luar rumah.
Sekolah Yang Cocok Untuk Anak dan Orang Tua
Sebenarnya, aku dan suami sudah memiliki daftar beberapa sekolah TK, mulai dari yang paling mahal hingga yang masih aman di kantong. Aku sempat tertarik untuk mendaftarkan anak di salah satu sekolah yang mengusung konsep Islamic Bilingual School.
Bukan tanpa alasan. Selain berbasis pendidikan Islam, aku juga tertarik dengan penggunaan dua bahasa sebagai bahasa pengantar, yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, meskipun aku sendiri belum tahu pasti bagaimana penerapannya dalam kegiatan belajar sehari-hari.
Namun, setelah mencari tahu lebih jauh mengenai sekolah tersebut, aku akhirnya memutuskan untuk mencoretnya dari daftar yang telah kubuat.
Sebenarnya, sekolahnya cukup bagus. Kurikulumnya pun terlihat baik dalam menunjang tumbuh kembang anak. Hal itulah yang awalnya membuatku tertarik.
Sayangnya, untuk mendaftarkan anak di sana, aku harus menyiapkan budget yang jauh lebih besar. Uang masuknya bahkan menyentuh angka dua digit. Cukup menguras kantong, terutama jika disesuaikan dengan kondisi keuangan keluarga kami saat itu.
Ya, mungkin memang benar, ada harga, ada rupa. Fasilitas dan kualitas pendidikan yang ditawarkan tentu sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan. Namun, pada akhirnya aku tetap perlu mempertimbangkan kemampuan finansial keluarga, sebelum menentukan pilihan sekolah untuk anak.
Aku kembali berdiskusi dengan suami perihal sekolah TK yang cocok untuk anak kami. Bukan hanya sekolah yang cocok untuk anak, tetapi juga yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan orang tuanya.
Anak kami juga sudah mengikuti les Bahasa Inggris. Karena itu, aku merasa tak perlu lagi menjadikan sekolah bilingual sebagai salah satu kriteria utama dalam memilih sekolah untuknya.
Mulai Dari Sekolah Terdekat
Setelah mempertimbangkan banyak hal, aku pun mengusulkan kepada suami untuk mendaftarkan anak kami di TK yang dekat dengan rumah saja untuk tahun ini.
Sebenarnya, di sekitar rumah kami juga terdapat beberapa sekolah PAUD dan TK. Namun, dari beberapa pilihan tersebut, memang belum ada yang benar-benar sesuai dengan apa yang kami inginkan.
Seperti yang sudah kuceritakan di atas, tujuan kami ingin mendaftarkan anak ke TK bukan semata-mata agar ia belajar secara akademis. Kami ingin memberikan lingkungan baru yang baik untuknya, selain lingkungan di rumah. Dengan bersekolah, anak juga bisa berinteraksi dan belajar bersosialisasi dengan anak-anak seusianya. Dan yang tak kalah penting, supaya ia lebih sering terkena sinar matahari. Hihi.
Kebetulan, sekolah PAUD yang ada di sekitar rumah kami kebanyakan belum memiliki area bermain outdoor yang cukup luas. Hal ini menjadi salah satu pertimbangan kami dalam memilih sekolah untuk anak.
Ketika suami mendengar usulanku untuk mendaftarkan anak kami di sekolah PAUD dekat rumah saja tahun ini, dia hanya mengiyakan. Namun, dari ekspresinya, aku bisa menangkap kesan bahwa sebenarnya dia kurang setuju dengan usulanku.
Alasanku memilih sekolah yang dekat dengan rumah untuk tahun ini adalah karena aku ingin menjadikannya sebagai langkah awal untuk membangun kebiasaan baru pada anak. Mulai dari membiasakan tidur lebih cepat hingga bangun pagi. Tentunya, semua itu membutuhkan effort, apalagi mengingat seperti apa karakter anak kami.
Kupikir, dengan memilih sekolah yang dekat dari rumah, kami bisa meminimalkan risiko kesiangan sebagai permulaan. Kami bahkan bisa berjalan kaki saat berangkat maupun pulang sekolah. Selain bisa mendapatkan sinar matahari, kami juga bisa sekaligus berolahraga. Hihi.
Lagipula, saat itu aku memang berniat hanya menyekolahkan anak di PAUD dekat rumah selama satu tahun. Tahun berikutnya, barulah mencari sekolah TK yang benar-benar sesuai dengan keinginan dan pertimbangan kami.
Setidaknya, itu adalah rencana awalku.
Memilih Sekolah TK Sesuai Insting Seorang Ibu
Dari beberapa sekolah TK dan PAUD yang ada di dekat rumah, ada satu PAUD yang menarik perhatianku. Sayangnya, PAUD tersebut baru beroperasi sekitar kurang lebih dua tahun, dan saat aku cari informasinya di internet, memang belum ditemukan data terkait PAUD tersebut saat itu. Pun di media sosial, tidak seperti beberapa PAUD lainnya yang mana aku bisa menemukan datanya dengan mudah di website Kemendikdasmen, mulai dari status akreditasi, hingga NPSN.
Kusampaikan hal ini kepada suami. Tentulah saat mendengar itu, ekspresinya semakin terlihat tidak setuju. Meski begitu, suami masih tetap merestuiku untuk berkunjung atau sekadar survey ke sekolah PAUD tersebut.
Hari itu, hari Jum'at, jadwal anak les. Sebelum berangkat les, sekitar jam setengah sepuluh pagi aku mengajak anak untuk berkunjung ke sekolah PAUD tersebut dengan membawa berkas-berkas yang diperlukan untuk pendaftaran, sesuai yang tertera di brosurnya. Siapa tahu 'klik', bisa langsung daftar.
Kurang lebih jam 10 kurang 20 menit, kami tiba di sana. Dari luar, bangunan sekolahnya cukup safety karena terdapat pintu gerbang yang selalu tertutup. Terdengar suara gaduh anak-anak saat aku berada persis di depan gerbang sekolah.
Aku buka pintu gerbang, tampak anak-anak sedang bermain di sana. Ada yang bermain bola, ada yang sekadar lari-larian, ada juga yang sedang memainkan jendela kelas, dan itu tampak mengerikan di mataku, ngeri salah satunya ada yang terjepit saat jendela dibuka-tutup seperti itu. Sepertinya mereka sedang menghabiskan waktu, menunggu waktu pulang.
Aku masuk ke dalam gedung itu. Kebetulan ada salah seorang yang kurasa beliau adalah salah satu guru di sana, tampak sedang membersihkan ruang kelas sambil menggendong seorang anak kecil yang kurasa itu anaknya jika dilihat dari pakaian dan tinggi badannya. Kemudian, aku menyampaikan maksud dan tujuanku padanya, lalu beliau mempersilakanku masuk ke sebuah ruangan.
Aku dan anakku menunggu di ruangan itu. Seperti biasa, anakku sibuk memperhatikan setiap sudut ruangan. Tak lama kemudian, muncul seseorang yang kurasa beliau juga guru di sana. Kami pun mengobrol di tengah-tengah ramainya anak-anak yang turut keluar-masuk ruangan tersebut. Cukup terganggu sih. Aku jadi bingung, apakah memang wajar untuk sekolah PAUD membiarkan anak-anak muridnya turut masuk ke ruang guru yang sifatnya private, sementara di sana sedang ada tamu.
Setelah selesai berbincang-bincang, aku pun dipersilakan untuk membawa pulang sebuah formulir pendaftara untuk diisi, kemudian dilengkapi dengan berkas-berkas yang dibutuhkan saat dikembalikan nanti. Aku segera beranjak meninggalkan sekolah PAUD tersebut, kebetulan anakku pun sudah tak sabar ingin segera berangkat ke tempat lesnya.
Aku tidak jadi mendaftarkan anak sekolah hari itu. Setelah berkunjung ke sekolah PAUD tersebut, aku malah ragu dan bingung. Entah kenapa, kesan pertama saat berkunjung ke sekolah PAUD tersebut membuat hatiku yang semula semangat mendaftarkan anak sekolah di sana, sekejap berubah jadi ragu. Memang di sana tidak memiliki area bermain outdoor sehingga tampak tertutup. Pun saat melihat ekspresi anakku yang juga tidak menunjukkan ketertarikan saat berada di sekolah PAUD tersebut.
Selain itu, seperti yang kuceritakan sebelumnya bahwa sekolah PAUD tersebut baru berdiri, baru beroperasi kurang lebih dua tahun, dan belum memiliki NPSN. Jadi, masih berada dibawah naungan sekolah induk. Begitulah penjelasan dari pihak sekolah.
Sebenarnya masih ada hal-hal yang mambuatku ragu untuk mendaftarkan anak di sekolah tersebut, tapi kurasa tak perlu kuceritakan di sini. Intinya, aku hanya mengikuti insting seorang ibu. Hihi.
Sekolah TK Incaran Suami
"Ya udah, nggak usah daftar sekolah disitu kalau nggak sreg." Balasan pesan dari suami. Aku baru saja bercerita panjang lebar perihal sekolah PAUD yang baru saja kukunjungi itu, via pesan Whatsapp.
Bulan Mei sudah sampai di penghujungnya, tetapi aku masih belum punya gambaran akan mendaftarkan anak sekolah di mana. Sementara itu, entah bagaimana dengan suami. Bisa jadi dia sudah punya bayangan, sementara aku masih sibuk dengan segala pertimbangan di kepala.
Siang itu, sepulang dari tempat les anakku, aku tiba-tiba teringat nama sebuah TK yang beberapa kali disebut-sebut oleh suamiku. Suamiku sering melewatinya saat hendak berangkat kerja.
Sesekali, suamiku juga sempat mengamati aktivitas di sekolah tersebut ketika kebetulan berangkat kerja agak siang. Menurutnya, TK itu memiliki cukup banyak murid, berbeda dengan beberapa TK dan PAUD yang ada di dekat rumah kami.
Aku dan suami juga pernah mencari tahu informasi mengenai TK tersebut. Ternyata, TK itu sudah berdiri sejak tahun 1990-an. Wah, cukup lama juga, ya.
Dengan penuh kesadaran dan tanpa berpikir panjang, aku memberanikan diri menghubungi nomor kontak TK tersebut yang kudapatkan dari internet.
Alhamdulillah, atas izin Allah Swt., nomor tersebut aktif. Aku pun berkesempatan mencari tahu lebih banyak informasi mengenai TK tersebut melalui komunikasi dengan adminnya.
Seperti biasa, aku kembali berdiskusi dengan suami melalui WhatsApp. Kebetulan saat itu sedang jam istirahat kerja, jadi kupikir aku tidak akan mengganggu waktunya.
Setelah kuceritakan bahwa TK tersebut menggunakan sistem kuota, suami justru menyuruhku untuk segera mendaftarkan anak kami ke TK itu keesokan harinya. Takut kuotanya keburu habis, katanya.
Dari responsnya, sepertinya TK tersebut memang sudah menjadi salah satu sekolah incaran suamiku sejak awal. Hanya saja, selama ini aku tidak begitu menyadarinya.
Alhamdulillah, Daftar Sekolah Tahun Ini
Keesokan harinya, sekitar jam 10 pagi, aku bersama anakku berkunjung ke TK itu. Siang itu, tampaknya sedang ada kegiatan sesi foto siswa-siswi TK B yang akan lulus tahun ini. Meski terlihat sibuk semua, aku memberanikan diri menghampiri salah satu guru di sana, dan menyampaikan maksud dan tujuanku.
Kemudian, guru tersebut mengarahkanku untuk menemui salah satu guru yang sedang berada di sebuah ruangan yang kurasa itu ruangan administrasi untuk pendaftaran. Aku pun dipersilakan masuk.
Berhubung aku sudah cukup banyak mengetahui informasi mengenai pendaftaran di TK tersebut, aku tak perlu berlama-lama di sana. Aku pun segera pulang dengan membawa formulir pendaftaran di tangan. Formulir tersebut seharga Rp120.000.
Formulir pendaftaran itu harus dikembalikan ke sekolah beserta kelengkapan persyaratan lainnya, paling lambat tujuh hari setelah formulir diambil. Jika melewati batas waktu tersebut, anakku dinyatakan tidak melanjutkan proses pendaftaran.
Sebenarnya, aku bisa saja langsung melakukan pendaftaran hari itu juga, seperti yang disarankan oleh suami. Apalagi, hatiku juga sudah merasa klik dengan sekolah tersebut.
Areanya cukup luas. Terdapat tiga ruang kelas, terdiri dari satu kelas A dan dua kelas B. Selain itu, ada kantor, toilet, dan tentu saja area parkir. Namun, yang paling menarik perhatianku adalah mereka memiliki area bermain di luar ruangan yang cukup luas, biayanya cukup terjangkau, dan jaraknya pun tak begitu jauh dari rumah kami.
Meski begitu, niat untuk langsung mendaftarkan anak sekolah kuurungkan. Aku ingin mendengar tanggapan anakku terlebih dahulu mengenai calon sekolahnya itu.
Bagaimanapun juga, dialah yang nantinya akan beraktivitas setiap hari di sana. Aku ingin memastikan bahwa sekolah tersebut bukan hanya sesuai dengan pertimbangan kami sebagai orang tua, tetapi juga bisa menjadi tempat yang nyaman dan menyenangkan untuknya.
Alhamdulillah, anak kami memberi respon positif. Dia tertarik untuk sekolah di sana. Aku coba memastikan berkali-kali apakah dia benar-benar ingin sekolah di sana atau tidak, dan jawabannya tetap 'iya'.
Akhirnya, dengan penuh keyakinan, lusanya aku bersama anakku datang lagi ke sekolah itu untuk menyerahkan formulir pendaftaran, lengkap dengan berkas-berkas persyaratannya, serta membayar uang pangkal, SPP, dan lainnya.
Setelah menyelesaikan semua urusan administrasi, kami pun pulang dengan membawa perlengkapan sekolah, khususnya beberapa stel seragam, serta daftar peralatan sekolah yang harus dipersiapkan untuk hari pertama masuk nanti.
Alhamdulillah, lega rasanya. Allah Swt. telah memberikan kemudahan dalam niat baik kami.
Tak sampai di situ, Allah Swt. kembali memberikan kemudahan dalam urusan kami yang lain. Alhamdulillah, kerja keras yang selalu diupayakan suamiku akhir-akhir ini pun akhirnya membuahkan hasil. Tidak ada lagi keraguan antara memilih kuliah atau menyekolahkan anak di TK terlebih dahulu.
Ternyata, keduanya bisa berjalan beriringan. Tidak harus memilih salah satunya.
Semuanya berjalan atas izin Allah Swt. Masya Allah Tabarakallah.
Seperti itulah Diaris, ceritaku saat memilih sekolah untuk anak. Tak sedikit rencana yang kubuat, pun berbagai pertimbangan yang menyertainya—yang seringkali membuat kami, khususnya aku, galau untuk mendaftarkan anak sekolah. Namun, apa pun itu, jika Allah Swt. sudah berkehendak, semua akan terasa mudah. Rencana-Nya selalu yang terindah.
Semoga ada manfaat yang bisa diambil dari tulisanku kali ini. Terima kasih sudah membaca diaryku.

Komentar
Posting Komentar