Langsung ke konten utama

PENGALAMAN SERVICE SMART TV PANASONIC DI BOGOR


Assalamu'alaikum
, Diaris.

Dana darurat menjadi salah satu hal penting dalam mengelola keuangan. Aku menyadari dan menerapkan hal ini sudah lama. Tepatnya sejak aku hidup di perantauan, jauh dari orang tua.

Sejak duduk di bangku SMA, aku sudah tak tinggal bersama kedua orang tua karena alasan pendidikan. Saat itu, di tanah kelahiranku memang belum tersedia sekolah jenjang SMA. Ada sih, tapi untuk menuju kesana butuh transportasi. Sedangkan di tanah kelahiranku ini sangat minim transportasi umum.

Kebanyakan masyarakat di sana menggunakan kendaraan pribadi, mayoritas sepeda motor sebagai alat transportasi sehari-hari. Aku yang tak bisa mengendarai sepeda motor akan kerepotan dengan situasi seperti ini. Lagi pula orang tuaku belum ada kemampuan untuk membeli sepeda motor tambahan. Bapakku pun tak bisa jika harus setiap hari antar-jemput sekolah dengan jarak yang cukup menyita waktu, sedangkan beliau harus berangkat kerja pagi-pagi.

Jadi, sebagai keputusan bijaknya, aku melanjutkan sekolah di daerah dekat perkotaan yang tak begitu sulit untuk sekadar menemukan transportasi umum, dan aku tinggal bersama Nenek dan Kakek, orang tua dari Bapak. Itulah awal mula aku hidup jauh dari orang tua hingga sekarang.

Sejak saat itu, aku mulai belajar mengatur keuangan sendiri. Setiap bulan sehabis gajian, kedua orang tuaku mengunjungiku di rumah Nenek dan Kakek. Selain untuk melihat kondisiku, juga Nenek dan Kakek, itu merupakan jadwal mereka mengisi ulang dompetku (hihihi) dengan uang bulanan, terdiri dari uang SPP, uang jajan dan ongkos, serta uang tambahan untuk kebutuhan lainnya. Untuk uang makan sehari-hari biasanya Bapak berikan kepada Nenek. Biarkan Nenek yang mengatur urusan dapur.

Aku senang ketika kedua orang tuaku memberi kepercayaan padaku untuk mengelola uang jajanku sendiri stiap bulannya. Awalnya kupikir aku bisa bebas membeli apapun yang aku mau, mulai dari skincare, parfum, sabun mandi, serta keperluan lainnya yang aku mau tanpa diinterupsi Mama (hihihi).

Namun, sayangnya yang kuanggap kebebasan itu aku rasakan hanya diawal saja karena kenyataannya selalu ada kejutan di setiap harinya. Tiba-tiba ada tugas makalah, besoknya harus membuat kliping, lalu lusa entah ada iuran apa lagi, tak sedikit pengeluaran tak terduga bermunculan setiap bulannya. Oleh karenanya aku harus pintar-pintar mengatur keuangan supaya tidak minus.

Mungkin bisa saja aku minta kedua orang tuaku untuk menambah kekurangannya, atau pinjam dulu uang Nenek biar nanti diganti Bapak. Akan tetapi, tidak aku lakukan karena aku takut hal ini hanya akan menambah beban orang tua, mengingat Kakakku juga baru masuk kuliah dan membutuhkan biaya yang tak sedikit.

Dari situlah aku mulai belajar bagaimana cara mengatur keuangan. Mulai memilah mana kebutuhan dan mana keinginan. Demi uang bulananku bisa cukup sampai akhir, aku rela menurunkan kelas skincare and bodycare yang kupakai. Aku pilih yang murah meriah, asal jangan abal-abal. Alhamdulillah kulit wajahku aman. Dengan begitu, aku  bisa menyisihkan uang untuk keperluan-keperluan tak terduga yang sekarang kukenal sebagai dana darurat. Jika masih ada sisa uang, uangnya akan kusimpan sebagai tabungan.

Kebiasaan seperti ini berlanjut hingga aku kuliah, lalu mencari nafkah di perantauan. Bahkan hingga kini berumah tangga pun kebiasaan menyisihkan dana darurat masih berlanjut.

Dalam kehidupan berumah tangga, kemampuan mengelola keuangan menjadi hal yang sangat penting karena kebutuhan dan keinginan yang perlu dipenuhi bukan lagi hanya untuk diri sendiri, melainkan untuk seluruh anggota keluarga.


Dana darurat pun menjadi hal yang sangat krusial dalam keuangan rumah tangga. Seperti biasa, dana darurat sangat berguna untuk memenuhi keperluan-keperluan tak terduga yang selalu menjadi kejutan dalam kehidupan.

Setiap bulan, aku selalu berusaha menyisihkan sekian persen dari uang bulanan yang dikirim suami untuk dialokasikan sebagai dana darurat. Aku juga selalu berharap dana darurat yang kukumpulkan bisa berubah menjadi tabungan, walaupun faktanya uang tersebut selalu ada saja manfaatnya, menyelesaikan tugas yang berat.

Tugas Berat Menanti Dana Darurat


Seperti bulan lalu. Sebuah kejadian mistis terjadi di ruang tengah rumah kami. Jum'at malam itu, suami tengah asyik menonton TV sambil menemani anak kami bermain balok. Sedangkan aku sedang berada di dapur malam itu. Tiba-tiba saja sebuah kejadian aneh muncul dari TV kami. Layar TV yang awalnya begitu menyala terang normal, tiba-tiba saja meredup perlahan menyisakan layar hitam dan suara.

Kenapa?. Satu kata yang kudengar keluar dari mulut suami. Berbeda dengan anakku yang mulai panik melihat kondisi TV yang menghitam itu. Sejauh ini, anakku memang tipe anak yang cukup ekspresif dalam menghadapi ragam situasi.

Tampak suamiku mengecek kondisi TV kami yang masih bersuara dengan layar hitam itu. Rasanya seperti sedang mendengarkan radio saja. Anak kami mulai menangis melihat layar TV yang tak kunjung menyala.

Aku berusaha menenangkan anak kami yang menangis, sambil memberi pengertian padanya. Alhamdulilah dia mengerti dan berhenti menangis. Berhubung jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam, kuajak anak bersiap untuk tidur, mulai dari pipis, sikat gigi, lalu berganti pakaian. Kebetulan pakaiannya cukup basah oleh keringat.

Keesokan harinya, suami coba menyalakan TV kembali dengan harapan layar TV akan menyala normal seperti sediakala. Namun, sayangnya kondisi TV tetap sama seperti semalam, hanya bersuara dengan layar yang masih hitam.

Hidup di era digital memang sangat memudahkan manusia dalam memperoleh ragam informasi, termasuk informasi seputar permasalahan pada TV kami. Melalui beberapa platform digital seperti Mbah Google yang sudah sangat familiar ini, Chatgpt yang sudah kuanggap seperti teman curhat, serta kanal Youtube yang dilengkapi dengan berbagai video tutorial, kami mendapatkan informasi bahwa lampu backlight pada TV kami sudah usang alias mati, perlu diganti.

Meskipun masalah ini sebenarnya bisa ditangani sendiri dengan membeli lampu backlight yang sesuai merek dan tipe TV, lalu memasangnya bermodalkan video tutorial di YouTube tanpa perlu mengeluarkan banyak biaya, aku memilih untuk tidak mengambil risiko. Apalagi, belum tentu TV bisa kembali menyala dengan baik, sementara suamiku juga tidak terlalu mahir dalam urusan bongkar pasang elektronik.

Akhirnya kami memilih untuk menghubungi jasa service elektronik. Kebetulan beberapa hari sebelumnya aku menemukan brosur iklan jasa service elektronik di depan pagar rumah. Berhubung alamatnya tidak begitu jauh dari rumah, suamiku mencoba menghubungi nomor kontak yang tertera di brosur itu. Akan tetapi, tidak ada respon.

Proses Mengajukan Pengaduan Ke Panasonic Service Center 


Setelah aku dan suami berdiskusi, kami memutuskan untuk menghubungi Service Center dari merek TV yang kami pakai yaitu Smart TV Panasonic. Alhamdulillah Panasonic Service Center tersedia di daerah Bogor. Berdasarkan informasi yang kami dapat dari Mbah Google, lokasinya berada tidak begitu jauh dari tempat tinggalku. Meski ada keraguan dalam hati karena di sana tertera keterangan 'Tutup Sementara'. Mungkin karena weekend, pikirku saat itu.

Suamiku menghubungi nomor kontak Panasonic Service Center yaitu 08111660770. Nomor ini merupakan nomor chatbot whatsapp Panasonic Service Center. Seperti biasa yang namanya chatting dengan chatbot isinya hanya sebatas menjawab pertanyaan template yang diajukan. Setelah itu, barulah customer diarahkan untuk berkomunikasi langsung dengan pihak Customer Service untuk dibuatkan laporan.

Dalam pembuatan laporan, customer diminta mengisi informasi data diri, spesifikasi elektronik yang dilaporkan, mulai dari merek, model, tanggal pembelian, nomor seri, status garansi, nomor garansi, serta kendalanya. Setelah semua data diisi, maka dibuatkanlah laporan pengaduan masalah TV kami. Selanjutnya kami diminta untuk menunggu proses selanjutnya.

Aku dan suami menunggu kabar selanjutnya dari Panasonic Service Center yang sampai hari senin belum muncul juga. Aku juga membaca beberapa ulasan yang kudapat dari Mbah Google mengenai Panasonic Service Center area Bogor yang mayoritas memberi rating kurang memuaskan. Tak sedikit yang mengeluhkan respon yang lambat, kemudian tidak tersedianya spare part sehingga harus menunggu lebih lama, belum lagi masalah pasca service, dan lain sebagainya.

Meskipun begitu, bukan berarti pelayanan Panasonic Service Center Bogor selalu negatif, ada juga yang memberi ulasan baik. Akan tetapi, sebagai customer yang baru saja membaca ulasan-ulasan negatif, aku sedikit ragu dengan laporan yang dibuat kemarin.

Hari senin itu sekitar jam dua belas siang, aku coba menghubungi kembali chatbot whatsapp. Berniat untuk melakukan laporan ulang, tapi menggunakan nomor kontak pribadiku.

Proses chatting berlangsung seperti sebelumnya. Customer Service kembali meminta aku untuk mengisi form data diri dan data elektronik yang hendak dilaporkan. Berhubung aku malas mengisi data tersebut, sementara ada beberapa poin yang tak kuketahui juga, akhirnya aku bilang bahwa aku sudah membuat laporan pada hari sabtu lalu dan ingin bertanya kelanjutannya.

Customer Service mengecek sekaligus memverifikasi laporan yang telah kubuat sebelumnya. Setelah laporan pengaduan tervalidasi, Customer Service menginformasikan bahwa statusnya sedang dalam estimasi kunjungan teknisi pada hari kerja, tidak terhitung Sabtu-Minggu dan libur nasional. Sedangkan jadwal kunjungan akan ditentulan oleh kantor teknisi yang bersangkutan.

Setelah mengakhiri chatting dengan chatbot whatsapp, tak lama kemudian sebuah pesan masuk ke akun whatsapp milikku. Pesan dari admin Panasonic Service Center Bogor untuk menindaklanjuti laporan pengaduan yang telah dibuat. Dalam pesan tersebut juga disampaikan jadwal kunjungan teknisi yang akan dilaksanakan esok hari, berikut rincian biaya transportasi sebesar Rp. 30.000,- dan biaya pengecekan sebesar Rp. 80.000,-/unit.

Jika unit masih dalam masa garansi, perlu disiapkan kartu garansi, serta kwitansi pembelian unit. Customer tidak akan dikenakan biaya alias free. Sayangnya, TV kami statusnya sudah lewat masa garansi, sudah lima tahun pemakaian.

Sebelum mengakhiri sesi chatting, admin Panasonic Service Center Bogor meminta share lokasi untuk memudahkan proses kunjungan teknisi esok hari.

Kunjungan Panasonic Service Center Bogor


Keesokan harinya, tepatnya Selasa. Aku meminta suami untuk mengajukan cuti kerja. Selain karena aku tak begitu mengerti masalah TV, hal ini kulakukan untuk menghindari fitnah bilamana teknisi yang berkunjung kerumah adalah seorang laki-laki, mengingat aku hanya berdua dengan anak di rumah.

Selasa siang, sekitar bakda Dzuhur, sebuah pesan singkat masuk ke akun whatsapp milikku. Pesan dari pihak teknisi Panasonic Service Center menginformasikan bahwa mereka sedang on the way menuju ke rumah kami.

Kurang lebih dua puluh menit kemudian, mobil teknisi Panasonic Service Center sudah terparkir di depan rumah. Ternyata ada dua orang yang turun dari mobil, seorang wanita sebagai admin, dan satunya lagi pria sebagai teknisinya.

Sumber Masalah pada Smart TV


Singkat cerita, TV kami mulai dicek kondisinya. Memang benar, layarnya masih menyala dan bersuara, hanya saja tidak tampak gambar di sana. Hal seperti ini biasanya dikarenakan lampu backlight yang sudah usang dan perlu diganti. Begitu kata teknisinya. Kemudian, TV kami dibongkar. Lampu backlight TV dicek menggunakan alat yang tak kuketahui namanya, dan memang kondisinya sudah tak menyala.

Teknisi itu menjelaskan secara singkat penyebab lampu backlight TV cepat mati atau rusak, diantaranya adanya ketidakstabilan jumlah voltase yang diterima oleh TV, penggunaan TV yang terlalu lama sampai berjam-jam, serta cara mematikan TV yang kurang tepat, seperti hanya mematikan TV menggunakan remote tanpa mencabut kabel TV.

Harga Lampu Backlight Panasonic dan Biaya Jasa Panasonic Service Center Bogor


Admin Panasonic Service Center Bogor menawarkan kepada kami apakah lampu backlight TV mau langsung diganti atau tidak?. Jika iya, lampu backlight TV akan langsung dipasang hari itu dengan dikenakan biaya sebesar Rp. 700.000,-. Biaya tersebut sudah termasuk biaya transport, biaya pengecekan, biaya pemasangan, dan biaya lampu backlight TV itu sendiri.

Awalnya ragu. Kami sempat berpikir untuk menjual TV tersebut, lalu membeli unit TV yang baru. Namun, setelah berdiskusi singkat, akhirnya kami putuskan untuk mengganti lampu backlight TV saja, kebetulan kondisi LCD TV kami saat itu masih bagus. Kecuali jika LCD TV rusak juga, mungkin kami lebih memilih untuk membeli TV baru setelah mengetahui harga LCD TV yang menyentuh harga nyaris dua juta rupiah seperti yang disampaikan oleh teknisi.

Setelah memakan waktu kurang dari satu jam, proses bongkar pasang TV pun sudah selesai. Saatnya TV diuji coba, dan alhamdulillah layar pada TV kembali menampilkan gambar seperti biasa, hanya saja basic warna lampu yang ditampilkan agak sedikit berbeda dari sebelumnya. Kali ini seperti ada sedikit nuansa kekuningan. Mungkin karena adanya perbedaan tipe lampu. Kebetulan saat mengisi data unit TV pada formulir pengaduan, aku tidak mengisi data unit TV secara detil. Tapi, hal ini bukan masalah. Justru yang menjadi masalah baru yaitu layar LCD TV kami.

Anomali Pasca Service Smart TV Panasonic


Suamiku menyadari adanya anomali pada layar LCD TV kami. Tampak ada garis hitam di ujung atas sebelah kanan layar. Belum sempat suami membuka mulut untuk melakukan komplain karena sebelumnya tidak ada garis hitam pada layar TV kami, tapi teknisi itu lebih dulu bersuara.
"Wah, Pak, ini LCD-nya kena juga. Tuh, ada retakan di sini."
Begitu katanya, sambil menunjuk ke arah yang dimaksud.

Teknisi itu juga sempat bercerita bahwa pernah ada kejadian customer komplain karena layar TV-nya bergaris pasca service, mungkin seperti yang terjadi pada TV kami. Kemudian, menurut pengakuannya bahwa TV customer tersebut mungkin sudah bermasalah pada LCD-nya sebelum dilakukan service.

Mendengar pengakuan dari teknisi, suamiku jadi bingung untuk berkomentar. Teknisi itu seolah membuat klarifikasi sebelum suamiku melakukan komplain atas garis hitam yang memang baru muncul hari itu pada layar TV kami pasca service. Tak hanya teknisi, admin pun menimpali hal ini. Admin itu mengira bahwa kemungkinan retakan yang ada pada layar TV kami disebabkan oleh benturan atau lemparan benda ulah anak kami saat bermain.

Anak kami memang masih balita yang tengah aktif-aktifnya, dan posisi TV kami itu menempel di dinding dengan jarak yang memang sulit dijangkau oleh anak balita. Sementara anak balita kami pun tidak punya ketertarikan untuk memukul-mukul TV yang sulit dia jangkau, apalagi melempar benda apapun ke arah TV, dan aku sebagai ibunya yang selalu membersamainya setiap waktu bisa pastikan itu.

Disamping itu, aku dan suami juga sangat yakin bahwa terakhir kali kami melihat layar TV, kondisinya normal, tak ada garis atau retakan apapun, hanya layarnya yang tiba-tiba mati karena lampu backlight yang sudah tak berfungsi. Jika memang retakan dan garis hitam itu sudah ada sebelumnya, anak kami yang observatif ini pasti sudah menyadari dan mempertanyakannya. Seperti saat ini, dia pun mempertanyakan 'kenapa ada hewan serangga di TV?'. Dia pikir garis hitam tersebut adalah hewan serangga yang tengah hinggap di layar TV.

Seperti customer pada umumnya, aku dan suami menduga bahwa retakan ini muncul karena human error saat melakukan bongkar pasang TV oleh teknisi. Sedangkan teknisi dan admin berpendapat bahwa LCD TV kami sudah retak sebelum dilakukan service.

Wallahu a'lam. Kami juga tak punya bukti kuat untuk hal ini. Yang bisa kami lakukan hanyalah menerima kondisi terbaru TV kami yang manfaatnya masih bisa kami rasakan.
"Garisnya kecil, nggak begitu mengganggu." Kurang lebih seperti itu yang diucapkan oleh admin. Memang benar, saat itu garisnya kecil kurang lebih sepanjang satu senti dan posisinya berada diujung, tidak begitu menghalangi tampilan layar. Namun, seiring berjalannya waktu, sekitar satu bulan kemudian, retakan itu mulai memanjang, garis hitamnya bertambah menjadi kurang lebih lima senti.

Dana Darurat Komponen Krusial


Selasa siang itu, tepatnya sekitar jam dua, teknisi dan admin Panasonic Service Center Bogor berpamitan setelah TV kami terpasang kembali di tempatnya, dan suamiku telah menyelesaikan transaksi pembayaran atas jasa service senilai Rp. 700.000,- via transfer.

Alhamdulillah pengeluaran tak terduga di tengah bulan. Seperti inilah gambaran pernak-pernik keuangan rumah tangga, membuktikan dimana keberadaan dana darurat itu sangat krusial.

Aku dan suami juga mengucapkan terima kasih atas pelayanan yang diberikan oleh Panasonic Service Center Bogor yang menurutku cukup baik dan cepat dalam merespon pengaduan customer.

Fyi, berdasarkan penjelasan dari admin yang berkunjung ke rumah, kecepatan proses respon tindak lanjut dari laporan pengaduan customer dipengaruhi oleh faktor lokasi customer dan respon balik customer itu sendiri. Panasonic Service Center Bogor biasanya mendahulukan mengunjungi customer yang berlokasi tidak jauh dari kantornya, serta customer yang mudah dihubungi.

Perihal lokasi Panasonic Service Center Bogor yang berdasarkan data Mbah Google 'tutup sementara' yang kuceritakan di atas ternyata benar. Bukan lagi tutup sementara, melainkan tutup selamanya. Panasonic Service Center Bogor sudah pindah lokasi yang saat ini data di Mbah Google belum update.

Seperti itulah Diaris, pengalamanku menggunakan jasa service Panasonic Service Center Bogor. Semoga bermanfaat. Terima kasih sudah membaca diary-ku.














Komentar

Postingan populer dari blog ini

Muntah darah saat hamil trimester pertama, mungkin ini penyebabnya...

Assalamu’alaikum…. Muntah darah. Kok ngeri ya judulnya berdarah-darah. Jadi, ini adalah pengalaman pertamaku menjalani kehamilan. Seperti wanita-wanita hamil pada umumnya yang mengalami morning sickness yaitu suatu kondisi dimana wanita hamil merasa mual dan muntah pada trimester pertama. Memang tidak semua wanita hamil mengalaminya, tapi morning sickness wajar dirasakan oleh wanita hamil karena adanya peningkatan hormon beta HCG . Berdasarkan informasi yang didapat dari Halodoc.com, kondisi tersebut dikatakan normal dan pertanda baik karena mengindikasikan adanya plasenta yang tumbuh dengan baik dan normal.  Meski begitu, morning sickness bisa saja mengganggu aktivitas sehari-hari bahkan dapat membahayakan jika mual dan muntah dirasa berlebihan, seperti yang pernah kualami di trimester pertama. Jika dilihat dari kalimatnya, morning sickness harusnya terjadi pada pagi hari. Namun, kenyataannya dapat dirasakan dalam beragam waktu, entah itu pagi, siang, sore atau malam. Aku...

Pengalaman lahiran normal anak pertama di Rumah Sakit

  Assa lamu’alaikum… Dear diary. Kali ini aku hanya ingin berbagi cerita tentang pengalaman melahirkan anak pertama di rumah sakit dengan harapan ada manfaat yang bisa diambil dari pengalaman pertamaku ini. Kenapa Rumah Sakit? Sebelum memilih rumah sakit, aku mengunjungi bidan terlebih dahulu untuk memastikan di dalam rahimku ada calon bayi setelah kuyakin dengan benar test pack  yang kupakai bergaris dua, tapi di sana aku tidak mendapatkan apa-apa selain hasil tensi darah bahkan bu bidan tak menyentuh perutku sama sekali karena alasan usia kandunganku terbilang masih sangat muda, “belum kepegang” begitu katanya. Dia juga bilang bisa saja aku menstruasi lagi dan menyarankan untuk berkunjung lagi bulan depan. Kondisiku makin hari makin nggak karuan. Aku mulai merasakan pusing, mual, muntah hingga badan terasa lemas. Tak tahan rasanya jika harus menunggu hingga bulan depan. Kuputuskan untuk periksa ke dokter saja sekalian USG dan siapa tahu dikasih vitamin atau obat pereda rasa ...

Review BREYLEE BLACKHEAD MASK STEP 1 : Jagonya angkat komedo

Bismillaahirrahmaanirrahiim Hai dears, tampil cantik selalu menjadi salah satu keinginan seorang perempuan walaupun cantik itu relative yang artinya setiap perempuan memiliki standar kecantikan yang berbeda tentunya. So, menurutku kecantikan seorang perempuan itu tak bisa disamaratakan ya. Dikarenakan wajah menjadi salah satu parameter kecantikan seorang perempuan sehingga   wajah yang good looking selalu diidamkan setiap perempuan. Tak harus seperti artis Korea yang shining, shimmering, splendid, and glowing , tapi bersih dari jerawat dan komedo pun sudah sangat disyukuri seperti aku yang dari dulu selalu menginginkan wajah yang bersih dari komedo di area hidung yang agak mengganggu, hehehe. Tak sedikit produk skincare penghilang komedo yang berseliweran di iklan telah kucoba, mulai dari bentuk krim, sabun, dan berupa kertas pernah kucoba, tapi hasilnya   kurang memuaskan karena komedo tak terangkat tuntas terutama komedo yang sudah mulai menghitam, curiga takutnya ...