Sebelum aku lanjut nulis, aku mau ucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri untuk Diaris semuanya, walau telat ya. Semoga bulan Ramadan tahun ini menjadikan kita semua lebih baik lagi dari sebelumnya. Amiin.
Bulan Maret udah berakhir aja nih, dan aku baru mulai nulis lagi. Bulan Maret tahun ini adalah bulan dimana blogku terbengkalai karena sepi tulisan. Padahal rencana awalnya, selama bulan Ramadan kemarin aku ingin produktif nulis, biar blogku nggak berkarat.
Aku jadi kangen ikutan challenge menulis selama Ramadan. Dulu, aku pernah ikutan challenge semacam ini yang diadakan oleh Blogger Perempuan Network. Rasanya senaaaaang banget. Selain dapat merchandise, blogku juga menelurkan belasan tulisan dalam satu bulan yang mana itu sangat jarang terjadi.
Blogku ini bisa dibilang gersang tulisan. Bisa mempublish satu artikel dalam waktu satu minggu aja merupakan sebuah prestasi bagiku. Seringnya sebulan hanya menelurkan satu tulisan. Bukan karena malas, tapi aku memang agak kesulitan mendapatkan waktu untuk menulis akhir-akhir ini, tepatnya sih setelah anakku tumbuh menjadi balita (hihihi).
Menulis sebuah artikel yang walaupun isinya cuma curhatan, bagiku itu susah-susah gampang. Perlu konsentrasi yang serius, apalagi dengan harapan isi curhatannya bisa memberi manfaat bagi pembaca. Maklum, masih blogger amatiran.
So aku perlu waktu khusus tanpa distraksi agar bisa menulis curhatan yang bermanfaat. Tapi, sejak anakku mulai tumbuh menjadi balita yang aktif dan sudah mulai jarang tidur siang, aku merasa kesulitan mendapatkan waktu itu.
Sebagai ibu rumah tangga, keseharianku sibuk mengerjakan pekerjaan rumah dan mengasuh anak balita. Rasanya sulit mendapatkan waktu senggang. Ditambah lagi suami mulai masuk kantor setelah bertahun-tahun WFH. Kesibukanku sebagai ibu rumah tangga semakin terasa padatnya karena kesempatan suami membantu pekerjaan rumah jadi terbatas, hanya saat malam hari dan weekend aja.
Awalnya, aku cukup happy dengan rutinitas baruku pasca suami masuk kantor lagi. Rasanya seperti menemukan kegiatan baru, meski waktu luangku makin menipis. Jangankan untuk nulis, sekadar ingin rebahan pun rasanya sulit. Entahlah, kenapa pekerjaan rumah tak ada jedanya ya?. Bisa sih, kalau aku sempatkan waktu. Aku bisa nulis disaat aku punya waktu untuk rebahan, itu pun kalau anak balita tengah enjoy dengan dunianya, tak jarang dia ikut nimbrung saat aku buka laptop atau pun buka ponsel.
Meski waktu luangku menipis, tapi alhamdulillah sejak kesibukanku yang dar-der-dor itu, aku jadi mudah tertidur pulas saat malam hari, nggak ada drama insomnia seperti sebelumnya. Mungkin karena badanku terasa capeeeeeeek puoooolll kali ya.
Bulan Ramadan tahun ini merupakan bulan ramadan pertamaku dengan ritme rumah yang padat. Waktu suamiku masih WFH, biasanya kami bergantian memasak untuk sahur dan berbuka. Namun kali ini, aku yang sepenuhnya menyiapkan sahur sekaligus memasak untuk berbuka.
Kasihan juga suami kalau harus membantu memasak sahur, karena dia harus berangkat ke kantor pagi-pagi. Biarlah dia tidur yang cukup. Sedangkan aku yang sehari-hari di rumah, berharap masih bisa menambah jam tidur setelah suami berangkat kerja. Itu pun kalau anak balita kami masih terlelap.
Namun, faktanya selama bulan Ramadan kemarin aku benar-benar kurang tidur. Niat hati ingin tidur lagi setelah suami berangkat kerja, tapi mata ini sulit terpejam padahal ngantuk, anak balita juga masih tidur.
Entahlah, pikiranku nggak rileks, kepikiran belum kerjakan ini dan itu. Tak jarang aku oleng saat siang hari, pusing karena ngantuk. Dan kesalnya lagi, rasa kantuk itu benar-benar muncul di siang hari, saat anak balitaku lagi asyik-asyiknya bermain dan selalu minta ditemani.
Awalnya aku mencoba berdamai dengan rutinitas yang dar-der-dor dan kurang tidur berhari-hari, tapi lama-lama badanku mulai berontak, lalu benar-benar ambruk dipertengahan bulan Ramadan kemarin.
Bermula dari suami yang sepulang kerja mengeluhkan dirinya terkena flu, tenggorokannya gatal, hidungnya mulai meler. Entahlah ini virus flu keberapa yang hinggap di tubuhnya. Sejak suamiku masuk kantor, bolak-balik Jakarta-Bogor naik KRL setiap hari, dia jadi sering terkena flu. Hampir setiap bulan rasanya. Mungkin capek kali ya, imunnya jadi goyah, ditambah lagi perubahan cuaca yang subhanallah.
Setiap kali suami terserang flu, rasanya hampir pasti virusnya berkeliling ke seluruh penghuni rumah. Meski begitu, biasanya batuk pilek yang kami alami tidak terlalu parah, tidak sampai membuat kami demam.
Namun, pada pertengahan Ramadan kemarin, kami sekeluarga benar-benar ambruk. Awalnya suamiku yang terserang flu disertai demam hingga harus berobat. Setelah kondisinya mulai membaik, meski batuknya masih bledag-bledug, gantian aku yang tumbang.
Dimulai dengan tenggorokan gatal, hidung meler, disusul dengan badan yang nggreges, meriang gitu, rasanya dingiiiiiin banget, badan pun mulai terasa hangat-hangat. Saat cek suhu tubuh menggunakan termometer, suhu tubuhku ada diangka 37 koma sekian derajat celsius. Pantas saja badan rasanya nggak karuan, sendi-sendi juga mulai terasa sakit, napasku mulai panas, begitu pun dengan kedua mataku. Ciri khas banget kalau lagi demam.
Meski badanku mulai nggak karuan, selama masih bisa berdiri, aku tetap beraktivitas selama di rumah. Mau bagaimana lagi? Suamiku kerja, di rumah hanya ada aku dan anak balita yang bergantung padaku. Aku mengasuh anak, antar anak les, cuci piring, dan sebagainya. Aku juga masih puasa karena kurasa masih kuat, bahkan tanpa minum obat demam.
Kupikir demamnya nggak akan berlangsung lama, paling hanya 24 jam. Tapi, dugaanku salah, demam berlanjut sampai berhari-hari. Akhirnya, mau nggak mau aku pun pergi berobat, aku harus sehat ditengah aktivitas yang dar-der-dor ini. Ditambah lagi beberapa hari lagi kami sekeluarga berencana untuk mudik.
Qodarullah setelah aku berobat dan badanku masih belum pulih juga, esok harinya anak balitaku yang berkunjung ke dokter karena dia juga demam, dan panasnya masih naik turun sudah hampir tiga hari. Dia juga mengeluh badannya terasa sakit. Alhamdulillah, Masya Allah Tabarakallah, Ramadan tahun ini keluarga kecil kami diberi nikmat sakit.
Puncak bulan Ramadan semakin mendekat. Tapi, badan ini masih belum stabil juga. Aku mulai bingung apakah tetap mudik atau nggak?, bahkan aku punya rencana ziarah ke makam mama karena tahun kemarin kami tidak ziarah yang alasannya sudah pernah diceritakan di diary sebelumnya.
Untung saja tahun ini nggak ada agenda masak-masak menu lebaran seperti tahun sebelumnya. Duh, rasanya badanku nggak sanggup melakukan itu semua. Penginnya tuh rebahaaaaaan aja.
Qodarullah bapak juga terkena asam lambung sejak sebelum bulan Ramadan. Hal itu mengharuskan beliau lebih menjaga asupan makanannya. Ramadan tahun ini beliau tidak makan sayur kari iga, pun dengan sambal goreng kentang.
Awalnya, kakakku berencana untuk tetap memasak menu lebaran yang berbeda saat di rumah bapak nanti. Kakakku ingin membuat sup daging sapi untuk bapak, serta semur daging sapi dan sambal goreng kentang sebagai pelengkapnya. Namun qodarullah lagi, kakakku dan suaminya juga sakit saat menjelang mudik sehingga harus menunda waktu keberangkatan.
Duh, rasanya aku nggak sanggup kalau harus belanja dan masak tiga menu seorang sendiri dengan kondisi badan yang masih nggak karuan. Alhamdulillah bapak mengerti kondisi anak-anaknya.
Tiga hari menjelang lebaran, aku dan suami memutuskan untuk mudik. Hari itu demamku udah nggak naik lagi, tapi badan rasanya masih lemaaaasss banget. Anak balitaku juga kesehatannya sudah membaik, hanya saja dia masih belum nafsu makan.
Hari itu, rabu pagi, suamiku sibuk menyiapkan pakaian yang akan kami bawa selama mudik nanti. Dia juga sibuk mencuci baju, membereskan rumah, siapkan koper, dan lain sebagainya. Tampaknya suamiku begitu bersemangat mudik (wkwkwk), beda dengan aku yang masih leyeh-leyeh dengan badan yang lunglai, rasanya seperti habis hiking jauuuuh berkilo-kilo meter. Pun dengan anak balitaku yang uring-uringan karena nggak mau diajak mudik. Butuh sedikit waktu untuk memberi pengertian pada si anak balita agar dia mau ikut mudik.
Aku jadi ingat dulu waktu masih kecil. Aku selalu malas kalau diajak mudik lebaran ke rumah nenek (ibu dari bapakku). Selain aku nggak betah di sana, akses jalan menuju kesana pun cukup menguji kesabaran. Banyak jalan-jalan yang rusak dan berkelok-kelok, tak jarang membuat kepala pusing dan akhirnya mabuk perjalanan.
Namun, aku nggak tahu apa yang dipikirkan oleh anak balitaku. Mungkin dia belum paham mudik itu apa. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, dia memang selalu menolak saat diajak mudik, tapi setelah sampai di TKP biasanya dia enjoy and happy.
Setelah selesai berkemas, dan anak balita juga sudah setuju bahwa hari itu akan mudik, kami pun akhirnya berangkat mudik ke Sukabumi sekitar Bakda Ashar.
Destinasi Mudik Lebaran Tahun 2026
Perjalanan mudik dari Bogor ke Sukabumi sebenarnya tidak begitu jauh, apalagi ke rumah mertua yang bisa ditempuh kurang lebih 2 jam perjalanan dengan catatan lewat tol dan tanpa ada macet sama sekali. Hanya saja namanya momen mudik, sulit rasanya menghindari macet, apalagi menjelang lebaran. Pasti ada tersendatnya.
Rumah Mertua
Seperti biasa, destinasi pertama yang dituju saat mudik adalah rumah mertua. Sekitar jam 5 sore lewat dikit, kami tiba di rumah mertua. Pas banget, bentar lagi waktu berbuka walaupun aku nggak puasa karena berhalangan khas perempuan.
Sore itu, rumah mertua tampak sepi, hanya ada mama dan bapak mertua, lalu bapaknya mama mertua yang sudah lansia. Sedangkan keluarga kakak iparku sedang menginap di rumah mertuanya hingga lebaran nanti. Yaaa.. anak balitaku nggak ada teman main deh, biasanya dia main bersama sepupu-sepupunya, anak-anak dari kakak iparku.
Aku menginap di rumah mertua untuk sekadar beristiraha sebelum berkunjung ke rumah orang tuaku yang jaraknya tak jauh, bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 30 menit aja. Jujur, badanku masih lemas.
Alhamdulillah aku punya mertua yang baik. Setiap berkunjung ke rumahnya, aku merasa seolah punya waktu untuk sendiri yang bisa kupakai untuk menulis, atau sekadar rebahan (rebahan mulu sih). Mertuaku nggak pernah mengomentari tingkah laku menantunya yang pemalas ini (hihihi).
Nggak kok, aku nggak pemalas, cuma memang mertuaku yang terlalu rajin (hihihi). Sesekali aku juga bantu pekerjaan rumah yang memang sekiranya bisa aku lakukan, misalnya cuci piring bekas kami makan, atau sekadar jemur pakaian kalau kebetulan belum dijemur mama mertua karena beliau pergi ke pasar dulu. Intinya, sejauh ini beliau selalu memberi kebebasan padaku saat tinggal di sana. Mungkin karena beliau punya anak perempuan juga kali ya, makanya beliau ingin memperlakukanku sama.
Rumah Bapak
Setelah sempat menginap di rumah mertua, keesokan harinya—H-1 Lebaran—aku, suami, dan si kecil berangkat ke rumah Bapak. Seperti biasa, kami merayakan Hari Raya Idulfitri di sana.
Sejujurnya, ada rasa tidak enak hati kepada mertua. Sudah beberapa tahun terakhir kami memang lebih sering berlebaran di rumah Bapak. Tahun ini pun kakak iparku memilih merayakan Lebaran di rumah mertuanya, sehingga rumah mertua terasa lebih sepi—meski tidak benar-benar sunyi.
Sementara itu, rumah Bapak jauh lebih lengang. Sejak Mama meninggal, beliau tinggal seorang diri, meski rumahnya bersebelahan dengan rumah adiknya.
Setiap Ramadan, aku selalu meminta kepada suami agar kami menginap di rumah Bapak terlebih dahulu hingga hari Lebaran. Siang harinya, barulah kami kembali ke rumah mertua dan menghabiskan sisa waktu libur di sana. Dalam satu minggu masa libur, kami berusaha membagi waktu seadil mungkin—misalnya tiga hari di rumah orang tuaku dan tiga hari di rumah mertua.
Alasanku sederhana. Biasanya aku dan kakakku memasak menu Lebaran di rumah Bapak, sekaligus menemaninya agar tidak merasa terlalu sepi. Kebersamaan kecil itu terasa berarti.
Seperti tahun ini. Meski aku tidak memasak menu Lebaran selengkap biasanya, aku tetap bisa menyiapkan hidangan sederhana dengan bahan seadanya. Alhamdulillah, kakakku juga membawa semur daging yang sudah dimasaknya dari rumah sebelum mudik. Kami pun mendapat kiriman sambal goreng kentang, semur daging sapi, dan ketupat dari adik Bapak. Alhamdulillah wa syukurillah.
Selain itu, setiap Ramadan kami juga selalu mengagendakan ziarah ke makam Mama yang letaknya cukup jauh. Biasanya kami memilih berziarah sebelum hari Lebaran untuk menghindari kemacetan.
Ziarah Ke Makam Mama
Tahun 2025 lalu, menjelang bulan Ramadan bencana alam datamg siloh berganti, khusunya yang melanda daerah Sukabumi. Kampung halamanku menjadi salah satu daerah yang terdampak banjir. Air merendam rumah masa kecilku nyaris hingga ke atap. Benar-benar banjir terparah yang pernah aku tahu selama tinggal di sana.
Karena bencana yang cukup parah itu, banyak akses jalan terputus akibat banjir, longsor, dan pergeseran tanah. Jalan menuju kampung halamanku pun tak luput dari kerusakan. Itulah alasan mengapa tahun lalu aku tidak berziarah ke makam Mama. Aku tak ingin mengambil risiko.
Alhamdulillah tahun ini Allah SWT memberi kesempatan dan rezeki kepada kami untuk bisa berziarah ke makam mama, meski sebenarnya kondisi kami belum sepenuhnya pulih.
Usai Salat Id, kami langsung berangkat. Tahun ini sengaja kupilih waktu ziarah setelah Salat Id untuk menghindari kemacetan. Biasanya, sehari setelah Lebaran, jalanan akan dipenuhi wisatawan yang hendak menuju pantai. Ditambah lagi cuti Lebaran suamiku yang terbatas, sehingga kami tidak bisa leluasa menentukan hari seperti tahun-tahun sebelumnya.
Seperti biasa, perjalanan menuju makam Mama selalu terasa penuh perjuangan bagiku. Aku harus menahan pusing karena jalanan yang berkelok-kelok, ditambah kondisi jalan yang di beberapa titik masih rusak.
Kakakku menyarankan mencoba jalur lain, yakni Jalur Pantai Loji yang konon lebih indah dengan pemandangan laut di sepanjang perjalanan. Baiklah, pikirku. Kebetulan aku juga belum pernah melewati jalur itu.
Memang benar, sepanjang perjalanan kami ditemani hamparan pantai yang memanjakan mata. Namun, subhanallah… medannya membuatku rasanya tak ingin lagi melewati jalur tersebut. Sejak awal memasuki Jalur Pantai Loji, kami sudah disuguhi turunan panjang yang terasa meluncur. Sepanjang jalan yang dihiasi pemandangan laut itu, mulutku tak berhenti berdzikir. Tanjakan, turunan, tikungan tajam, semuanya datang tanpa jeda. Aku sempat membayangkan mobil yang kami tumpangi meluncur terlalu jauh. Ditambah lagi rutenya terasa lebih jauh dibanding jalur yang biasa kami lewati.
Aku tak ingat persis berapa lama perjalanan kami hari itu. Sekitar pukul sebelas siang, kami tiba di rumah masa kecilku. Rumah itu tampak berbeda—tak lagi terawat. Maklum, yang biasa merawatnya kini telah tiada, telah berada di tempat yang lebih damai. Aamiin. Terlebih lagi, rumah itu sudah dua kali terendam banjir bandang. Ya, memang tak lagi sama.
Sesampainya di sana, kami mengisi perut terlebih dahulu. Rasanya lapar sekali, sementara kami nggak bawa bekal. Untungnya ada kedai bakso dan mi ayam yang buka.
Usai makan siang, kami lanjutkan perjalanan ke makam mama. Kami berjalan kaki melewati pematang sawah yang membawa ingatanku kembali ke masa kecil. Aku jadi rindu masa-masa kecil saat masih ada Mama.
Aku jadi rindu.
Rindu berlari di pematang sawah, memetik jambu langsung dari pohonnya, menyaksikan para petani menanam padi, lalu ikut makan bersama mereka setelah selesai bekerja. Ah, suasana itu kini hanya tinggal kenangan. Semuanya telah berubah. Yang tersisa hanyalah serpihan memori masa kecilku di sana.
Nggak terasa kami sudah sampai di pusara mama. Di depan pusara Mama, kami membaca doa. Insya Allah Mama berada di tempat yang nyaman dan damai. Yang terbaring di bawah pusara itu hanyalah jasad yang pernah menjadi saksi perjalanan hidupnya. Tak ada air mata yang jatuh hari itu. Kami telah belajar ikhlas. Yang ada hanya doa-doa lirih dan harapan agar kelak Allah mempertemukan kami kembali dalam kedamaian.
Karena langit mulai mendung, kami memutuskan untuk segera pulang setelah menunaikan Salat Zuhur. Sekitar pukul dua siang, kami kembali menyusuri jalanan berkelok yang membuat perjalanan pulang terasa sangat panjang.
Entah mengapa, sesekali air mataku jatuh juga. Mungkin saat itu aku mulai menyadari bahwa hari ini akan menjadi kenangan di masa depan.
Maka, rangkailah momen indah setiap hari. Agar ketika esok tiba, kita tak perlu lagi menyesali yang telah berlalu. Kalaupun air mata tetap jatuh, semoga ia menjadi tangis bahagia.
Sore itu aku menikmati perjalanan dengan penuh rasa lelah. Terima kasih ya Allah, atas rezeki yang Engkau limpahkan di ramadan tahun ini, terima kasih pula untuk suamiku yang selalu menjadi donatur setia dalam setiap perjalanan kami, dan terima kasih untuk Diaris yang telah membaca diaryku.
Komentar
Posting Komentar