Happy New Year!!!!
Masih dalam suasana tahun baru dan libur panjang. Btw, Diaris pada liburan kemana nih?. Kalau aku seperti biasa, cuma stay di rumah alias nggak kemana-mana. Emang mau kemana sih?.
Dimalam pergantian tahun pun aku tidur seperti hari-hari biasanya, bedanya ditemani suara dar-der-dor kembang api, entah tetangga sebelah mana yang menyalakannya karena tetangga sekitar rumahku kayaknya pada tidur juga.
Entahlah, kayaknya setiap malam tahun baru aku nggak pernah merayakannya dalam bentuk apapun, nggak tertarik aja. Aku lebih suka menghabiskannya dengan tidur seperti biasanya, apalagi setelah seharian lelah dengan pekerjaan rumah dan membersamai balita, uh lebih enak tidur diawal waktu, walaupun besoknya hari libur.
Meskipun hari libur, dan suami stay di rumah, bukan berarti bisa bermalas-malasan. Aku tetap perlu mengerjakan pekerjaan rumah, mulai dari menyiapkan sarapan, khususnya untuk anak, sedangkan aku dan suami cukup beli nasi uduk aja, anakku nggak suka nasi uduk, lebih suka masakan orang tuanya (hihihi).
Setelah sarapan, aku menjemur pakaian yang telah dicuci semalam. Musim hujan gini, pakaian jadi susah keringnya, padahal udah pakai pengering mesin cuci. Pakaian berbahan tebal, seperti jeans tetap membutuhkan waktu yang lama agar kering sempurna.
Tiba-tiba Diajak Nonton Film Janur Ireng
Selagi aku merapikan pakaian yang telah kering, tiba-tiba terdengar notifikasi dari grup whatsapp. Ternyata grup teman-teman mainku semasa kuliah dulu. Seperti biasa, salah satu temanku, Agnes mengirim pesan berupa tawaran voucher tiket nonton bioskop. Ini kali kedua dia mengirimkan voucher semacam ini, tapi yang sebelumnya gagal dieksekusi karena kehabisan kuota.
Awalnya aku sungkan untuk nonton bioskop hari itu. Selain karena cuacanya hujan terus, seminggu yang lalu pun kami baru saja nongkrong temu kangen dengan teman-teman lainnya juga, aku agak nggak enak hati meminta izin lagi ke suami, walaupun suamiku baik dan pasti ngasih izin.
Tawaran voucher tiket nonton bioskop yang dikirim Agnes dapat respon antusias dari Caca, salah satu temanku di grup itu. Duh, aku jadi tergoda nih!. Ditambah lagi aku juga udah lama nggak nonton bioskop. Akhirnya aku coba minta izin ke suami untuk pergi nonton bioskop bersama teman-teman kuliah. Seperti biasa tanpa nganu-nganu, suamiku langsung mengizinkan.
Setelah dapat izin dari suami terbaikku, aku segera menginfokan di grup bahwa aku juga mau ikut. So dipesanlah tuh tiket untuk tiga orang dengan masing-masing harga 12,5ribu rupiah. Untuk harga normal tiket 60ribu rupiah. Dengan voucher itu, kami bisa nonton bioskop dengan harga 12,5ribu rupiah aja, murce banget. Hanya saja berlaku untuk film-film tertentu. Film yang akan kami tonton hari itu film horor Indonesia berjudul Janur Ireng di Mall Botani Square jam 13.05 WIB.
Berhubung tiket sudah dipesan, dan sedang dimusim penghujan, kami memutuskan untuk pergi ke Mall Botani Square lebih awal. Sayang kalau sampai nggak jadi berangkat karena kejebak hujan (hihihi). Kebetulan di daerah rumahku sudah mulai mendung.
Aku segera bersiap-siap, mulai dari menyelesaikan sisa pekerjaan rumah, mandi, lalu berangkat deh di jam 11.15 WIB. Semangat banget yaa.
Agnes udah sampai lebih dulu Mall Botani Square, lalu 10 menit kemudian disusul aku. Berhubung sebentar lagi masuk waktu Dzuhur, aku memutuskan pergi ke musholla terlebih dahulu untuk menunggu dan melaksanakan shalat Dzuhur. Berharap mushollanya belum terlalu ramai, jika aku kesana lebih awal. Eh tapi, ternyata siang itu mushollanya tampak ramai, meski masih dikatakan aman sih, nggak sampai desak-desakan. Alhamdulillah.
Usai shalat Dzuhur, aku segera menemui Agnes yang sedang menunggu di bioskop. Siang itu, bioskop cukup ramai pengunjung. Maklum, hari libur tahun baru, dan masih suasana libur panjang juga. Sambil menunggu Caca yang katanya masih otw, aku dan Agnes pergi untuk mencetak tiket. Alhamdulillah, kami berhasil mendapatkan tiga tiket nonton untuk film Janur Ireng.
Sekitar jam 12.30 WIB, Caca pun tiba di TKP bersama si kecilnya, Nanay. Awalnya aku agak ragu sih dengan kelakuan si Caca ini nonton bioskop bawa anaknya yang belum setahun itu. Bayangkan aja, anak dibawah setahun berada di dalam bioskop yang pasti bising kan, apalagi ini film horor yang akan ditonton. Pasti banyak jumpscare. Orang dewasa aja sering kagetan, apalagi bocah segede gitu, takut mengganggu indera pendengarannya juga. Tapi, balik lagi ya ke si Caca sebagai ibunya. Dia lebih tahu kondisi anaknya.
Berhubung masih setengah jam lagi menuju waktu film tayang. Kami menunggu sambil mengobrol tipis-tipis membahas dinamika kehidupan masing-masing (wkwkwk), hingga tanpa terasa studio dimana kami akan menonton telah dibuka. Kami segera masuk, lalu duduk di kursi yang telah kami pilih.
Lucu sih, lihat Nanay. Dia anteng banget di dalam bioskop. Dia celingak-celinguk memerhatikan situasi di dalam bioskop sambil sesekali mimik. Kupikir dia bakal nangis mendengar suara yang nggak ada smooth-smoothnya itu. Bahkan saat lampu mulai dimatikan pun, dia masih anteng aja hingga film Janur Ireng itu mulai diputar.
Sinopsis Film Janur Ireng
Film Janur Ireng adalah film adaptasi dari novel horor karya penulis Sipleman. Film ini juga merupakan prequel dari film Sewu Dino yang telah tayang sebelumnya. Duh, sebenarnya agak malas nih nonton film prekuel kayak gini, suka jadi penasaran sama film sebelumnya.
Film Janur Ireng diawali dengan kisah dua kaka beradik bernama Sabdo dan Intan. Mereka hidup hanya berdua di sebuah rumah yang sangat sederhana. Diketahui bahwa otang tua mereka telah meninggal dunia. Namun, meski hidup sangat sederhana dengan kondisi ekonomi yang sulit, mereka tampak bahagia dan saling mendukung satu sama lain, hingga sebuah kejadian memilukan mengganggu kebahagiaan mereka.
Pada suatu malam, rumah mereka mendapatkan teror yang entah darimana datangnya. Ditengah tidurnya yang lelap, Sabdo mendengar suara gaduh dari arah dapurnya. Kegaduhan yang berhasil membangunkan tidurnya, lalu memaksanya pergi ke dapur untuk memeriksa apa yang terjadi.
Suasana tampak gelap, hanya ada sedikit cahaya dari kilat-kilat diluar sana yang masuk ke rumahnya. Dengan cahaya seadanya, Sabdo melihat sosok seekor kambing bermata merah berada di dapurnya, tapi setelah diperiksanya dengan teliti, kambing itu menghilang, tersisa hanya kepala kambing yang jatuh dari langit-langit rumahnya.
Dengan penuh amarah, Sabdo pergi keluar rumah dengan membawa kepala kambing itu. Dia berniat mencari siapa yang telah melemparkan kepala kambing ke rumahnya. Selagi Sabdo berada diluar rumah, tiba-tiba rumahnya terbakar begitu saja tanpa menyisakan apapun.
Ditengah kesulitannya pasca kebakaran rumah, tiba-tiba muncul sosok Arjo yang menyebut dirinya sebagai kakak dari ayah Sabdo dan Intan. Arjo mengajak Sabdo dan Intan untuk tinggal bersama di rumahnya. Sabdo dan Intan yang saat itu tengah kebingungan pun mengiyakan ajakan Arjo. Inilah awal mula kejadian-kejadian mengerikan dimulai.
Di rumah Arjo yang tampak megah itu, menyimpan rahasia-rahasia mistis yang mengerikan. Banyak ritual-ritual aneh, serta teror yang mematikan di rumah itu hanya karena ambisi dan keserakahan. Lantas, bagaimana dengan Sabdo dan Intan yang terperangkap di rumah itu?. Diaris bisa nonton sendiri untuk tahu kelanjutannya.
Selama nonton film Janur Ireng ini, rasanya aku seperti nggak dikasih napas. Pembuka konflik sudah muncul sejak menit-menit awal bikin jantung dagdigdug, walau ada sedikit kebingungan sih dalam ceritanya selama menonton film ini. Mungkin karena ini film prekuel yang mana kebingunganku akan terjawab jika menonton film sebelumnya yang berjudul Sewu Dino.
Menurutku film ini merupakan film horor yang cukup brutal dan berdarah-darah, sesuai dengan ratingnya D17+. So dibawah usia itu memang tidak disarankan menonton film ini. Alhamdulillah, Nanay anteng tidur sepanjang filmnya diputar. Dia baru bangun saat lampu bioskop mulai dinyalakan.
Makan Siang Kesorean Di Solaria
Usai nonton bioskop, aku, Agnes, Caca beserta anaknya pergi menyusuri foodcourt karena perut kami dirasa mulai lapar. Aku juga belum makan siang tadi. Siang itu, foodcourt tampak penuh. Nggak ada tempat duduk yang tersisa. Setelah berjalan kesana kemari, akhirnya pilihan kami jatuh pada Solaria, walaupun harus masuk dalam antrean waiting list.
Selama menunggu antrean waiting list, kami memilih menu-menu yang akan kami santap siang jelang sore itu. Awalnya, aku ingin makan nasi, tapi tiba-tiba aku penasaran dengan menu mie goreng di Solaria Mall Botani Square ini karena setelah mencoba menu mie goreng Solaria di dua Mall yang berbeda, ternyata rasanya berbeda juga. Aku pun memilih menu mie goreng ayam.
Tak lama kemudian, kami pun mendapat tempat duduk. Agnes yang bertugas sebagai bendahara, segera menuju kasir untuk melakukan transaksi atas pesanan kami. Tetap pakai sistem 'pake duit lu dulu ya' (wkwkwk). Setelah itu, kami menunggu pesanan datang sambil ngobrol-ngobrol cantik, juga main dengan Nanay, hingga pesanan kami pun tiba.
Dari sejak mie goreng terhidang di mejaku, aku sudah yakin pasti rasanya berbeda juga. Apalagi melihat tampilannya yang berwarna pucat, seperti tak tersentuh kecap. Dengan semangat '45 aku menyantap mie goreng tersebut karena perutku sudah dangdutan dari tadi.
Rasa mie gorengnya memang berbeda. Kok bisa ya?. Kupikir semua menu mie goreng Solaria itu rasanya akan sama, tapi ternyata beda. Mungkin kokinya berbeda kali ya, tapi resep harusnya sama sih. Entahlah, aku nggak ngerti. Mereka seolah punya ciri khasnya masing-masing. Meskipun rasanya berbeda, tapi sama-sama enak kok. Buktinya aku menyantapnya sampai habis. Ada sisa sedikit sih, dikiiiiit banget, keburu kenyang.
Waktunya Pulang Ke Rumah
Perut kenyang, waktunya untuk pulang. Tapi, waktu sudah menunjukkan jam setengah lima sore, rasanya nggak akan keburu shalat Ashar di rumah. Kuputuskan untuk pergi shalat Ashar sebelum pulang. Sore itu, musholla tampak penuh. Antrean di tempat wudhu cukup panjang, walaupun nggak memakan waktu lama karena tempat wudhunya cukup banyak.
Seperti biasa, aku selalu bawa peralatan shalat sendiri saat bepergian. Hal ini tentu membuat aku nggak perlu mengantre lagi untuk mendapatkan alat shalat. Aku hanya perlu mencari tempat kosong, lalu mulai shalat di sana.
Usai shalat, aku menyusul Agnes dan Caca yang sedang berada di sebuah toko sepatu terkenal. Sepertinya mereka mau belanja sepatu (hihihi). Dari sana, kami pun memutuskan untuk segera pulang karena memang kami berjanji kepada suami masing-masing untuk pulang lebih cepat, nggak kemaleman seperti sebelumnya. Sebelum pulang, kami melipir dulu membeli jajanan untuk dibawa ke rumah. Anggaplah sebagai ucapan terima kasih untuk suami dan anak yang udah mengizinkan kami para emak-emak kece (jangan komen ya), nobar dadakan.
Nonton, udah. Makan, udah. Beli jajanan, udah. Waktunya kami pulang ke rumah masing-masing. Sekian cerita di hari libur tahun baru. Semoga tahun ini penuh keberkahan untuk kita semua. Terima kasih sudah membaca diaryku.
Komentar
Posting Komentar