Assalamu'alaikum Diaris.
Happy long weekend....
Seperti biasa, akhir tahun seringkali diwarnai dengan momen libur panjang karena banyak tanggal merah dan hari kejepit nasional. Tanggal merah pertama, ada ditanggal 25 Desember yaitu perayaan hari natal, dan tanggal merah selanjutnya adalah tanggal 1 Januari yaitu untuk perayaan tahun baru.
Alhamdulillah saking menikmati hidup di dunia, sampai nggak kerasa udah mau pergantian tahun lagi, walaupun sebenarnya kerasa sih, menjalani hari-hari di tahun 2025 ini yang penuh kejutan, tiba-tiba begini, tiba-tiba begitu. Hidup memang nano-nano, kadang manis, kadang asam, kadang asin, kadang juga pahit.
Setiap pergantian tahun, saat itu pula usiaku genap berkurang lagi satu tahun. Makin ngeri aja rasanya. Bukan ngeri karena aku nggak muda lagi, tapi ngeri karena waktuku semakin mendekat pada sebuah kepastian yang telah Allah SWT sampaikan lewat firmanNya.
Setiap yang bernyawa, pasti akan merasakan mati. (QS. Ali Imran: 185)
Aku akan mati suatu hari nanti. Sebuah kepastian yang selalu ingin kutolak, tapi tak bisa karena hal itu memang akan terjadi, dan bahkan sudah terjadi pada orang-orang disekitarku, salah satunya Mamaku yang telah lebih dulu mengalami fase kematian ini.
Mamaku meninggal diusia 59 tahun. Allah SWT menetapkan usia untuk Mama berada di dunia selama 59 tahun. Seringkali aku menghitung mundur waktuku bersama Mama dulu yang pada akhirnya aku jadi berandai-andai. Andai dulu begini, andai dulu begitu. Waktuku full bersama Mama memang tak lama, hanya sampai usiaku empat belas tahun, sisanya aku tinggal di perantauan, jauh dari Mama.
Usia setiap mahluk di dunia ini sudah ditetapkan oleh Allah SWT, dan tidak diketahui oleh siapapun. Nggak ada yang tahu kapan, dimana, dan seperti apa waktunya akan dihabiskan. Hal ini yang selalu membuatku takut. Takut waktuku habis saat aku dalam kondisi yang tidak baik. Na'udzubillahimindzalik. Tapi, hal ini juga yang selalu memaksa diri ini untuk tidak berbuat buruk dimanapun dan kapanpun. Apalagi di zaman media sosial begini, bibit-bibit dosa tuh dekat banget. Coba deh buka medsos, tiba-tiba muncul berita perselingkuhan, gemes rasanya ini jari-jemari untuk menulis hujatan. Mana orangnya ga dikenal pula. Ngeri kan, orang yang dihujat jadi sakit hati?.
Resolusi Tahun Depan
Mengingat kematian memang cukup ampuh untuk melindungi diri dari perbuatan buruk. Entahlah, semakin berkurangnya usia, rasanya aku semakin takut untuk berbuat sesuatu, bahkan untuk sekadar membuat postingan di media sosial pun aku takut.
Takut postinganku menjadi sebab sakit hatinya orang lain. Nggak hanya itu, aku juga jadi takut saat merencanakan banyak hal. Misalnya menjelang pergantian tahun, aku sering membuat resolusi untuk tahun depannya. Namun, setelah banyak hal yang aku lalui di tahun-tahun sebelumnya, kini aku tak banyak menuntut untuk melakukan ini dan itu. Aku hanya akan berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Fokus untuk memperbaiki diri.
Entahlah, aku tuh selalu merasa bahwa aku seolah nggak punya sisi baik. Apalagi jika aku mengingat masa-masa dulu. Rasanya aku seringkali membuat orang lain kesal, entah karena ucapan, atau melalui tindakan, ditambah lagi dengan raut muka jutek yang seolah tak bersahabat ini.
Sebenarnya aku nggak merasakan hal tersebut di atas secara langsung, tapi aku hanya menyimpulkan dari respon orang-orang di sekitarku, seperti tiba-tiba aku dijauhi oleh teman dekat yang mana hal ini terjadi berulang kali, sampai aku merasa trauma untuk berteman dengan orang lain terlalu dekat (wkwkwk). Aku pernah dikucilkan oleh teman-temanku. Disaat mereka heboh bisik-bisik, cuma aku yang nggak diberitahu, mungkin saking nggak asyiknya aku (wkwkwk).
Dulu, aku sering menyalahkan orang lain atas hal ini, menganggap orang lain yang jahat, bukan aku. Namun, dikarenakan kejadian seperti ini sering berulang, aku pun mencoba merefleksi diri dan menyadari bahwa kesalahan ada pada diri aku sendiri. Aku yang harus memperbaiki diri, walau akhirnya aku jadi malas menjalin pertemanan dengan orang lain (maksudnya berteman dekat ya).
Meski begitu, pertemanan semacam itu tetap terjalin lagi dan lagi, terulang kembali, punya teman dekat lagi. Yaaaa, bagaimanapun juga aku tetap mahluk sosial (hihihi), apalagi jika hidup di perantauan, rasanya aku memang butuh berteman.
Teman Non Muslim Pertamaku
Waktu itu aku hidup di perantauan untuk melanjutkan study. Dengan melihat latar belakang pertemananku yang selalu berantakan pada akhirnya, aku memutuskan untuk berteman dengan siapapun sekadarnya saja.
Aku nggak mau berteman terlalu dekat karena semakin dekat suatu hubungan, maka akan semakin nampak baik dan buruknya seseorang. Nggak semua orang bisa menerima baik dan buruknya kita, eh aku maksudnya. Bahkan jika dipikir-pikir, aku merasa nggak punya sisi baik, buruk semua dong (huhuhu). Entahlah, aku hanya merasa nggak fair aja untuk menilai diriku sendiri, biar orang lain yang menilai.
Meski awalnya berniat nggak mau punya teman, eh ujung-ujungnya berteman juga, akrab lagi, ala-ala geng gitu. Dasar mahluk sosial. Aku berteman dengan empat orang waktu, sebut saja mereka Tari, Agnes, Caca, dan Uwi. Aku lupa persisnya bagaimana awal mula kami bisa berteman cukup akrab waktu itu. Aku hanya ingat pertemananku dengan Tari, dimulai saat kami sedang melihat jadwal kelas di mading saat hari pertama masuk kuliah, kami bertemu di sana dan menjadi akrab. Mungkin karena kami punya model rambut bob yang sama waktu itu, hingga merasa sefrekuensi (wkwkwk). Aku belum berkerudung waktu itu.
Oh iya, aku jadi ingat waktu itu, saat pertama kali bertemu Tari, kupikir dia seorang muslim, walaupun memang matanya sipit dan berkulit putih. Aku sempat nyaris mengajak dia shalat Dzuhur sebelum akhirnya aku tahu dia seorang kristen. Aku lupa kalau saat itu aku bukan sedang berada di kampungku yang masyarakatnya muslim semua, meski sipit dan putih, tapi bisa dipastikan dia muslim (hihihi).
Baca juga: Ternyata Kuliah Tak Seindah Di Sinetron
Saat aku tahu Tari seorang kristen, ada sedikit rasa kecewa karena tadinya aku berharap bisa berteman akrab dengan muslim lagi. Setidaknya aku punya teman beribadah saat di kampus. Aku hanya takut lalai melaksanakan shalat.
Selain Tari, aku juga mulai akrab dengan Uwi. Ceritanya bermula dari kami sering pulang kampus jalan kaki bareng, dan kami juga sama-sama anak kost. Seiring berjalannya waktu, kami jadi sering berangkat dan pulang kampus bareng. Ketika berangkat ke kampus, biasanya Uwi nunggu aku di jembatan dekat kampus.
Setelah Tari dan Uwi, barulah aku dekat dengan Agnes dan Caca yang waktu itu terlihat seperti satu paket karena mereka sering bersama. Aku lupa cerita persisnya seperti apa, kalau nggak salah kami dipertemukan oleh tugas kuliah. Sejak saat itu, Aku, Tari, Uwi, Agnes, dan Caca jadi sering main bareng, baik saat di kampus maupun diluar kampus. Dan lagi, kukira Agnes itu seorang muslim, ternyata dia seorang katolik. Jadi, Tari dan Agnes adalah teman non-muslim pertamaku.
Belajar Toleransi Bersama Teman Non Muslim
Jujur, awalnya aku ragu untuk berteman dengan non-muslim. Aku takut lalai dalam beribadah, khususnya saat melaksankan shalat. Bukan, bukan aku takut mereka mengajakku untuk tidak shalat ya, tapi aku takut dengan diriku sendiri yang tak jarang merasa nggak enakan dengan mereka yang tak jarang harus menungguku shalat.
Aku yang setiap kali jalan bareng mereka, seringkali meminta waktu sebentar untuk melaksanakan shalat, atau mencari tempat untuk shalat. Pernah juga saat mereka mengajakku main ke suatu tempat, aku memilih berangkat selepas dzuhur biar bisa shalat dulu, dan itu membuat kami harus berangkat lebih siang, saat panas terik.
Mereka memang tak pernah berkomentar, mengeluh, atau semacamnya, tapi aku yang selalu merasa nggak enak telah membuat mereka sering menunggu. Bahkan aku sempat berpikir bahwa mungkin lama-lama mereka akan kabur, dan nggak mau berteman lagi sama aku (wkwkwk). Pertemananku akan bubar lagi seperti yang sering terjadi. Namun, ternyata dugaanku salah. Pertemanan kami bisa dikatakan cukup awet hingga sekarang, walaupun sempat lost contact beberapa saat. Tepatnya sesaat setelah kami lulus kuliah.
Kami memang nggak lulus barengan waktu itu. Uwi sudah berhenti kuliah sejak perkuliahan masuk semester tiga. Aku nggak tahu persis apa alasannya, yang pasti ada sedikit masalah di internal keluarganya. Begitu juga Caca yang tiba-tiba memutuskan untuk berhenti kuliah saat perkuliahan masuk semester empat kalau nggak salah, aku lupa. Aku juga kurang tahu alasannya apa, tapi keputusan itu diambilnya tak lama setelah Papanya meninggal. So, dari kami berlima yang tersisa tinggal aku, Tari dan Agnes yang dua-duanya non muslim.
Ini pertama kalinya pertemanan dengan beda agama yang kujalani. Aku seorang muslim, Tari seorang kristen, dan Agnes seorang katolik. Seperti yang sudah kuceritakan sebelumnya bahwa awalnya hati aku menolak untuk berteman dengan non muslim, apalagi sampai akrab. Mohon maaf jika aku bilang begitu karena latar belakangku adalah seorang anak kampung yang hidup ditengah masyarakat muslim, yang mana tak jarang menganggap orang non muslim itu asing. Duh, bingung aku menjelaskannya. Bayangkan sendirilah ya, seperti apa respon terhadap mereka yang disebut minoritas.
Namun, setelah aku berteman dengan Agnes dan Tari yang non muslim waktu itu, persepsi negatif yang semula ada dipikiranku mulai hilang. Aku merasa cukup nyaman berteman dengan mereka, mereka selalu menghargaiku saat beribadah, aku juga tidak mengusik waktu ibadah mereka. Kami punya cara sendiri dalam menjalani kehidupan sesuai kepercayaan masing-masing. Terkadang kami juga bertukar informasi seputar agama masing-masing.
Berteman dengan mereka mengajarkanku makna toleransi. Meski kami berteman cukup akrab, setiap perayaan Natal aku tak pernah mengucapkan selamat atas perayaannya kepada mereka, walaupun terkadang Agnes mengucapkan selamat lebaran saat perayaan Idul Fitri. Aku nggak tahu bagaimana perasaan mereka saat aku tak mengucapkan 'selamat' dihari besarnya, tapi aku yakin hal ini bukanlah masalah penting yang bisa merusak pertemanan kami.
Tari dan Agnes juga pernah memberiku kado lebaran berupa pashmina. Mereka bilang, kasihan karena nggak ada yang kasih kado saat lebaran (hihihi). Berbeda dengan mereka yang sesekali tukar kado saat hari natal. Makasih loh kadonya waktu itu, pashminanya masih ada sampai sekarang.
Niat Menghibur, Tapi Takut Dosa
Oh iya, aku jadi ingat momen sedikit memalukan sih kalau kuingat-ingat lagi. Waktu itu, Papinya Tari meninggal dunia. Aku diajak Agnes untuk bertakziah. Kebetulan jenazah Papinya Tari masih ada di rumah duka yaitu tempat pengurusan serta penyimpanan jenazah sebelum dimakamkan. Awalnya, aku ragu untuk ikut ke sana. Dan lagi alasannya karena Tari seorang non muslim, pasti memiliki tradisi agama sendiri, pikirku. Namun, aku niatkan kesana untuk menghibur Tari, temanku yang sedang berduka.
Saat tiba di TKP, aku melihat bangunan rumah duka tersebut mirip gereja, dan di sana juga tak sedikit pelayat yang mendo'akan Papinya Tari. Aku duduk di kursi yang ada diluar gedung, sedangkan Tari ada di dalam gedung. Agnes dan Caca yang juga ikut ke sana mengajakku untuk masuk ke dalam gedung karena niat kami adalah untuk bertemu Tari. And, apa yang kulakukan? Aku malah nangis disitu. Bukan, bukan menangisi kepergian Papinya Tari, melainkan aku takut berdosa jika aku masuk ke rumah duka yang kukira sama dengan gereja itu.
Aku nangis benaran. Aku takut seandainya masuk ke rumah dukaitu, aku ikut terlibat dalam tradisi-tradisinya. Padahal ya, di dalam rumah duka waktu itu yang kulihat hanya sekumpulan orang-orang yang tengah mengobrol, ada juga yang berdo'a di dekat jenazah Papinya Tari. Untungnya, Caca memberi tahuku bahwa rumah duka bukan gereja tempat beribadah, dia memberi penjelasan sedikit tetntang itu sampai akhirnya aku mau masuk dan bertemu Tari yang sedang berduka. Di dalam, kami mendengarkan cerita Tari yang menyaksikan detik-detik kepergian Papinya.
Kalau ingat momen itu lagi, aku jadi malu sendiri, aku merasa bahwa waktu itu aku sedang dalam mode lebay karena ketidaktahuanku. Maaf ya, Tari. Harusnya waktu itu cukup kamu yang nangis, eh aku malah ikutan nangis mengkhawatirkan diri sendiri yang minim pengetahuan ini.
Kami Wisuda Masing-Masing
Setelah melewati banyak hal, alhamdulillah kami bertiga bisa menyelesaikan perkuliahan hingga lulus, meski kami tak lulus bareng-bareng karena satu dan lain hal. Saat aku dinyatakan lulus usai sidang Tugas Akhir, aku sempat lost contact dengan Tari dan Agnes. Yang kutahu waktu itu, mereka berdua masih sibuk menyusun Tugas Akhir. Aku sangat jarang bertemu dengan mereka di kampus. Kami disibukkan dengan kesibukan masing-masing. Aku juga sibuk pindah tempat kost waktu itu karena ada sedikit masalah di tempat kost sebelumnya.
Tadinya, aku ingin wisuda bareng-bareng, tak hanya dengan Tari dan Agnes aja, melainkan dengan teman sekelas lainnya. Meskipun aku lebih sering bareng Tari dan Agnes, tapi aku juga cukup akrab dengan teman-teman lain saat di kampus. Sayangnya, kenyataan berkata lain. Kami tak bisa wisuda sama-sama karena memang banyak faktor penyertanya yang membuat kami akhirnya berjalan masing-masing. Layaknya di dunia ini, kita hidup dengan jalan ceritanya masing-masing.
Tak lama dari aku wisuda, aku dapat kabar bahwa Tari dan Agnes sudah wisuda. Mereka berdua juga nggak wisuda bareng deh, kalau nggak salah. Itulah warna-warni cerita pertemanan kami yang alhamdulillah masih awet hingga kini.
Meski setelah wisuda sempat lost contact, pada akhirnya kami berkomunikasi kembali, lengkap lagi, ada Uwi dan Caca juga. Bahkan kami membuat grup whatsapp khusus sebagai media kami berkomunikasi. Tak jarang kami mengagendakan untuk bertemu sekadar melepas rindu masa-masa muda dulu. Maklum, sekarang udah jadi emak-emak beranak semua.
Nostalgia Di Mall BTM
Terakhir kali bertemu, beberapa hari sebelum hari natal tahun ini. Awalnya kami berencana untuk bertemu di rumah Uwi, di daerah Cipanas (Bogor) awal Desember kemarin. Kami ingin mengenang memori saat pertama kali aku diajak motoran main ke rumah Uwi di semester 2 perkuliahan. Namun, kami mendapat kabar baik dari Agnes yang tengah hamil muda. Ngeri kali ibu hamil motoran jauh-jauh kan ya, mana morning sickness pula, ditambah lagi cuaca lagi ekstrem-ekstremnya.
So, kami pun memutuskan untuk membatalkan rencana awal kami ini. Kami memutuskan bertemu di Mall BTM dengan ragam ceritanya (hihihi). Tak sedikit cerita kami terukir di Mall ini. Aku pernah ditraktir makan ayam KFC oleh mereka. Itu adalah pertama kalinya aku makan KFC loh (kasian banget, anak kampung baru makan KFC). Semester berapa itu ya?.
Aku juga pernah jadi saksi hidup saat Tari mendapat kejutan dari pacarnya di Mall BTM ini. Ya ampuuun, seru banget karena pulang dari sana aku dapat rezeki nomplok, satu porsi nasi lengkap dengan lauk pauknya. Aku dan teman yang lainnya ditraktir makan di D'COST Mall BTM waktu itu karena sudah berpartisipasi dalam rencana pacarnya Tari ini. Sayangnya, hari itu aku lagi puasa. Aku lupa persisnya, emang lagi bulan Ramadan atau puasa qada'. Intinya si anak kost dari kampung ini dapat makanan enak untuk buka puasa nanti (hihihi). Makasih loh. Aku pulang duluan waktu itu karena udah sore juga.
Disamping itu, Mall BTM ini juga menjadi tempat aku hunting sepatu murah bareng Uwi. Aku juga suka beli baju di sini karena memang murah-murah dan modelnya kekinian juga pasaran (hihihi). Pernah satu waktu aku beli kemeja di salah satu outlet pakaian yang tampak sepi pengunjung. Harga kemejanya kisaran 90ribu rupiah yang menurut aku si anak kost bokek waktu itu, harga segitu cukup mahal. Alhasil, Caca membantuku menawar harga hingga terjun ke angka 65ribu rupiah kalau nggak salah. Parah sih si Caca kemampuan tawar menawarnya (hihihi). Kubelilah kemeja itu dengan harga 65ribu berkat keahlian Caca. Makasih ya Ca.
Masih banyak cerita-cerita kami bersama Mall BTM ini (hihihi). Makanya kemarin kami memutuskan untuk kembali bertemu di sana. Sebenarnya rencana awal kami bertemu di Botani Square Bogor, hanya saja Tari ada keperluan di Mall BTM ini. Dia ingin membeli ponsel untuk menunjang pekerjaannya. Akhirnya kami pun bertemu di sana.
Setelah menemani Tari belanja ponsel di counter langganannya, kami pun pergi menuju lantai foodcourt untuk sekadar jajan-jajan sambil mengobrol. Tempat yang kami pilih yaitu Steak Moen-Moen yang sekarang sudah berubah tampilannya. Dulu, waktu pertama kali makan di Steak Moen-Moen zaman kuliah, harganya masih 9ribu rupiah paket lengkap, sudah sama minum. Sekarang harganya sudah kisaran 20ribu-30ribuan rupiah.
Btw, aku inget lagi nih, aku pernah traktir Agnes dan Tari makan Steak Moen-Moen saat momen aku ulang tahun. Sebenarnya aku malu sih waktu itu cuma bisa traktir mereka ini, sedangkan mereka baik banget. Tapi, bagaimana lagi, budgetku hanya cukup untuk Steak Moen-Moen yang harganya sudah 11ribu atau 12ribu rupiah waktu itu. Itu pun alhamdulillah hasil sisihan keuntungan dari jualan pulsa aku (mode missqueeen, wkwkwk).
Dengan budget seadanya itu, aku mengajak Agnes dan Tari makan di Steak Moen-Moen siang itu, sepulang kuliah. Dengan modal nekad, kami berboncengan tiga tanpa helm (Tari doang yang pakai), pakai motor Tari melewati jalanan perkotaan yang mana banyak polantas berjaga di sana. Tahu kan lanjutan ceritanya gimana?.
Kami kena tilang polantas. Entahlah apa yang sedang dibicarakan Tari dan polantas di ruangan itu. Tari keluar dari ruangan itu dengan muka agak masam. Gimana nggak masam, itu motor dia kena tilang gara-gara boncengan sembrono demi ajakan makan Steak Moen-Moen. Maaf ya, Tari. (Hihihi)
Setelah menyelesaikan segala urusan, dan memastikan motornya Tari aman terkendali, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Mall BTM untuk menikmati Steak Moen-Moen. Ya ampun, apes banget hari itu.
Kembali ke pertemuan kami sebelum libur natal kemarin. Siang itu, Kami duduk di kursi yang tersedia untuk menunggu Steak Moen-Moen yang telah kami pesan. Steak Moen-Moen tampak dipenuhi oleh pengunjung. Kurasa memang selalu begitu. Selain rasanya enak, di dompet juga lumayan nggak bikin kering (wkwkwk).
Setelah menghabiskan Steak Moen-Moen, kami lanjut foto-foto di photobox untuk mengabadikan momen hari itu, lalu kami jalan-jalan sebentar di sana. Seperti biasa, aku pergi shalat Ashar sementara yang lain menunggu di rooftop Mall BTM. Selepas shalat, aku menyusul ke sana, dan aku baru tahu ternyata di sana ada tempat untuk bersantuy ria sambil menikmati suasana sore dihiasi bunga matahari yang bermekaran. Aku bergabung dengan mereka, kembali mengobrol sebentar sampai waktunya pulang. Siang itu, kami berlima, Aku, Tari, Agnes, Caca dan babynya yang menggemaskan. Uwi nggak ikut. Mudah-mudahan nanti bisa silaturahmi lagi.
Itulah cerita pertemananku yang masih awet hingga kini. Aku masih nggak nyangka sih, masih bisa berkomunikasi baik dengan mereka. Masih nyambung kalau ngobrol, walau kadang suka debat-debat, adu argumen dikit. Hal itu wajar sih, pertanda pikiran kita masih aktif (wkwkwk). Semoga kita semua bisa bersilaturahmi tanpa perlu pinjam seratus dulu (hihihi).
Dari pertemanan ini aku belajar bahwa setiap manusia, umumnya memiliki sisi positif dan negatif. Benar, tak semua orang bisa menerima sisi negatif dalam diri kita. Hanya di tempat yang tepatlah keduanya bisa saling beriringan. Jangan lupa untuk tetap berusaha memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik setiap hari. Terima kasih sudah membaca diaryku.
Komentar
Posting Komentar