Tips Receh : 3 Langkah Mengawali Move On




Sumber Gambar Di sini


Assalamu’alaikum..

Belakangan ini dunia dihebohkan oleh munculnya virus corona yang mana penderitanya selalu bertambah setiap harinya. Menurut berita yang beredar, sampai saat ini belum ditemukan vaksin untuk virus tersebut. Mungkin yang bisa kita lakukan hanyalah melakukan pencegahan dengan membudayakan hidup sehat. Selain virus corona yang mewabah, ada juga virus yang tak kalah menyeramkan bahkan bisa juga membahayakan. Virus yang tak pernah hilang di telan zaman. Virus ini bisa menyebabkan seseorang kehilangan nafsu makan, meningkatnya kadar emosi, bisa juga hipertensi, kehilangan semangat, diliputi kesedihan setiap saat, bahkan kalau sudah parah bisa menyebabkan kematian, seperti yang banyak diberitakan di media tentang seseorang yang bunuh diri karena kisah asmaranya yang rumit atau tentang seseorang yang dibunuh oleh mantan pasangannya karena cemburu. Ku rasa sahabat-sahabat readers tahu virus apa itu. Ya, virus galau susah move on. Sebenarnya virus ini sudah memiliki vaksin dari dulu dan mudah disembuhkan, tetapi entah kenapa virus ini tak pernah mati dan penderitanya pun tidak sedikit, bahkan mereka yang dinyatakan sembuh pun mudah terjangkit lagi. Sungguh luar biasa virus galau ini.

Bukan perihal orang lain, tetapi tentang diri ini yang juga pernah berada di posisi sebagai penderita virus galau. Bagiku masa remaja adalah masa transisi menuju kedewasaan. Masa dimana banyak ketidaktahuan, tetapi penuh rasa penasaran, selalu ingin melakukan agar tahu ini perkara baik atau bukan. Masa remaja tak pernah absen dari kisah pacar-pacaran, mulai dari pacaran yang hanya iseng-isengan mengikuti trend sampai dengan pacaran melibatkan perasaan, ada lagi yang lebih parah sampai kebablasan, na’udzubillah. Seperti remaja pada umumnya, aku pun mulai terkontaminasi dengan circle pergaulanku yang mana semua sahabatku punya pacar waktu itu. Mungkin sekarang aku menganggapnya ujian Tuhan, tetapi dulu ku anggap itu sebagai kesempatan dari Tuhan yang telah mengirimkan seseorang untuk menjadi pacarku.

Tak ada rasa suka, sayang, apalagi cinta, hanya menjalani seperti biasanya hingga munculah rasa nyaman dan takut kehilangan. Geli rasanya jika mengingat kala itu. Siklus pacaran yang tak pernah mengalami perubahan dari hari ke harinya. Selalu berawal dari fase pendekatan, jadian, pacaran, lalu putus. Syukur-syukur jika happy ending ya, setelah pacaran langsung menikah. Bagi mereka yang masih usia sekolah, sepertinya menikah bukan menjadi tujuan utama dari pacaran. So, setelah putus tak sulit diserang virus galau yang gejalanya telah dipaparkan di atas.  Bagi mereka yang pacaran hanya untuk iseng-isengan, putus cinta bukan suatu masalah. Sedangkan untuk mereka yang pacaran dengan melibatkan perasaan, putus cinta bisa dikatakan sebagai masalah yang rumit, harus kehilangan seseorang dengan kebiasaannya. Kebiasaan dapat ucapan selamat pagi, selamat siang, hingga selamat tidur. Kebiasaan diantar-jemput (maybe), kebiasaan dapat perhatiannya, serta kebiasaan-kebiasaan lain yang kini hanya tinggal kenangan dan kenyataan bahwa doi telah menemukan tambatan hati. Jadi ingat lagu ’Bukannya Aku Takut’ milik Juliette. Memang benar yang menjadi rumit itu bukan karena kehilangan orangnya, tetapi karena diri begitu bergantung dengan kebiasaan-kebiasaan yang telah tercipta bersamanya. Dan lagi aku geli sendiri.

Bagi para penderita virus galau, termasuk aku pada saat itu, membuka hati untuk yang lain atau bahasa ngehitsnya move on yang sering diartikan dengan mencari pacar baru merupakan cara terbaik untuk menghapus luka yang disebabkan oleh virus galau tersebut, mungkin ini salah satu faktor kenapa banyak orang sering gonta-ganti pacar. Dulu saat aku masih teramat labil, cara ini kuanggap sebagai cara yang tepat untuk melupakan atau meninggalkan kesedihan-kesedihan yang disebabkan kesalahanku dalam menempatkan perasaan walaupun sebenarnya jelas ini tidak tepat.

 Move on memang harus, tetapi move on yang seperti apa?. Move on terdiri dari dua suku kata serapan dalam bahasa inggris yang artinya ‘pindah’. Pindah dari situasi buruk menuju situasi yang baik, pindah dari satu tempat ke tempat lain dengan harapan bisa menjadi lebih baik, intinya pergerakan menuju arah yang lebih baik. Jika diperhatikan move on itu sama seperti hijrah, yakni berpindah dari hal negative ke hal positif, betul nggak? Meskipun memiliki arti yang luas, istilah move on biasanya lebih sering digunakan untuk mereka yang ingin melupakan masa lalunya, khususnya yang berkaitan dengan kisah cinta.

Ok, friends. Sekali lagi ini bukan perihal orang lain, tetapi karena diri yang pernah berada diposisi yang sama, bukan untuk menggurui hanya sekedar sharing saja. Sebelum ku mengerti betapa unfaedahnya pacaran bagiku, dulu aku membenarkan bahwa dengan membuka hati untuk yang lain adalah cara yang tepat untuk melupakan masa lalu bersamanya. Benar saja, aku berhasil melupakannya karena menemukan tokoh baru. Padahal sebenarnya hal tersebut hanya akan membawa pada siklus yang sama dengan tokoh yang berbeda dan sudah dapat dipastikan ending­-nya akan seperti apa. Harusnya move on itu seperti menutup lembaran lama untuk memulai lembaran baru dengan kisah yang baru, tidak mengulangi kesalahan yang sama. Berulang kali merasakan sakit hati membuatku memutuskan untuk tak lagi membudayakan pacaran, tetapi bukan trauma ya, aku hanya merasa bahwa tak ada manfaat yang bisa ku dapat dari pacaran selain sakit hati dan tangisan. Merasa bodoh menangisi orang yang salah, memaksaku untuk keluar dari siklus itu hingga aku berkomitmen untuk tak pacaran. Dan lagi circle pergaulanku yang kerap membuatku sulit memegang komitemn yang telah ku buat.

Bagiku move on disertai memegang komitmen itu tak mudah karena komitmen itu bukan sekedar janji yang hanya diucapkan dan mudah tuk diingkari. Menjadi motivator untuk diri sendiri adalah salah satu kekuatan selama proses move on. Beberapa hal yang dilakukan agar bisa move on, yaitu :

Niat dan Komitmen

Segala sesuatu pasti diawali dengan niat. Aku berniat dan berkomitmen untuk tidak pacaran. Ingat ya, bedakan antara komitmen dan janji walaupun sekilas tampak sama. Komitmen itu bisa dikatakan sebagai perjanjian/ peraturan yang dibuat terhadap diri sendiri yang harus dipertanggung jawabkan. Jika dilanggar berarti kamu tak bisa bertanggung jawab pada diri sendiri, lantas bagaimana terhadap orang lain?. Untuk definisi lengkapnya bisa dicari di KBBI ya, friends.

Evaluasi Diri

Melakukan evaluasi diri, menyadari serta memperbaiki kesalahan dan kekeliruan yang telah dilakukan. Lebih mendekatkan diri dengan Tuhan adalah salah satu langkah utama dalam upaya mengatasi ragam masalah. Bukankah menyelesaikan segala masalah itu harus dengan hati yang tenang yang mana kurasa hanya bisa dirasakan saat mendekatkan diri padaNya.

Lebih banyak meluangkan waktu berkomunikasi dengan keluarga, terutama orang tua yang selalu berperan dalam setiap scene kehidupan. Mungkin bisa dikatakan sebagai salah satu kesalahan besar dalam hidup ketika menyadari bahwa waktu itu aku, kamu, atau mereka lebih sering memberi kabar kepada dia yang statusnya masih samar dibandingkan pada orang tua yang tak jarang diabaikan. Lebih sering mengungkapkan rasa sayang/ cinta pada dia yang belum jelas perannya di masa depan dibandingkan pada orang tua yang sudah jelas kasih sayangnya, dan yang agak miris adalah saat aku, kamu, mereka lebih patuh pada dia yang bukan siapa-siapa dibandingkan dengan orang tua yang begitu banyak kontribusinya, tetapi tak jarang dibantah. Mungkin hal tersebut bisa dijadikan bahan renungan bagaimana seharusnya menempatkan cinta dan kasih sayang pada tempat yang tepat.

Memperbanyak silaturahmi dengan sahabat dan teman-teman yang mungkin dulu sempat terjeda. Biasanya patah hati menjadi salah satu faktor penyebab silaturahmi antar sahabat menjadi lebih intens, hehehe.

Memperbaiki primary goal dalam hidup. Untuk apa kamu hidup? Seberapa banyak manfaat yang telah ditebar dalam hidup? Untuk apa kamu melakukan ini dan itu, serta manfaat apa yang bisa diambil dari padanya?. Sebenarnya tidak 100% salah ketika seseorang memilih move on dengan mencoba membuka hati untuk yang lain. Namun, kesalahan selalu terdapat pada tujuannya. Jika tujuannya untuk menikah, maka bukalah hati untuk seseorang yang juga memiliki tujuan yang sama, satu frekuensi, bukan untuk seseorang yang membawa kita pada siklus yang sama. Selama proses pencarian, tidak salahnya kita memperbaiki/ memantaskan diri supaya Alloh Swt. mendekatkan kita dengan orang-orang yang pantas.

Menyibukan diri dengan kegiatan positif

Masih seputar perasaan. Melupakan seseorang yang telah menoreh kenangan di masa lalu memang tak mudah. Namun, seiring berjalannya waktu semua akan berlalu. Hanya perlu tak meratapi saat sedang sendiri. Menciptakan kesibukan cukup mengelabui kenangan yang ingin dilupakan, walaupun memang tak akan benar-benar lupa kecuali kamu amnesia. Setidaknya bisa mengurangi aktivitas meratap.

Menyibukan diri dengan kegiatan positif bisa dimulai dari mengeksplorasi diri dengan mengembangkan hobi yang pernah terlupakan, atau fokus dalam berkarir. Bagi kamu yang statusnya seorang pelajar, bisa dengan lebih banyak meluangkan waktu untuk belajar, membaca buku, artikel atau karya tulis lain yang sekiranya bisa bermanfaat untuk pendidikanmu. Mengikuti kegiatan keagamaan, kajian untuk me-refresh hati serta men-charge keimanan, atau terlibat dalam komunitas-komunitas yang bisa mempertemukan kita dengan orang-orang yang bisa memberi dampak positif, bukan positif corona ya, hehehe.

Usahakan untuk menghindari hal-hal yang bisa membuat hati menjadi ‘menye-menye’, misalnya mendengarkan lagu-lagu sendu yang kalau didengarkan hatimu berkata “Ini lagu gue banget”, atau menonton serial drama yang menjadikanmu berhalusinasi. Hati-hati, ya friends.

Ok, friends. Mungkin 3 hal di atas cukup untuk mengawali proses move on. Segala sesuatu tergantung pada niat pribadi masing-masing orang. Jika ingin move on, maka keluarlah dari siklus yang sama. Semoga diary ini bermanfaat ya friends.

Akhirulkalam….



Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Cara Bersyukur dengan Maskeran : REVIEW MASKER BERAS BYVAZO

Ternyata Kuliah Tak Seindah Di Sinetron

Pengalaman Pertama dan Terakhir Operasi Usus Buntu