Demam RKUHP dan UU KPK. Korupsi, Salah Siapa?





Bismillaahirrahmaanirraahiim
Assalamu’alaikum

Belakangan ini kita disuguhi oleh berita-berita dari berbagai media mengenai revisi Rancangan Undang-undang (RUU) Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) dan Undang-undang (UU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menyebabkan timbulnya pro dan kontra dari berbagai pihak sehingga memicu aksi demonstrasi yang dilakukan oleh para mahasiswa di seluruh Indonesia.

Seperti biasa aku membuka youtube untuk mencari tontonan berfaedah siang kemarin. Di timeline muncul tayangan ulang Mata Najwa :Ujian Reformasi yang tayang kemarin malam, tapi belum sempat kulihat. Klik. Aku menontonnya.


Tayangan tersebut membahas tentang RKUHP yang dianggap terlalu terburu-buru dan tidak transparan serta UU KPK yang disinyalir melemahkan KPK sehingga memicu perdebatan sengit antar pihak yang terlibat dalam diskusi tersebut. Namun, yang membuat jariku tergerak untuk menulis diary ini yaitu ketika muncul statement KPK lebih baik dibubarkan karena dianggap tidak sukses dalam mengatasi kasus korupsi dan katanya korupsi sebenarnya bisa dihentikan dalam waktu 5 tahun saja karena itu hal yang mudah dilakukan. KPK akan dianggap sukses bilamana sudah tidak ada lagi orang-orang yang ditangkap karena kasus korupsi, sedangkan KPK dianggap gagal dengan semakin banyaknya kasus korupsi yang terungkap sehingga semakin banyak orang-orang yang ditangkap, bukannya semakin berkurang. Apa memang seperti itu parameter sukses untuk KPK?
Ok friends, di diary kali ini aku hanya ingin sedikit beropini berdasarkan sudut pandang orang biasa. Korupsi memang sudah mewabah di Indonesia ini dari masa ke masa. Sebenarnya korupsi itu apa sih? Konklusi dari beberapa sumber yang pernah ku baca, menurutku korupsi merupakan suatu tindakan penyalahgunaan kekuasaan atau wewenang yang dilakukan oleh individu atau kelompok untuk memperoleh keuntungan.
Dari Sabang sampai Merauke kasus korupsi semakin merajalela. Mulai dari korupsi dengan skala besar yang sering diberitakan media maupun korupsi dalam skala kecil yang tidak terjamah oleh media. Namun, besar kecilnya skala korupsi tetap merugikan banyak pihak. Seperti yang sering kita lihat di media, mayoritas koruptor ialah mereka pejabat-pejabat terhormat, orang-orang pintar dengan kecerdasan yang hakiki. Namun, sayangnya psikis mereka tidak sehat karena sampai hati menggunakan kekuasaannya untuk menikmati yang bukan haknya. Memberikan suap ke beberapa pihak terkait untuk membungkam mulut mereka demi melancarkan aksi korupsinya tanpa merasa takut akan terungkap. Ok, mungkin tidak terungkap dalam waktu dekat ini, tapi apakah para koruptor itu menyadari bahwa ada Zat yang Maha Besar yang menyaksikan aksinya tersebut dari awal sampai akhir? jika masih memiliki keimanan dan keyakinan bahwa Alloh Swt. itu ada, maka rasa takut akan menghinggapi hati mereka dan mungkin hal itu bisa dicegah.
KPK merupakan media untuk mengatasi masalah korupsi yang dari masa ke masa tak ada henti-hentinya. Sifatnya yang independen, tidak terikat dengan aturan pemerintah, tapi itu dulu sebelum adanya revisi UU KPK yang disinyalir melemahkan KPK ditambah lagi dengan munculnya statement pembubaran KPK maka jangan salahkan jika banyak pihak yang menentang akan hal itu.
Jangan beranggapan bahwa KPK telah gagal menjalankan tugasnya hanya karena kasus korupsi yang tak ada hentinya. Korupsi itu penyakit psikis yang gejalanya ditandai dengan selalu merasa tidak cukup. Coba kita lihat para koruptor itu? mereka orang-orang pintar, cerdas, berasal dari golongan konglomerat pula yang logikanya dalam segi harta tak mengalami kekurangan. Namun, karena selalu merasa tidak cukup dengan apa yang mereka punya maka tidak menutup kemungkinan melirik asset lain untuk memperkaya dirinya tanpa peduli darimana asset itu berasal. Bukan salah KPK jika korupsi sulit dihentikan, justru KPK sangat berkontribusi dalam melaksanakan tugasnya dengan amanah. Satu per satu para elit digiring untuk menjalani pemeriksaan atas keterlibatannya dalam kasus korupsi. Sedikit demi sedikit koruptor yang sudah beroperasi sejak dulu kini mulai terungkap. Aku mengucapkan terima kasih untuk KPK atas kinerjanya.
Menurutku kasus korupsi ini sampai kapan pun tidak akan berhenti selama para pelaku tidak mau berbenah diri karena masalah utamanya ada pada diri sendiri. Apalagi sampai diestimasi bisa terselesaikan hanya dalam waktu 5 tahun saja. Ku rasa itu suatu kemungkinan yang sulit terjadi, kecuali berdasarkan pada 2 opsi :
1.  Semua individu memiliki rasa takut kepada Alloh Swt. serta sadar bahwa korupsi akan merugikan diri sendiri dan orang lain. Aku pernah menulis dalam diary Muslim Rasa Muallaf bahwa jadikan agama sebagai dasar utama atau pondasi dalam kehidupan. Dalam bekerja niatkanlah untuk ibadah, bukan hanya untuk mencari uang semata. Karena jika niatnya hanya untuk mencari uang dan memperkaya diri maka tak peduli cara apa yang diambil asalkan tujuannya bisa tercapai walau harus dengan cara korupsi. Sedangkan jika niatnya untuk ibadah maka setidaknya ada rasa takut yang menyelimuti, takut rezeki yang didapat tidak berkah.
2.    Jika para pelaku (Koruptor) dilindungi oleh pihak terkait, misalnya dengan membatasi ruang gerak KPK. Alhasil kasus korupsi menjadi tak kasat mata dan semuanya seolah tampak damai, tak ada lagi pejabat-pejabat yang digiring sebagai tersangka.
Korupsi terjadi karena beberapa faktor, seperti adanya kesenjangan ekonomi dari suatu individu atau golongan, menganut pandangan hidup hedonisme yang selalu mengutamakan kenikmatan dan kesenangan duniawi sebagai tujuan utama hidup, adanya  kesempatan untuk melakukan korupsi baik dalam bentuk kekuasaan, wewenang, dan lain sebagainya. Namun, faktor yang paling utama penyebab korupsi yaitu karena menipisnya bahkan mungkin telah hilangnya kadar keimanan seseorang sehingga tak ada lagi rasa takut dalam hatinya atas ancaman Alloh Swt. Kita ambil contoh para anggota Dewan yang entah berapa banyak dari mereka telah merubah statusnya menjadi koruptor. Mereka rela melanggar sumpah jabatan di bawah Alqur-an. Apa yang sebenarnya mereka cari? Karena jika dilihat dari materi bisa dikatakan sejahtera.
Korupsi tidak hanya dilakukan oleh kalangan elit saja, di luar itu pun masih banyak. Misalnya penggunaan dana BOS oleh bendahara sekolah untuk kepentingan pribadi, seorang karyawan Bank yang menggunakan uang setoran nasabah untuk kepentingannya, bahkan seorang karyawan toko juga bisa melakukan korupsi, dan masih banyak lagi kasus-kasus korupsi yang terjadi di kehidupan sehari-hari.
Nah untuk para koruptor, sadarkah kalian akan dampak yang ditimbulkan dari korupsi? Di samping dosa besar, korupsi sangat merugikan orang lain atau pihak yang dicurangi, juga merugikan diri sendiri. Si pelaku dihukum sesuai dengan pasal yang berlaku. Dipenjara sekian puluh tahun yang cukup menyita waktu, alangkah baiknya jika sekian puluh tahun itu digunakan untuk beribadah, bermuhasabah, berkarya, yang pasti melakukan hal-hal positif yang lebih bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Korupsi juga bisa memicu terjadinya perceraian, bullying pada anak, dan masalah keluarga lainnya. Selain itu, si pelaku atau keluarganya juga bisa kehilangan kepercayaan dari orang lain, teman, serta rekan bisnis ulah aksi korupsi yang dilakukan.
So inilah alasan betapa pentingnya pendidikan agama sebagai benteng pertahanan diri untuk menahan hawa nafsu yang sewaktu-waktu memuncak. Setiap bayi yang lahir hari ini adalah calon-calon pemuda-pemudi generasi penerus bangsa yang sebagian di antaranya mungkin akan menjadi pemimpin. Menanamkan nilai-nilai agama sejak dini tak ada salahnya sebagai upaya awal dalam membentuk generasi yang amanah, bukan generasi koruptor yang bersembunyi dengan menyuarakan Gerakan Anti Korupsi.
Gerakan Anti Korupsi tidak harus dengan memasang spanduk anti korupsi dimana-mana, berorasi mengajak masyarakat untuk tidak korupsi, atau melakukan sosialisasi tentang korupsi. Namun, Gerakan Anti Korupsi bisa dicontohkan melalui tindakan yang ku rasa lebih efektif, mulai dari hal-hal kecil misalnya dengan mengajarkan kepada siswa untuk tidak menyontek saat ujian, lulus ujian masuk Perguruan Tinggi murni hasil tes bukan karena dibantu oleh pihak tertentu, serta mengajarkan kepada calon generasi penerus bangsa untuk tidak menggunakan/ mengambil sesuatu yang bukan miliknya, dan masih banyak lagi hal-hal kecil lainnya sebagai upaya pencegahan korupsi. Namun, yang paling penting adalah saling mengingatkan bahwa setiap gerak-gerik kita disaksikan oleh Alloh Swt. serta dicatat oleh malaikatNya.
Sekali lagi bukan salah KPK jika kasus korupsi belum terselesaikan sampai saat ini. Semuanya dikembalikan kepada diri masing-masing, apakah masih senang melakukan korupsi atau tidak? KPK hanya berperan sebagai media untuk mengungkap aksi koruptor yang selama ini tak kasat mata dengan harapan bisa memberikan efek jera kepada koruptor lain atau calon koruptor yang hendak melakukan korupsi. Lantas apa yang akan terjadi jika KPK dibubarkan atau dilemahkan? Ku rasa tak akan ada lagi kasus-kasus korupsi yang terungkap, dan mungkin benar bahwa kasus korupsi akan selesai. Bukan, bukan korupsinya. Namun, kasus korupsi yang terungkapnya yang selesai karena tak ada lagi lembaga yang melakukan penyelidikan untuk kasus korupsi.
Ok friends, itulah yang bisa aku tulis di diary kali ini. Semoga bermanfaat untuk friends yang bersedia membaca dari awal sampai akhir. Ini hanya sekedar opini saja, aku sangat terbuka jika ada yang berkenan memberikan komentar, kritik, serta mengoreksi. Mohon maaf juga bila dalam penulisannya masih banyak kekurangan. Akhirulkalam.

Wassalamu’alaikum…..



Comments

Popular posts from this blog

Cara Bersyukur dengan Maskeran : REVIEW MASKER BERAS BYVAZO

Ternyata Kuliah Tak Seindah Di Sinetron

Pengalaman Pertama dan Terakhir Operasi Usus Buntu