"Tahu bulat, digoreng dadakan...."
Tak hanya tahu bulat, makanan lain pun jika dimasak secara dadakan memang memiliki cita rasa yang berbeda. Selain rasanya lebih fresh, tentu dinikmati dalam kondisi masih panas rasanya lebih istimewa, lebih was-wes-wos di mulut. Wkwkwk.
Selain makanan, rencana dadakan sering kali terasa lebih istimewa dan lebih mudah terealisasi dibandingkan rencana yang sudah disusun rapi jauh-jauh hari. Seperti bulan April ini, ketika salah satu teman kuliah tiba-tiba mengajak jajan AYCE alias all you can eat di pertengahan bulan. Tanpa banyak perencanaan matang, ajakan itu justru terasa lebih ringan untuk diwujudkan.
Tak hanya jajan AYCE saja, kami juga menambah agenda lain, yaitu nonton film di bioskop. Biar agak lama mainnya (hihihi). Tak apalah refresh sebentar, rehat sejenak dari aktivitas rumah.
Makan Siang Di Gogrill-ah Pajajaran Bogor
Setelah mendapat izin dari suami yang selalu mengizinkan, hari Sabtu siang itu, pergilah aku bertemu teman kuliah di Gogrill-ah Pajajaran Bogor untuk jajan AYCE. Hari itu aku cukup telat tiba di sana karena ada sedikit kelalaian saat bersiap-siap untuk berangkat.
Saat tiba di sana, aku sudah disuguhi oleh banyak makanan yang siap disantap. Makanan yang sudah dimasak oleh kedua temanku, ada daging dan sup juga. Kami menikmati makan siang hari itu di Gogrill-ah Pajajaran Bogor.
![]() |
| Foto by Pinterest |
Setelah menghabiskan waktu kurang lebih 1,5 jam di sana, kami mulai merasa kekenyangan, perut kami penuh oleh daging, aneka shabu, kuah miso, kuah tomyum, sayuran, serta beberapa dessert lainnya. Waktunya kami menyudahi makan siang kami. Lagi pula, waktu kami juga sudah habis. Seperti biasa, resto AYCE selalu menggunakan batas waktu untuk pengunjung, biasanya 90 menit.
Setelah menyelesaikan transaksi pembayaran. Kami pun bergegas ke destinasi kedua, yaitu nonton film di bioskop. Berhubung Mall terdekat dari Gogrill-ah Pajajaran Bogor adalah Plaza Jambu Dua, kami putuskan untuk menonton bioskop di sana. Kebetulan aku juga sudah lama tak berkunjung ke sana. Terakhir ke Plaza Jambu Dua itu waktu masih kuliah, masih unyu-unyu.
Mampir Ke Plaza Jambu Dua
Sekitar jam satu siang kami tiba di Plaza Jambu Dua. Mallnya cukup luas dengan wajah baru. Tapi, sayangnya menurutku agak sepi pengunjung padahal hari itu weekend. Aku, dan kedua temanku segera menuju bioskop yang berada di lantai empat. Sebenarnya kami masih bingung mau nonton film apa hari itu.
Berhubung jam tayang film yang tersedia masih lama, aku putuskan untuk Salat Dzuhur terlebih dulu. Biar tenang lahir dan batin saat menonton nanti (hihihi). Namun, sepanjang perjalanan menuju bioskop di lantai empat, aku sama sekali tidak melihat ada plang bertuliskan Musala di sana. Aku tanya keberadaan Musala pada pak security di pintu masuk bioskop. Oalah, Musala ada di lantai satu.
Dengan menggunakan lift, sesuai yang disarankan pak security, sampailah aku di lantai satu. Saat keluar dari lift, aku langsung disambut oleh seruan, "boleh kakak, boleh kakak, mau cari apa kakak, hp, casan, casing...". Lantai satu Plaza Jambu Dua memang khusus untuk gadget.
Setelah berkeliling dan belum kutemui plang musala, akhirnya kuhampiri salah satu sales gadget untuk bertanya posisi musala. Ternyata Musalanya ada di sebuah pojokan tanpa nama.
Nonton Film Ghost In The Cell
Usai Salat Dzuhur, sekitar jam setengah dua siang, aku kembali menemui temanku di lantai empat. Siang itu, bioskop masih tampak lengang. Hanya ada beberapa orang saja yang lalu-lalang. Sambil duduk-duduk cantik, kami memilih film apa yang akan ditonton siang itu. Berhubung dari zaman kuliah kami memang penikmat film horor atau thiller, maka kami pun memilih film Ghost In The Cell yang akan tayang jam setengah tiga. Agak lama juga ya, butuh satu jam lagi untuk menunggu.
Jika melihat dari posternya yang menampilkan seorang narapidana berpakaian nuansa oranye, dengan wajah yang dibuat seram, aku agak ragu untuk menonton film Ghost In The Cell. Apalagi setelah kutahu bahwa salah satu pemerannya adalah Kaka Aming (hihihi). Ekspektasiku berkata ini pasti lebih banyak komedinya, mengingat Aming dikenal sebagai komedian.
Hampir setengah jam kami mengobrol banyak hal sambil menunggu jam tayang hingga lupa bahwa kami belum membeli tiketnya. Temanku membeli tiket nonton via online. Namun, saat hendak memilih kursi mana yang akan ditempati, kami terkejut melihat kursi yang tersedia hanya tersisa tiga baris dari bawah. Terbayang kan, seperti apa posisi kita saat nanti nonton film?.
Sejenak kami terheran menyaksikan kursi yang tiba-tiba penuh padahal dari tadi tidak tampak antrean orang membeli tiket, pun tak banyak orang yang berada di area bioskop. Itu menurut kami. Tapi, beberapa menit kemudian, kurang lebih 30 menit menuju jam tayang film, barulah bermunculan orang-orang dari arah pintu masuk bioskop. Mereka menuju ke arah tempat cetak tiket.
Sempat ada keinginan untuk ganti film lain demi menghindari posisi menengadah selama nonton film nanti. Tapi, tak ada film yang lebih menarik juga. Ditambah lagi salah satu temanku bilang bahwa film Ghost In The Cell ini merupakan salah satu film Indonesia yang dibeli oleh puluhan negara. Wow, aku jadi penasaran, sebagus dan seseru apa filmnya.
Tiga lembar tiket pun berhasil dicetak. Kami kembali duduk di kursi yang tersedia, menunggu studio 2 dibuka, studio dimana kami akan menyaksikan film Ghost In The Cell.
Tak terasa sudah setengah tiga. Kami sudah menempati kursi sesuai nomor yang tertera di tiket. Bioskop tampak penuh. Orang-orang begitu antusias menantikan filmnya.
Setelah tayangan beberapa iklan. Film pun mulai diputar. Aku menontonnya dengan saksama, juga membaca setiap tulisan yang terpampang di layar. Jeng.. jeng.. ternyata sutradara dan penulis skenario film ini adalah Joko Anwar. Membaca itu, sepertinya mataku berbinar. Entah kenapa aku memang menyukai film karya Joko Anwar, tak jarang selalu dibuat penasaran oleh film-filmnya yang terkadang membuat otakku berpikir ulah pendekatan psikologisnya, jantungku dibuat dag-dig-dug-der dengan atmosfer horor dan gore yang intens, serta isu-isu sosial yang ada di tengah masyarakat ikut meramaikan alur ceritanya. Bagaimana dengan film Ghost In The Cell?.
Sinopsis Film Ghost In The Cell
Cerita berawal dari seorang jurnalis sekaligus aktivis lingkungan bernama Dimas yang diperankan oleh Endy Arfian tengah menulis laporan hasil liputannya di Kalimantan mengenai alih fungsi lahan untuk tambang Nikel. Hal yang menarik dalam kasus ini adalah adanya dugaan pembunuhan brutal misterius terhadap puluhan orang di sana.
Namun, atasan Dimas yang diperankan Rio Dewanto merasa tidak puas dengan hasil laporan itu. Hal ini membuat atasan Dimas marah besar. Ditambah lagi dia tengah memiliki problem dalam karir dan rumah tangga yang membuat emosinya semakin memuncak.
Ditengah emosi yang memanas itu, terjadilah sebuah tragedi brutal misterius yang membuat atasan Dimas tewas secara mengerikan. Dan lebih mengerikannya lagi, kejadian tersebut membuat Dimas harus menjalani hari-harinya di Lapas Labuan Angsana karena tertuduh sebagai pelaku pembunuhan terhadap atasannya itu.
Lapas Labuhan Angsana merupakan Lapas yang penuh dengan aksi kekerasan dan penindasan yang dilakukan oleh pejabat Lapas terhadap para narapidana, maupun antar narapidana itu sendiri.
Sejak Dimas bergabung sebagai narapidana di Lapas Labuan Angsana, banyak kejadian-kejadian misterius yang terjadi di sana. Teror-teror brutal semakin menambah kengerian di Lapas itu. Banyak narapidana yang mati terbunuh secara mengerikan tanpa diketahui siapa pelakunya. Hingga diduga sebuah entitas supernatural yang menjadi dalang dibalik teror-teror mengerikan ini. Apa yang sebenarnya terjadi di Lapas Labuan Angsana?.
Riview Singkat Film Ghost In The Cell
Selama 96 menit menonton film Ghost In The Cell, atmosfer horor yang disajikan begitu intens sesuai dengan ciri khas film Joko Anwar. Kengerian dan aksi brutal sudah disaksikan oleh penonton sejak menit awal, saat terbunuhnya atasan Dimas hingga menit-menit akhir film. Adegan-adegan berdarah begitu mendominasi seolah tanpa jeda sehingga wajar jika rating untuk film ini khusus untuk orang dewasa, umur 17+. Tapi, sayangnya tak sedikit anak-anak di bawah umur ikut menyaksikan film ini, diajak orang tuanya pula.
Meski atmosfer horor/thiller yang disajikan begitu intens, kuat, dan mengerikan, tapi film ini masih menyisipkan komedi yang bisa membuat penonton satu studio terbahak bersama-sama. Awalnya, kukira peran Aming di film ini sebagai tokoh lucu seperti biasanya. Tapi, di film Ghost In The Cell Aming memerankan Tokek, salah satu narapidana dengan penampilan seram, mengerikan dan suka mengintimidasi. Psikopat. Menurutku ini benar-benar penampilan terbaru dan terkerennya Aming.
Selain Aming, ada juga aktor keren lainnya yang melengkapi keseruan alur cerita film ini, seperti Abimana Aryasatya, Lukman Sardi, Morgan Oey, Tora Sudiro, Dimas Danang, Yoga Pratama, Mike Lucock, Kiki Narendra, dan Arswendy Bening Swara. Tak lupa juga ada Bront Palarae yang kerap mewarnai film karya Joko Anwar. Sampai-sampai setiap kali melihat aktor ini muncul, dengan sotoynya aku bisa menebak 'ini pasti filmnya Joko Anwar'. Wkwkwk.
Aktor-aktor keren ini saling beradu akting membawakan perannya masing-masing. Melalui dialog-dialog yang mereka sampaikan, Joko Anwar pun berani menyentil isu-isu yang ada di sekitar, seperti para pejabat yang korup, penegakan hukum yang bobrok, serta aktivis yang dulu membela rakyat malah korup dimasa tuanya. Bahkan, situasi di dalam Lapas sekalipun tak terhindar dari aksi korup yang terjadi antara pimpinan sipir dan narapidana. Memang bikin geleng-geleng kepala mengingat realitas saat ini.
Namun, dari segi cerita, menurutku film Ghost In The Cell ini memang agak absurd dengan menceritakan sebuah entitas negatif atau roh jahat yang ingin balas dendam, membunuh manusia-manusia yang beraura negatif. Meski agak absurd, aku masih menangkap pesan di sana dengan mengesampingkan roh jahat. Manusia bisa mati oleh energi negatifnya sendiri.
Sependek pengetahuanku, anggaplah roh jahat itu sebagai setan yang ingin menguasai manusia untuk menjauh dari Tuhannya. Setan menyukai manusia-manusia yang rapuh dan putus asa. Setan akan masuk kedalam hati manusia-manusia yang dikuasai energi negatif yang mana dalam film ini digambarkan dengan aura merah atau aura gelap. Roh jahat itu masuk ke dalam tubuh manusia yang dikuasai energi negatif atau memiliki aura merah, lalu membunuhnya.
Seperti halnya setan yang terus membisikkan keterpurukan pada manusia-manusia yang jauh dari Tuhannya sehingga manusia bisa mengundang energi negatif hadir dalam dirinya, lalu menciptakan pribadi yang negatif pula yang mana lambat laun mereka akan terbunuh oleh dirinya sendiri.
Selain itu, aku juga pernah baca dalam sebuah artikel bahwa 90% penyakit bermula dari pikiran, stres, emosi negatif, lalu melemahkan sistem imun hingga mengganggu kesehatan fisik.
Maka, jadilah manusia yang baik, berperilaku baik sehingga hal-hal-baik yang akan menghampiri, biasakan berpikir positif, terutama selalu berprasangka baik pada ketetapan Tuhan. Seperti itulah pesan yang kutangkap dari cerita roh jahat yang mengincar manusia beraura merah atau gelap di film Ghost In The Cell.
Secara keseluruhan film Ghost In The Cell ini sangat seru untuk disaksikan. Dibalik cerita yang absurd menyimpan banyak keseruan, kelucuan, kengerian, kritikan dan pesan-pesan di dalamnya. Apalagi saat roh jahat itu menghabisi pejabat korup di sana, rasanya ada kepuasan tersendiri, membuat penonton seperti aku jadi berandai-andai (hihihi). Ada juga scene yang mengandung bawang yang membuat film ini makin berasa nano-nanonya. Aku mau kasih rate 4 dari 5 untuk film Ghost In The Cell.
Semoga diary ini bermanfaat dan bisa menghibur. Terima kasih sudah membaca diaryku.



Komentar
Posting Komentar