Assalamu'alaikum Diaris.
Sebagai penikmat makanan pedas, sedih rasanya ketika bermasalah dengan asam lambung. Padahal semuanya juga ulah diri sendiri, menyiksa lambung hampir setiap hari dengan memakan makanan pedas yang pada akhirnya mengiritasi dinding lambung.
Sejak aku tahu punya masalah dengan asam lambung yang sering naik-turun ini, aku mulai memperhatikan asupan makanan, mulai dari mengurangi makanan pedas, makanan kesukaanku. Jujur, aku belum bisa sepenuhnya menghindari makanan pedas. Makan tanpa sambal tuh, rasanya seperti taman tak berbunga. Hampa. Aku masih makan sambal hingga saat ini, hanya tingkat kepedasannya saja yang dikurangi. Yaaaa, hangat-hangat kuku gitu.
Jika dulu aku selalu minta tambahan sambal, sekarang aku hanya mencocolnya seujung kuku saja. Agak aneh sih rasanya, tapi tak apa-apa, yang penting masih ada rasa hangat-hangatnya di lidah. Daripada aku cocol banyak-banyak. Nikmat sih di mulut, tapi nanti bergejolak di perut.
Bukan hanya sebagai penikmat makanan pedas saja yang membuat asam lambungku naik-turun, melainkan aku juga merupakan manusia yang cukup terlatih menahan rasa lapar.
Alasan Terlatih Tahan Lapar
Waktu kecil aku memiliki jadwal makan yang bisa dikatakan cukup teratur karena Mama yang begitu telaten mengaturnya. Bukan hanya untuk aku saja, melainkan jadwal makan untuk satu keluarga.
Sama seperti jadwal makan pada umumnya, sehari makan tiga kali, yaitu sarapan, makan siang, dan makan sore/malam dengan menu lengkap nasi beserta lauk pauknya. Selama dalam pengasuhan Mama secara langsung, hidupku memang cukup disiplin, khususnya dalam jam makan. Telat makan, langsung kena omel.
Sayangnya, aku tinggal bersama Mama hanya sampai usia 14 tahun, atau tepatnya kelas 3 SMP. Sejak duduk di bangku SMA, aku mulai belajar merantau kecil-kecilan, tinggal jauh dari kedua orang tua. Aku tinggal bersama Nenek dan Kakek, orang tua dari Bapak yang sebenarnya masih sama-sama berada di wilayah Kabupaten yang sama, yakni Sukabumi.
Selama duduk di bangku SMA, yakni tiga tahun lamanya, aku tinggal di rumah Nenek dan Kakek. Hal ini ternyata menjadi asal muasal aku terlatih tahan lapar. Dengan membaca ini, mungkin diantara Diaris ada yang mengira bahwa Nenek dan Kakekku bukan orang baik, tidak memberi makan cucunya sehingga cucunya harus menahan lapar.
Tidak seperti itu, Nenek dan Kakekku itu orang yang baik, sangat baik. Mereka tidak pernah menelantarkan cucunya, mereka tidak pernah ngomel apalagi marah-marah, mereka juga tidak pernah menyuruhku melakukan apapun, mereka memberi kebebasan selama aku tinggal di sana. Lantas, kenapa aku harus menahan lapar?.
Semua permasalahan ada pada diriku sendiri. Entahlah, meski Nenek dan Kakekku selalu berusaha membuat suasana nyaman di rumah agar aku betah selama tinggal dengan mereka, tapi kenyataannya aku memang tidak betah tinggal di sana. Aku bertahan selama tiga tahun tinggal di sana hanya untuk melanjutkan pendidikan.
Selama tinggal bersama Nenek dan Kakek, yaitu orang tua kandung dari Bapak, aku merasa seperti orang asing di rumah itu. Rasanya begitu kaku. Nenek dan Kakek seperti orang lain di mataku yang mana aku selalu sungkan pada mereka. Mungkin karena sejak kecil aku sangat jarang berinteraksi dengan mereka. Tidak seperti Kakakku yang lebih dulu tinggal bersama Nenek dan Kakek.
Waktu kecil Kakakku sering berkunjung ke rumah Nenek dan Kakek setiap libur sekolah. Dia juga tinggal bersama Nenek dan Kakek sejak duduk di bangku SMP. Kurasa wajar jika Kakakku lebih dekat dengan mereka dibandingkan aku yang selalu merasa ada jarak. Diaris tahu, sejauh apa jaraknya?, sejauh aku tidak berani bilang pada mereka kalau aku lagi sakit.
Seringnya setiap aku sakit, yang pertama kali kukabari adalah Bapak yang posisinya nun jauh di sana. Kemudian Bapak akan memberitahukan hal tersebut pada Nenekku. Sesungkan itulah aku pada Nenek dan Kakek. Terserahlah, jika ada yang anggap aku aneh. Memang aneh. Tapi, seperti itulah kenyataannya.
Selain itu, aku juga sering merasa sungkan perihal makan. Ini yang menjadi cikal bakal aku begitu terlatih menunda lapar (hihihi) pada akhirnya. Memang tidak selalu, tapi ada beberapa kali, dan bisa dikatakan cukup sering aku merasa sungkan untuk makan lebih dulu, sebelum Nenek dan Kakekku makan. Tak jarang aku menunggu Nenek dan Kakekku dulu ketika mau makan supaya kami makan bersama-sama. Padahal Nenek dan Kakekku tidak mempermasalahkan itu, aku boleh makan kapan saja.
Entahlah, selama tinggal di rumah Nenek dan Kakek, aku selalu merasa tidak bebas bergerak. Hingga tibalah aku lulus sekolah. Aku melanjutkan pendidikan di Kota Bogor. Di sana aku tinggal sendiri, di sebuah tempat kost khusus perempuan. Hmmm, rasanya seperti baru menemukan duniaku. Bahagia. Aku punya ruang untuk diriku sendiri. Aku bisa bebas berekspresi di sana, tidak kaku, tidak pula sungkan seperti yang kurasakan selama tinggal di rumah Nenek dan Kakek.
Jadwal makanku selama merantau untuk kuliah cukup teratur. Aku makan tiga kali dalam sehari. Hanya saja, ada beberapa kali menu makananku tidak selalu bergizi. Biasanya menjelang akhir bulan. Maklum, ada keterbatasan dalam hal finansial (wkwkwk).
Ada beberapa kali aku makan dengan lauk keripik pisang yang kubawa sepulang mudik, pernah juga nasi panas yang kubaluri sisa margarin bl** band dan kerupuk. Sedih sih, tapi mau bagaimana lagi, banyak keperluan kuliah tak terduga yang menguras uang makanku. Orang tuaku juga bukan orang kaya yang bisa kapan saja kumintai uang. Aku nggak tega. Sampai akhirnya aku berinisiatif jualan pulsa di kampus untuk menambah pemasukan. Setidaknya aku bisa pakai uang itu untuk membantu memenuhi keperluan kuliah, tanpa harus mengganggu uang makan.
Lulus kuliah, alhamdulillah aku langsung bekerja. Aku punya penghasilan yang cukup. Aku tidak lagi punya masalah dengan keuangan. Aku bisa membeli makanan yang aku suka. Namun, aku punya masalah dalam mengatur waktu makan. Pernah sesekali aku lupa sarapan, atau sarapan hanya sekadarnya saja. Tak jarang juga telat makan siang karena sibuk dengan pekerjaan. Kebiasaan menunda lapar pun semakin terbentuk, ditambah lagi aku semakin doyan makan pedas. Lengkap sudah penyiksaan lambungku.
Saat itu aku belum banyak tahu bahwa menunda lapar ternyata bisa membuat lambung iritasi. Aku juga sering menyangkal ketika badan mulai berontak. Aku tetap tidak memperbaiki pola makanku. Akhirnya, lambungku benar-benar ambruk ketika aku sedang dalam fase kehamilan trimester pertama.
Mual dan muntah memang wajar terjadi pada wanita yang tengah hamil muda. Namun, hal ini bisa menjadi parah jika kondisi lambung tidak baik-baik saja. Mual dan muntah yang kualami cukup parah. Bahkan, aku sampai muntah darah hingga harus melakukan pengobatan lambung selama nyaris satu bulan lamanya.
Waktu itu aku benar-benar muak minum obat karena saking banyaknya. Aku juga muak makan bubur karena selama pengobatan, aku harus makan makanan yang bertekstur lembut. Mulai dari makanan berat hingga camilan, semuanya bertekstur lembut.
Sejak saat itu, aku mulai menyadari bahwa kondisi lambungku sudah tak sama seperti sebelumnya. Aku harus menjaga pola makanku supaya lambungku tidak sering berontak seperti bulan Ramadan kemarin.
Sebenarnya bulan Ramadan kemarin aku sudah berusaha benar-benar menjaga pola makan. Bahkan, aku juga tidak lagi membiasakan makan gorengan dan es buah saat buka puasa yang sering membuat perut begah. Setiap buka puasa, aku hanya minum air putih dan kurma, lalu makan nasi dan lauk pauknya setelah dijeda salat Magrib. Pun setelah sahur tak kubiasakan tidur lagi untuk mencegah perut begah saat bangun tidur.
Namun, entah kenapa lambungku seolah sedang dalam mode tak bersahabat. Perutku begah, panas ulu hati, kadang ada sensasi mual juga. Badan rasanya lemas sepanjang hari. Lemas yang tak seperti biasanya. Awalnya kupikir mungkin ini masa adaptasi tubuh diawal bulan Ramadan yang memang biasa kurasakan. Biasanya hal ini terjadi selama 2-3 hari pertama menjalankan puasa.
Tapi, setelah kuperhatikan, kondisi ini tetap berlangsung hingga memasuki hari ke-10 bulan Ramadan. Kupikir ada yang tak beres dengan tubuhku yang mungil ini. Aku tak bisa terus-menerus dalam kondisi seperti ini, mengingat banyak pekerjaan rumah yang harus kukerjakan. Aku jadi tak maksimal dalam beraktivitas, apalagi aku harus membersamain anak balita.
Aku mulai mencari informasi di internet seputar asam lambung yang ternyata bisa juga dipicu karena kurang tidur. Tak dipungkiri selama bulan Ramadan, aku memang kurang tidur. Ditambah lagi aku jarang tidur setelah sahur, apalagi tidur siang yang rasanya agak sulit juga kulakukan karena anak balitaku tak jarang selalu minta ditemani bermain. Mau tidak mau, aku harus menyiasati untuk tidur malam lebih awal, dan faktanya itu pun agak sulit dilakukan.
Apa Itu Air Nabeez?
Sampailah suatu hari. Hari itu, jadwalku nyetrika pakaian. Seperti biasa, aku selalu nyetrika pakaian sambil ditemani tontonan youtube. Entah kenapa aku sedang ingin menonton kajian Ustadz Felix Siauw hari itu. Aku ketik nama beliau di kolom pencarian, lalu munculah kanal youtubenya Raymond Chin ft. Ustadz Felix Siauw (aku lupa judulnya). Klik. Nyetrikalah aku sambil nonton.
Aku lupa persisnya dimenit ke berapa, Ustadz Felix Siauw bercerita tentang minuman kesukaan Rasulullah SAW, yaitu Nabeez. Nabeez merupakan minuman yang terbuat dari rendaman kurma. Aku menyebutnya infused water kurma, padahal lebih simpel Nabeez ya (hihihi).
Ustadz Felix Siauw juga bercerita pengalaman kebiasaannya mengonsumsi air Nabeez ini membuat dirinya merasa segar dan berenergi sepanjang hari. Rasanya seperti kenyang, meski belum makan. Wah, mendengar itu aura kepoku meronta-ronta. Aku mencari informasi seputar air Nabeez ini di internet.
Masya Allah. Ternyata air Nabeez ini banyak manfaatnya, diantaranya:
1. Melancarkan pencernaan secara optimal.
2. Menghidrasi tubuh
3. Menambah energi
4. Menjaga kesehatan jantung
5. Mengontrol gula darah
6. Detoksifikasi tubuh
7. Memperlambat penuaan
Itulah beberapa manfaat dari air Nabeez yang berhasil aku temukan melalui beberapa website kesehatan. Disamping itu, yang paling menarik perhatian aku, kurma juga memiliki sifat basa yang mampu menetralkan asam lambung berlebih, serta dapat meredakan iritasi di lambung.
Cara Membuat dan Mengonsumsi Air Nabeez
Setelah mendengarkan paparan Ustadz Felix Siauw dan membaca beberapa informasi tentang air Nabeez, kini waktunya aku mempraktikannya. Dengan semangat yang membara (lebay bin alay), malam itu aku mulai membuat Air Nabeez.
Alat dan bahan:
Tumbler
5 butir kurma
300 ml air galon suhu normal
Cara membuat:
1. Buang biji kurma, lalu suir-suir.
2. Masukan suiran kurma ke dalam tumbler
3. Tuangkan 300 ml air ke dalam tumbler
4. Tutup rapat tumbler
5. Simpan di dalam kulkas selama 8-12 jam
Seperti itulah resep air Nabeez yang aku buat. Biasanya aku pakai 5 butir kurma untuk 300 ml air. Untuk jumlah kurmanya sendiri dianjurkan menggunakan jumlah ganjil, seperti 3, 5, dan 7 seperti sunah Rasulullah SAW. Aku pernah baca juga penjelasan secara medis, kenapa jumlah kurmanya harus ganjil?. Diaris bisa cari tahu sendiri di internet ya (hihihi). Sedangkan untuk jenis kurmanya bisa bebas pakai kurma apa saja. Tapi, jika ingin mengikuti sunah, Rasulullah menggunakan kurma ajwa. Air Nabeez ini dikonsumsi saat perut dalam keadaan kosong, seperti sebelum sarapan, sebelum sahur, atau sebelum berbuka.
Pertama kali aku mengonsumsi air Nabeez ini saat bulan Ramadan. Aku meminumnya dua kali sehari, sebelum sahur dan sebelum berbuka. Setelah tiga hari berturut-turut mengonsumsi air Nabeez, alhamdulillah atas izin Allah SWT asam lambungku membaik. Aku tidak merasakan begah, panas di ulu hati hingga mual. Bahkan, aku juga benar-benar tidak merasa lemas seharian selama bulan puasa padahal waktu itu aku sedang tidak enak badan karena gejala flu. Walaupun menjelang berakhirnya bulan Ramadan, aku tetap ambruk juga karena tak kuasa menahan demam yang berkepanjangan.
Namun, selebihnya air Nabeez ini benar-benar minuman berenergi yang alami. Bahkan, Aku masih mengonsumsi air Nabeez hingga sekarang. Aku minum saat pagi sebelum sarapan. Oh iya, sedikit informasi tambahan juga bahwa air Nabeez ini tidak boleh direndam lebih dari tiga hari karena berpotensi terfermentasi.
Untuk penyimpanan air Nabeez ini sebenarnya boleh di suhu ruangan. Tapi, lebih diajurkan di dalam kulkas untuk mencegah fermentasi lebih cepat, menjaga keamanan nutrisi, menghambat pertumbuhan bakteri, dan tentunya agar terasa segar saat dikonsumsi.
Perihal masalah asam lambungku, apakah benar-benar sembuh dengan hanya mengonsumsi air Nabeez?. Jawabannya, tentu tidak. Air Nabeez ini sebagai ikhtiar terapi saja. Mengatasi masalah asam lambung tetap harus memerhatikan pola hidup sehat, mulai dari asupan makanan, tidur yang cukup, serta pikiran yang selalu positif, dan air Nabeez sebagai pelengkapnya.
Itulah ceritaku bersama air Nabeez. Bagi Diaris yang memiliki permasalahan dengan asam lambung seperti yang aku alami, aku rekomendasikan komsumsi air Nabeez ini sebagai salah satu ikhtiarnya. Semoga Allah SWT sembuhkan dan kita semua selalu diberi kesehatan, serta keberkahan. Aamiin. Semoga bermanfaat. Terima kasih sudah membaca diaryku.
Sumber:
Alodokter (2023). Kenali 5 Manfaat Air Nabeez bagi Kesehatan.
Halodoc (2023). Nabeez: Minuman Sehat Kurma.
Hello Sehat (2023). Manfaat Air Rendaman Kurma.
Komentar
Posting Komentar