Januari sama dengan hujan sehari-hari, begitu kata almh. Mamaku. Bukan januari kalau nggak hujan setiap hari, dari pagi hingga malam hari. Meskipun hujan, semangat anak balitaku tetap membara untuk berangkat ke tempat les, yakni KUMON. Alhamdulillah KUMON menerapkan waktu belajar yang fleksibel sehingga anak balitaku bisa menunggu hujan reda untuk berangkat kesana.
Alhamdulillah kurang lebih tiga bulan sudah anak balitaku les di KUMON dengan pilihan subjek bahasa inggris. Selama tiga bulan ini, dia sudah melewati dua level, yaitu level 7A dan 6A, dan sekarang sedang belajar materi di level 5A. Aku berharap semoga semangat belajarnya selalu terpelihara dengan baik.
Belajar Apa Aja Di Level 7A, 6A, dan 5A EFL KUMON
Level 7A merupakan level awal dalam subjek bahasa inggris atau lebih familiar disebut EFL (english as a foreign language). Di level ini, siswa akan belajar mengenal ragam kosakata sehari-hari, mulai dari hewan, alat transportasi, buah-buahan, makanan, dan sebagainya yang biasa ditemui umumnya sehari-hari. Kalau kataku, di level 7A ini siswa belajar mengenal ragam kata benda (noun).
Setelah menyelesaikan level 7A, siswa akan naik level ke 6A, dimana di sini siswa belajar kosakata, seperti mengenal warna, angka, gender, serta perbandingan, misalnya besar dan kecil, berat dan ringan, panjang dan pendek, dan sebagainya. Selain itu, siswa juga belajar mengenal frasa, umumnya dalam dua kata, seperti one dog, ten eggs, a red umbrella, a heavy rock, a light bag, dan sebagainya. Jika boleh kusimpulkan, di level 6A ini siswa belajar mengenal kata sifat (adjective).
Selanjutnya, siswa akan masuk ke level berikutnya yaitu level 5A. Anak balitaku sedang belajar di level ini, level dimana siswa belajar mengenal kata kerja (verb) dalam bentuk sebuah kalimat, seperti the boy is jumping, the girl is swimming, the woman has a spoon, dan sebagainya. Saat menemani anak balitaku belajar ini, aku jadi ingat waktu sekolah dulu, aku belajar materi semacam ini saat duduk di kelas 1 SMP, sedangkan anak balitaku sudah mengenalnya diusia balita.
Begitulah sedikit gambaran tentang materi belajar EFL di kumon untuk level awal seperti yang dipelajari anak balitaku. Awalnya, menurutku sekilas materinya tampak rumit untuk seumuran anak balita, apalagi yang level 5A. Akan tetapi, faktanya nggak serumit itu karena sistem belajar di KUMON itu bertahap sesuai dengan kemampuan siswa.
Listen and Repeat, Lalu Konsisten
Anak balita, atau pra sekolah yang umumnya belum bisa membaca, tentu tidak akan merasa kesulitan untuk mengikuti materinya karena di level awal ini KUMON menggunakan metode listen and repeat. Mendengarkan suara native speaker dari audio listening, lalu mengucapkan kembali apa yang ia dengar sambil melihat gambar yang terdapat pada lembar kerja agar siswa mudah memahami kata atau kalimat yang baru saja didengarkannya melalui audio listening.
Aku belum tahu apakah metode listen and repeat ini digunakan hanya di level awal, atau memang digunakan di semua level. Tapi, kurasa metode ini tetap digunakan di semua level, mengingat KUMON menerapkan self learning system, dimana siswa bisa belajar secara mandiri dengan menggunakan metode listen and repeat.
Baca juga: KUMON Pra Sekolah, Belajar Apa Aja Sih?
Metode seperti ini ternyata cukup membantu dalam proses belajar, khususnya untuk anak balita yang umumnya belum bisa membaca.
Tak hanya untuk belajar EFL di KUMON saja, metode semacam ini sebenarnya sudah kuterapkan pada anak balitaku sejak dia berusia kurang lebih 2 tahun. Aku menggunakan metode ini untuk mengenalkan surat-surat pendek dalam Al-qur'an pada anak balitaku.
Setiap malam, sebelum tidur aku punya rutinitas mengusap-usap punggung anak balitaku sambil melafalkan surat-surat pendek, mulai dari Al-fatihah, Ayat Kursi, Al-ikhlas, Al-falaq, An-nas, lalu ditutup dengan do'a mau tidur. Saat itu, aku tidak menuntut anak balitaku untuk bisa melafalkannya juga. Aku hanya ingin menciptakan kebiasaan baik sebelum tidur. Dengan mata terkantuk-kantuk, dia mendengarkan bacan surat-surat pendek tersebut hingga terlelap.
Surprisingly, rutinitas tersebut membuat anak balitaku bisa melafalkan surat-surat pendek yang biasa kulafalkan. Aku benar-benar dibuat terkejut. Waktu itu usianya baru 3 tahun, aku iseng meminta dia melafalkan do'a mau tidur, dan dia bisa melakukannya, begitu pun dengan surat-surat pendeknya.
Sejak saat itu, aku jadi sering menggunakan cara ini untuk mengenalkannya dengan do'a lainnya, seperti do'a bangun tidur, do'a mau makan dan setelah makan, do'a masuk dan keluar kamar mandi, dan sebagainya. Bahkan cara ini juga ternyata telah mengajarkannya membaca.
Do'a dan Konsisten Belajar
Seperti yang telah kutulis di diary sebelumnya bahwa aku punya rutinitas membaca buku bersama-sama dengan anak balitaku. Hal ini kulakukan sejak anak balitaku masih bayi. Aku nggak berharap banyak pada anakku yang masih bayi saat itu, aku hanya ingin mengenalkan kegiatan membaca buku pada anakku ditengah virus gadget yang merebak di zaman ini.
Aku ajak anakku duduk dipangkuanku, lalu aku membacakan buku bacaan bergambar yang seru-seru. Anak balitaku fokus mendengarkanku, matanya tertuju pada gambar dan tulisan di buku. Hal ini kami lakukan secara rutin setiap hari, namanya juga rutinitas kan ya. Tanpa kusadari, rutinitas ini telah merangsang kemampuan membaca anak balitaku sehingga diusianya yang saat itu menginjak 3,5 tahun, dia sudah bisa membaca. Masya Allah Tabarakallah.
Rutinitas-rutinitas ini kuanggap sebagai eksperimen tanpa disengaja yang telah membuktikan bahwa metode listening seperti ini membantu memudahkan proses belajar pada anak, dengan catatan konsisten dilakukan. Konsistensi merupakan salah satu bentuk latihan untuk mecapai hasil yang baik.
Sebenarnya aku agak ragu sih, apakah rutinitas seperti ini bisa diterapkan dalam proses belajar setiap anak atau tidak, mengingat setiap anak memiliki karakteristik yang berbeda. Namun, aku percaya bagaimanapun metode belajarnya, selama konsisten dilakukan, Insya Allah bisa mencapai keberhasilan.
Coba deh, perhatikan orang-orang yang berhasil meraih kesuksesannya, misalkan seorang atlet yang berhasil menjuarai olimpiade, sudah dapat dipastikan salah satu kuncinya adalah konsisten berlatih. Seseorang yang berhasil menjaga tubuh idealnya karena dia konsisten menerapkan pola hidup sehatnya. Begitupun dengan siswa yang pintar, tentu karena dia konsisten belajar setiap hari, dan masih banyak contoh lainnya. Tapi, jangan lupa sertakan do'a dalam setiap usaha karena hasil akhir berdasarkan kendendak Allah SWT.
Salah satu hal yang aku sukai di KUMON ini adalah konsistensi belajar yang diterapkannya. Setiap selesai belajar di kelas yang hanya dua hari dalam seminggu itu, semua siswa diberi worksheet untuk dikerjakan setiap hari selama di rumah.
Worksheet ini bisa berlembar-lembar jumlahnya, dan memang tampak memuakkan jika semuanya dikerjakan dalam satu hari sekaligus. Terkadang hal ini yang menjadi salah paham dan membuat siswa merasa tertekan karena mengerjakan semua worksheet bersamaan dalam satu hari. Padahal tidak begitu ya, worksheet yang berlembar-lembar itu untuk dikerjakan setiap hari, dengan tujuan agar siswa memiliki waktu belajar setiap harinya selama di rumah sekalipun di hari libur.
Alhamdulillah selama mengikuti les di KUMON, anak balitaku perlahan mulai terbiasa dengan waktu belajarnya saat di rumah. Dia juga konsisten mengerjakan worksheet EFL setiap hari tanpa disuruh, apalagi dipaksa. Mudah-mudahan hal ini berlanjut hingga dia sekolah nanti. Dia punya kesadaran sendiri untuk belajar, pun saat mengerjakan PR sekolah kelak.
Oh iya, bagi Diaris yang penasaran dengan metode belajar di KUMON, aku mau infokan bahwa di bulan februari 2026 ini ada event coba gratis di KUMON. Dalam event ini, Diaris bisa mengikuti pembelajaran di KUMON secara free, biasanya untuk empat kali pertemuan. Untuk info selanjutnya bisa hubungi KUMON terdekat.
Semoga diary kali ini bermanfaat, dan terima kasih sudah membaca diaryku.
Komentar
Posting Komentar