Langsung ke konten utama

Ceritaku Pasca Lahiran Pertama Kalinya (Agak Jorok)


 Assalamu'alaykum Diaris.

Alhamdulillaah akhir-akhir ini aku disibukkan dengan suatu keadaan yang mengharuskan bolak-balik Rumah Sakit. Rumah Sakit yang kukunjungi adalah Rumah Sakit yang menyimpan ragam kenangan di setiap sudutnya. Dari pintu lobby tampak ruang IGD, tempat dimana almarhumah Mama mengembuskan napas terakhirnya. Aku melanjutkan langkah dan tepat di depanku ruang Radiologi, tempat dimana aku melakukan rontgen saat usus buntu dan periksa thorax saat lahiran.

Aku menuju lantai dua, tempat dimana aku dan suami bertemu anakku yang masih dalam kandungan dua tahun lalu, juga tempat dimana aku dan anakku berjuang untuk segera bertemu. Hmmm.. diam-diam aku merindukan momen itu. Momen lahiran yang pernah ku ceritakan di diary sebelumnya. Rasa bahagia saat itu masih terasa sampai detik ini.

Baca juga : PENGALAMAN LAHIRAN NORMAL ANAK PERTAMA DI RUMAH SAKIT

Aku kembali mengingat waktu itu hari Jum'at sekitar pukul 14.09 WIB kalau nggak salah, bayiku lahir ke dunia. Siang itu aku masih nggak percaya bahwa aku bisa melahirkan, semuanya tiada lain atas kuasa Alloh Swt. Aku mendengar suara tangisan bayiku begitu keras bersamaan dengan mengempisnya perutku. Waktu itu aku ingin nangis karena terharu, tapi air mataku nggak keluar, saking bahagianya. Seorang bidan menempelkan bayi itu di dadaku untuk dilakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) walaupun hanya sebentar karena katanya bayiku akan segera dibersihkan dan juga diadzani oleh suamiku. Setelah itu aku LDRan dengan si bayi karena harus dilakukan observasi selama 24 jam.

Di ruang persalinan hanya ada aku, dua perawat yang sedang membersihkan ruangan, serta dua orang bidan yang tengah membantu dokter obgyn yang sibuk menjahit luka episiotomi. Meski dibius, tetap saja selama proses penjahitan terasa linu-linu mantap gimanaa gitu, apalagi waktu Dokter Obgyn bilang ada bagian yang mesti dijahit lagi karena masih ada darah yang mengalir dan itu tanpa suntik bius dulu karena katanya hanya sedikit, rasa linunya tambah sedep. Sesekali aku kena omel beliau karena banyak gerak. Ya gimana ya, linu loh dok dijahit tanpa bius.

Proses jahit sudah selesai. Luka jahitan ditutupi dengan entah itu kapas atau kassa yang telah ditambahkan antiseptik, baunya sih bau betadine, selanjutnya ditutup dengan pembalut maternity. Rasanya 'nyessss' pisan. Para tenaga kesehatan pergi meninggalkanku seorang diri. Aku masih dalam posisi terbaring dengan lutut yang ditekuk. Nggak lama kemudian suamiku masuk dengan membawa makanan. Sepertinya dia lapar karena setahuku dari pagi memang belum makan. Pun sama denganku yang baru makan dua suap nasi goreng Rumah Sakit dan itu pun keluar lagi karena aku sempat muntah di bukaan sembilan. Aku melirik sisa nasi goreng yang masih ada di meja samping tempat tidurku, aku juga lapar. Kayaknya aku belum pernah deh merasakan selapar ini, rasanya seperti baru saja melakukan aktivitas berat dan butuh energi banyak. Akhirnya ku makan sisa nasi goreng itu beberapa suap.

Tak lama kemudian perawat memanggil suamiku dan aku pun ditinggal sendiri ruangan itu sebelum akhirnya seorang perawat lain masuk ke kamar dan menanyai kondisiku apakah masih pusing atau nggak. Sejujurnya dari tadi aku belum merasakan pusing, mungkin karena posisiku yang belum berubah, masih baringan. Perawat itu membantuku untuk duduk. Asli sih saat itu kleyengan banget. Darah tuh rasanya turun semua dari kepala. Saat proses persalinan tadi aku memang sempat alami pendarahan.  Badanku rasanya lemas, pusing, kakiku terasa mengambang.

Aku diminta untuk duduk sejenak sebelum akhirnya diajak ke kamar mandi untuk melakukan buang air kecil pertama kali setelah proses persalinan pervaginam. Aku didampingi perawat menuju ke kamar mandi. Aku hampir jatuh karena merasa tidak bertenaga ditambah pusing  yang melanda, belum lagi dari panggul sampai kaki masih terasa kaku, khususnya area selangkangan, rasanya begitu sulit diajak melangkah. Sesampainya di kamar mandi aku diminta untuk buang air kecil. Kupikir mudah, ternyata tak segampang itu. Otot-otot area organ kewanitaanku yang kaku sulit untuk merangsang BAK, terpaksa harus dipancing dengan menyiramkan air ke area luka jahitan. Rasanya nyesssss banget, perih, tapi aku berhasil BAK. Alhamdulillaah. Setelah itu aku pun dipindahkan ke ruang rawat inap untuk istirahat, diantar oleh seorang perawat.

Setelah berada di ruang rawat inap, aku ditinggal lagi seorang diri. Aku juga belum mengetahui keberadaan suamiku dimana, tapi tak lama kemudian pintu ruang rawat inap dibuka, suamiku masuk, mukanya tampak lelah. Dia bercerita tentang apa yang baru saja dilakukannya, mulai dari mengadzani, menyiapkan keperluan bayi selama di ruang Perina, mengambil vaksin, dan lain sebagainya. Setelah istirahat sejenak, dia pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih dan makan sore, eh salah, dari pagi suamiku baru makan.

Malam itu aku dipersilakan untuk full istirahat mumpung bayiku masih diobservasi, tapi ya gimana aku nggak bisa betul-betul tidur dengan nyenyak, pasti terbangun sampai tak terasa sudah pagi hari. Setelah bersih-bersih aku sarapan, pun sama dengan suamiku. Hari itu hari Sabtu aku merasa senang campur bingung, mungkin seperti itu juga yang dirasakan suamiku. Senang karena hari itu aku akan bertemu dengan bayiku setelah 24 jam tak bertemu karena masa observasi (Fyi, bayi baru lahir bisa bertahan 2-3 hari tanpa ASI, makananya), tak sabar rasanya ingin segera memberinya ASI untuk kedua kalinya setelah IMD, sedangkan bingung karena ini merupakan pengalaman pertama mengasuh bayi merah, ditambah kondisiku masih belum stabil, untuk berjalan pun masih tertatih-tatih, tapi tetap harus semangat pulih ya.

Di musim Covid-19 yang masih mewabah waktu itu, Rumah Sakit hanya mengizinkan satu orang saja yang mendampingi setiap pasien.  Aku hanya ditemani suami, sedangkan mertua menunggu di rumahku. Sekitar siang, after lunch, dua orang perawat masuk ke kamarku dengan satu box bayi yang berisi anakku. Bahagia rasanya. Bayiku saat itu dalam posisi terjaga. Salah seorang perawat mengajarkanku dan suami bagaimana caranya menggendong, mengganti popok, cara menyusui yang benar, serta memakaikan bedong yang sebenarnya digunakan untuk menyelimuti bayi, katanya sih biar tidurnya nyenyak, tapi bayiku tak betah dalam balutan bedong, hehehe.

Setelah selesai memberi arahan kepada para orangtua newbie ini, perawat itu pun meninggalkan kami bertiga. Barulah kami merasa panik saat bayi menangis, seperti biasa kan hal pertama yang dilakukan adalah menyusuinya sampai bayi kenyang dan tertidur, tapi ya namanya bayi saat ditaruh dalam box dia terbangun lagi, begitulah ya kira-kira. Suamiku mencoba menggendongnya, tangannya tampak gemetar, maklum ya masih newbie. Kami yang masih kaku, masih minta tolong perawat untuk menggantikan popok saat bayiku poo atau buang air kecil. Hari Sabtu itu kami habiskan dengan drama-drama gemes orangtua newbie hingga tak terasa hari telah berganti.

Hari Minggu adalah jadwalnya kami pulang. Ada sedikit kekhawatiran dalam diriku saat hendak meninggalkan Rumah Sakit. Aku takut tak bisa merawat bayiku dengan baik, padahal di rumah ada mertua yang bisa dikatakan sudah berpengalaman dalam merawat bayi, tapi tetap saja rasa khawatir menyelimuti. Minggu pagi Dokter Spesialis Anak visit ke ruanganku untuk memeriksa kondisi bayiku. Overall its ok hanya saja bayiku mulai tampak kuning, tapi itu hal wajar terjadi pada bayi baru lahir selama jumlah bilirubinnya dalam batas wajar, pesannya hanya beri ASI sesering mungkin, kebetulan saat itu ASIku masih sedikit.

Minggu siangnya Dokter Obgyn visit untuk memeriksa kondisiku, untuk luka jahitannya sudah menutup kering katanya, beliau juga bertanya apakah aku sudah BAB atau belum, jujur sih aku belum BAB sampai saat itu walaupun keinginan untuk itu ada, entah karena sembelit atau memang pikiranku tersugesti takut jahitannya robek, hehehe. Tak lupa juga beliau bertanya bagaimana produksi ASIku, aku memang sudah meminum ASI booster yang telah diresepkan olehnya, tapi belum ada perkembangan, masih sedikit. In Sha Alloh nanti aku share cerita mengASIhi versiku di next diary ya.

Setelah semua kondisi dipastikan oke, dan adminitrasi sudah clear semua, tibalah waktunya kami untuk pulang. Tak lupa suamiku mengabari mertua untuk menjemput ke Rumah Sakit. Kami diantar oleh seorang perawat menuju lobby, bayiku digendong oleh Bu perawat ramah yang entah siapa namanya. Sesampainya di lobby, bayiku langsung diserahkan ke ibu mertuaku yang sudah menunggu di sana. Kami pun pulang ke rumah dengan selamat. Alhamdulillaah.

Oke Diaris sampai disini dulu ya ceritaku pasca melahirkan anak pertama. Nggak ada maksud terselubung dibalik cerita ini, aku hanya membagikan kisahnya, kebetulan lagi rindu- serindunya pada moment itu. Terimakasih untuk Diaris yang sudah membaca sampai akhir. See you.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman lahiran normal anak pertama di Rumah Sakit

  Assa lamu’alaikum… Dear diary. Kali ini aku hanya ingin berbagi cerita tentang pengalaman melahirkan anak pertama di rumah sakit dengan harapan ada manfaat yang bisa diambil dari pengalaman pertamaku ini. Kenapa Rumah Sakit? Sebelum memilih rumah sakit, aku mengunjungi bidan terlebih dahulu untuk memastikan di dalam rahimku ada calon bayi setelah kuyakin dengan benar test pack  yang kupakai bergaris dua, tapi di sana aku tidak mendapatkan apa-apa selain hasil tensi darah bahkan bu bidan tak menyentuh perutku sama sekali karena alasan usia kandunganku terbilang masih sangat muda, “belum kepegang” begitu katanya. Dia juga bilang bisa saja aku menstruasi lagi dan menyarankan untuk berkunjung lagi bulan depan. Kondisiku makin hari makin nggak karuan. Aku mulai merasakan pusing, mual, muntah hingga badan terasa lemas. Tak tahan rasanya jika harus menunggu hingga bulan depan. Kuputuskan untuk periksa ke dokter saja sekalian USG dan siapa tahu dikasih vitamin atau obat pereda rasa mual. Seb

Awal Mula Terkena Eye Floaters

  Eye Floaters Itu Apa Sih? Assa lamu├ílaykum , Diaris. Alhamdulillah aku udah nulis lagi sekarang. Mudah-mudahan bisa istiqomah  seperti janjiku dari dulu. Beberapa bulan lalu aku sempat vakum nulis di Blog. Bukan karena malas atau kena writer’s block, tetapi ada sedikit masalah dengan kesehatan mataku, ditambah lagi aktivitas sehari-hariku sebagai ibu rumah tangga yang cukup padat, anakku lagi fase aktif-aktifnya, serba ingin eksplor sana-sini. Sok sibuk banget deh aku pokoknya. Hehehe. Bicara tentang kesehatan mata yang menjadi alasanku vakum nulis di Blog. Aku lupa persisnya. Kalau nggak salah sekitar Bulan Juli 2022. Awalnya aku merasakan ada yang aneh dengan mataku yang sebelah kiri. Setelah kucari tahu dari berbagai sumber ternyata mataku yang sebelah kiri menderita Eye Floaters . Berdasarkan informasi yang kudapat dari laman alodokter, floaters adalah bayangan berbentuk bintik atau garis yang tampak mengambang atau melayang-layang pada penglihatan. Floaters sering terjadi dan um

Review BREYLEE BLACKHEAD MASK STEP 1 : Jagonya angkat komedo

Bismillaahirrahmaanirrahiim Hai dears, tampil cantik selalu menjadi salah satu keinginan seorang perempuan walaupun cantik itu relative yang artinya setiap perempuan memiliki standar kecantikan yang berbeda tentunya. So, menurutku kecantikan seorang perempuan itu tak bisa disamaratakan ya. Dikarenakan wajah menjadi salah satu parameter kecantikan seorang perempuan sehingga   wajah yang good looking selalu diidamkan setiap perempuan. Tak harus seperti artis Korea yang shining, shimmering, splendid, and glowing , tapi bersih dari jerawat dan komedo pun sudah sangat disyukuri seperti aku yang dari dulu selalu menginginkan wajah yang bersih dari komedo di area hidung yang agak mengganggu, hehehe. Tak sedikit produk skincare penghilang komedo yang berseliweran di iklan telah kucoba, mulai dari bentuk krim, sabun, dan berupa kertas pernah kucoba, tapi hasilnya   kurang memuaskan karena komedo tak terangkat tuntas terutama komedo yang sudah mulai menghitam, curiga takutnya jadi fosi