Mama : Bukankan jodoh, rezeki, dan maut telah Alloh Swt. tetapkan?

 



Assalamu’alaikum…..

Dear diary. Rasanya terlalu pagi bagiku untuk menerima semua ini. Awal September di tahun 2021 dimana tak sedikit orang yang menyambutnya dengan ceria seperti lagu September Ceria milik Mama Ina. Tak ada yang salah dengan itu karena aku pun berharap bulan September ini akan menjadi bulan yang penuh keceriaan karena In Sha Alloh bulan ini akan menjadi bulan kelahiran anak pertamaku. Namun, takdir berkata lain. Sebelum kami menyambut kehadiran anggota baru, kami dipaksa untuk mengembalikan salah satu anggota keluarga kami terlebih dahulu kepada Sang Maha Pencipta. Tepat tanggal 3 September 2021, selepas Isya’, Mama meninggalkan kami untuk selamanya.

Semua ini memang kehendakNya, berada dalam skenarioNya meski kami yang ditinggalkan merasa bahwa ini bukanlah waktu yang tepat untuk Mama meninggalkan dunia selamanya. Semua terasa singkat dengan proses yang begitu cepat.

Sekarang aku tahu bahwa Mama hanya memiliki waktu kurang dari setahun untuk berada di dunia ini sejak hari dimana aku melangsungkan pernikahan pada bulan November 2020. Sejak SMA hingga kini aku memang tak tinggal dengan orang tua. Setelah menikah pun aku tak lama tinggal di rumah, waktu cutiku sudah habis dan aku dituntut untuk segera kembali pada rutinitas pekerjaanku di tempat rantau. Sejak saat itu aku belum mengunjunginya lagi. Lebaran idul fitri yang biasanya selalu aku rayakan di rumah, kali ini berbeda. Mungkin itu idul fitri pertama bagi kami yang tak bisa berkumpul seperti biasanya dan ini juga idul fitri terakhir bagi Mama. Salah satu yang kusesali. Bukan tanpa alasan, saat itu aku tengah hamil muda yang mana masih rentan untuk melakukan perjalanan jauh ditambah lagi dengan adanya larangan mudik dari pemerintah untuk menekan angka penyebaran Covid-19.

Usai idul fitri orang tuaku memutuskan untuk berkunjung ke rumahku dan rumah kakakku yang sama-sama ada di Kota Hujan, “mau refreshing” begitu katanya. Sekitar akhir Mei 2021 orang tuaku tinggal di rumahku kurang lebih hanya seminggu karena setelah itu mereka putuskan untuk berkunjung ke rumah kakakku dan tinggal lumayan lama di sana. Mungkin di sana lebih seru karena ada cucunya, keponakanku yang baru berusia 4 tahun, sedangkan di rumahku hanya ada aku, suamiku, dan calon cucunya yang masih dalam perut belum bisa diajak bermain. Tak apa, dimanapun sama saja asalkan mereka bahagia.

Dua bulan lebih tinggal di rumah kakakku, tiba-tiba Mama memutuskan untuk kembali tinggal di rumahku karena kehamilanku yang mulai masuk trimester tiga. “Mama mau temani sampai lahiran” begitu katanya. Pertengahan Agustus 2021 orang tuaku mulai tinggal di rumahku. Selama tinggal di rumahku, Mama mengambil alih aktivitas memasak, tak kalah dengan bapak yang juga banyak membantu aktivitas rumahku. Sebagai anak aku merasa berdosa, tapi bagaimana lagi? mereka hanya khawatir dengan kondisi anaknya yang tengah hamil tua. Setiap hari Mama selalu ingatkan aku untuk senam hamil biar bayinya  cepat masuk panggul. Selain itu, Mama sama Bapak juga sering temani aku untuk jalan-jalan pagi. Kondisi mereka tampak sehat waláfiat, tak ada hal yang perlu dikhawatirkan dari fisik mereka.

Coba saja saat itu aku tahu waktu Mama tinggal menghitung hari, mungkin aku akan memaksanya untuk tidak melakukan apapun di rumahku, aku akan membiarkannya cukup beristirahat sambil memijat kakinya yang sering terasa pegal meski Mama akan menolak dengan alasan biar ada kegiatan. Namun, inilah jalanNya, jalan yang telah Allah Swt. rancang untuk mengantar kepergian Mama.

Kamis, 2 September 2021. Seperti biasa, tak ada kejadian aneh yang terjadi di rumahku, bahkan suara burung kematian yang dijadikan orang-orang sebagai pertanda akan ada yang meninggal pun tak ada yang terdengar. Semua tampak normal seperti biasa. Paginya Mama masak membuat sambal terasi request-an Bapak.

Sorenya, aku lihat kedua orang tuaku baru saja masuk pagar rumah sambil membawa kantong belanja, ternyata mereka belanja beras 10 liter dan telur ayam satu kilo, “iseng sambil jalan-jalan inget beras habis” begitu katanya. Malamnya pun sama, kami semua nonton tv, makan malam bareng-bareng sampai waktu tidur tiba. Namun, malam itu entah kenapa aku begitu sulit untuk tidur padahal aku tipe orang yang pelor alias nempel-molor. Kucoba nonton youtube berharap mataku akan lelah, tapi masih gagal hingga jam satu malam aku keluar kamar untuk buang air kecil yang ketiga kalinya.

Jumát, 3 September 2021. 01.00 WIB. Saat aku keluar kamar, aku melihat kamar kedua orang tuaku yang posisinya berhadapan dengan kamarku terbuka dan di sana tampak bapak masih sibuk dengan ponselnya, aku sempat bertanya pada Bapak kenapa belum tidur, tapi tak dijawab. Usai buang air kecil, aku masuk kamar lagi dan mencoba untuk tidur meski sulit, aku juga masih mendengar ada sedikit kegaduhan di depan kamarku, tapi aku tak curiga apapun karena kedua orang tuaku emang sering bangun jam segitu untuk shalat malam. Aku mulai tertidur entah jam berapa yang pasti aku bangun lagi saat adzan subuh berkumandang.

Seperti biasa aku terbangun, tapi ada yang berbeda subuh itu. Biasanya pemandangan yang kulihat saat buka pintu adalah Mama yang duduk di sejadah sambil berdzikir. Ya, beliau memang terbiasa shalat di ruang tv. Namun, subuh itu tak ada Mama di sana, hanya ada sejadah yang terhampar dan kamar Mama dan Bapak yang terbuka dengan lampu yang menyala.

Aku menghampiri kamarnya dan mendapati Bapak tengah mengelus-elus kaki Mama yang masih berselimut dengan badan yang kuyup oleh keringat dingin. Bapak bilang kalau dari semalam Mama muntah-muntah sampai lemas, “mungkin itu suara gaduh semalam” pikirku. Tanpa pikir panjang aku sarankan untuk membawa Mama ke klinik 24 jam karena aku khawatir asam lambung Mama kambuh seperti dulu, tapi Mama menolak untuk dibawa ke klinik dengan beragam alasan hingga aku pilihkan opsi berobat melalui aplikasi online. Awalnya Mama menolak juga, tapi Bapak berhasil membujuk hingga berhasil mendapatkan resep sesuai gejala yang tampak. Mama masih mau makan dan minum obat yang telah diresepkan. Aku masih bisa mengucap Alhamdulillah karena Mama sudah berhenti muntah dan mau makan walau tak banyak. Aku dan Bapak optimis Mama akan sembuh.

Siangnya kubuatkan bubur untuk Mama makan nanti. Aku juga melihat Mama berjalan ke ruang tv sendiri. Aku senang dalam hati karena kupikir kekuatan Mama berangsur kembali. Usai makan siang, aku pergi tidur dengan niat untuk mengganti tidur malam yang kurang, pun dengan Bapak yang katanya belum tidur dari semalam. Belum sempat kutemukan nyenyak, aku dikejutkan dengan Bapak yang menggendong Mama ke kamar. Dengan cepat aku masuk ke kamar mereka dan tampak Mama dengan kondisi yang menurut kami kurang baik alias memburuk. Badannya tampak lemas tak berdaya, suhu badannya juga dingin. Aku sempat khawatir terkena Covid-19, tapi nggak ada gejala yang mengarah kesana. Cara bicaranya yang mulai kurang jelas membuatku berpikir apakah umurnya tak akan lama. Akhirnya aku dan Bapak coba membujuk Mama untuk mau diajak ke Rumah Sakit meski awalnya Mama menolak. Aku minta tolong suami untuk menemani Bapak dan Mama ke rumah sakit.

Selama di rumah aku menangis selepas shalat Ashar sambil menunggu kabar baik dari Rumah Sakit. Meski ada sedikit rasa tenang, tapi air mataku tak mau berhenti mengalir. Sekitar jam lima sore, suamiku pulang dan mencoba menenangkanku, “In Sha Alloh Mama baik-baik aja” begitu katanya. Aku mulai tenang kembali hingga magrib tiba dan aku masih berselera untuk makan malam walaupun setelahnya aku mendapat chat dari kakak iparku yang tengah di Rumah Sakit menemani Bapak untuk memanjatkan doá demi kesembuhan Mama. Feelingku mulai nggak enak.

Adzan Isya’ berkumandang, aku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum shalat dan mengaji. Keluar dari kamar mandi aku mengecek ponsel dan ternyata banyak panggilan masuk dari Bapak dan Kakakku. Pikiranku mulai tak sehat. Pikiran buruk terus mengelilingi kepalaku, badanku lemas dan rasanya tak bertulang saat aku harus menerima kenyataan bahwa Mama sudah pergi meninggalkan kita semua untuk selamanya. Aku hanya bisa menangis kencang ditemani suami di sampingku.

Aku merasa dunia ini benar-benar berakhir. Kini aku merasa tak punya tempat untuk pulang. Meski masih ada Bapak yang juga orang tuaku, tapi percayalah bahwa kasih sayang dan perhatiannya berbeda dengan Mama. Kenapa Mama pergi secepat ini? Siapa yang salah? Sebuah pertanyaan yang tak henti-hentinya ada di pikiranku. Aku hanya bisa menangis hingga air mata tak sanggup keluar lagi.

Andai saja aku membawa Mama ke Rumah Sakit pagi itu, mungkin Mama bisa ditangani lebih awal dan bisa berkumpul dengan kami hingga kini. Pikiran gilaku yang segera kutepis. Tidak ada kata andai dalam hal kematian. Kematian adalah kepastian yang tak bisa dielakkan karena memiliki waktunya masing-masing. Meski Mama dibawa ke Rumah Sakit pagi itu dan segera ditangani dokter, kuyakin tak akan ada yang berubah, Mama tetap akan pergi di waktu yang sama. Apapun yang terjadi, itu hanya sebagian dari proses seseorang meninggalkan dunia ini. Setiap manusia yang telah habis masanya akan tetap pergi seperti yang terjadi pada Mama. Bukankah jodoh, rezeki, maut telah Allah SWT. tetapkan sejak manusia dalam kandungan?. Tugas kita sebagai manusia yang telah memiliki nomor antrian menuju kematian adalah berusaha untuk tidak meninggalkan penyesalan dengan selalu berbuat baik kepada siapapun.

Alfatihah untuk Mama


Akhirulkalam…

Komentar

  1. Semoga Mama husnul khatimah ya Mbak..

    BalasHapus
  2. Semoga Mama bahagia di surga. Selalu semangat bersama keluarga, ya, Mbak ♥️

    BalasHapus
  3. Dzikrul maut memang nasehat terbaik untuk orang-orangyang masih hidup. Allohumma firlaha warhamha wa’afiha wa’fuanha. Semoga beliau husnul khotimah, aamiin. Semangat Mbak Ilsa.

    BalasHapus
  4. Innalillahi wa inna ilaihi rajiuun turut berduka cita Mbak, Insya Allah Mama sudah mendapat tempat terbaik di sisi-Nya aamiin, aku belum kuat mau menuliskan kepergian adikku padahal bagus untuk healing ya

    BalasHapus
  5. Innalilahi wa innailaihi rojiun, mba aku turut berduka cita ya. Semoga mamanya tenang dan Khusnul khatimah, amin. Mba yang kuat ya, ♥️

    BalasHapus
  6. Alfatihah untuk mamanya mba. Semoga khusnul khotimah.. Huhuhu aku sedih sekali membacanya karena mama dan papa ku dulu juga mendapat sekali meninggalkan anak2nya. Yang tabah ya mba, peluk dari jauh.

    BalasHapus
  7. Kedukaan saat ditinggal orang tua emang beratnya banget mbaaa... namun ya sepertinya itulah kita semua akan tiba giliran... hanya menunggu waktu saja. Semoga mama kini di tempat terbaik... dan nanti bisa berkumpul kembali di tempat terbaik bersama anak2nya. Itu doa untuk aku juga... untuk kita semua... bisa kumpul dgn org2 yg kita sayangi di surga.... aamiin

    BalasHapus
  8. Innalilahi wainna ilaihirajiun..ya Allah mbak aku ga bisa membayangkan gimana rasanya kehilangan mama dlm waktu yg sangat cepat. Semoga ibunda husnul khatimah ya mbak

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer