Kenapa Harus Menulis?






Bismillaahirrahmaanirraahiim

Aku terlahir sebagai individu dengan kepribadian tertutup. Tidak mudah berkomunikasi dengan orang lain, tidak menyukai keramaian pula. Namun, bukan berarti aku anti sosial. Aku masih mau berbaur dengan orang lain, aku juga memiliki banyak teman. Aku hanya tipe orang yang bicara seperlunya, lebih senang menyimpan perasaan sendiri karena aku sulit percaya dengan orang lain. Aku tipe orang yang tidak mudah akrab dengan orang baru sebelum aku benar-benar mengamati orang tersebut dengan baik. Mungkin banyak yang bilang bahwa aku seorang introver.
Menjadi seorang introver sepertiku memang cukup berat walaupun ku rasa nyaman. Ketidakpercayaanku terhadap orang lain memaksaku untuk selalu menyimpan perasaan dan berusaha menyelesaikan permasalahan sendiri. Apalagi di saat aku mulai menginjak usia remaja. Mungkin ini yang dinamakan masa puber, masa dimana aku mulai memiliki ketertarikan terhadap lawan jenis, masa dimana akhirnya aku mengenal pacaran tanpa sepengetahuan orangtuaku karena mereka sangat menentang keras akan hal itu. Saat itu banyak permasalahan-permasalahan yang muncul, misalnya merasakan pertama kali patah hati karena putus cinta, diselingkuhi, serta permasalahan serupa lainnya yang sering dialami remaja pada umumnya yang mana semuanya membuat hidupku berubah. Prestasiku mulai menurun, julukan si nomor satu tak lagi terdengar, semangat belajarku mulai menghilang. Pacaran membuat titik fokus terhadap belajar menjadi teralihkan. Emosi yang selalu naik turun membuatku tak mampu menyelesaikan masalah yang mungkin tampak sepele itu. Ingin cerita untuk sekedar meluapkan emosi, tapi tak bisa sekalipun kepada orang terdekat, orangtuaku.
 Menulis di buku diary merupakan salah satu cara mengusir kegusaran hati. Ku ungkapkan segala rasa di buku itu. Meski tak mudah mengusir kegusaran, setidaknya emosiku mulai sedikit tenang. Buku dan pena hanyalah benda mati yang mungkin bagi sebagian orang tak berarti apa-apa. Namun, keduanya bagiku sangat berpengaruh untuk menetralisir segala rasa dan asa yang berkecamuk dalam dada. Sebenarnya dari kecil aku memang senang menulis diary, entah sudah berapa banyak buku diary yang ku punya dengan isi ragam kisah pengalamanku. Sometimes aku juga menulis cerita pendek yang aku karang sendiri berdasarkan imajinasiku. Selain menulis, aku juga suka membaca, baik karya fiksi maupun non fiksi. Namun, tak seintens menulis.
Seiring berjalannya waktu, masuklah di era digital ini dimana aku mulai mengenal social media, seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan Blog tentunya. Dari buku diary, aku mulai beralih ke sosmed dengan harapan bisa berbagi perasaan dengan orang lain di sana. Aku mengekspresikan segala rasa, mendapatkan feedback dari teman sosmed yang mungkin tengah mengalami situasi yang sama, atau hanya sekedar memberi saran padaku. Sosmed kini menjadi tempat sharing bagiku. Perlahan aku menemukan ada kesalahpahaman yang terjadi dalam diri ini. Sempat ku hakimi diri ini dengan mengatakan bahwa aku tak suka berbagi cerita dengan orang lain. Namun, faktanya aku menikmati forum kecil yang tak sengaja ku ciptakan melalui postingan-postingan di Facebook. Bukan ku tak suka bercerita, hanya saja aku kesulitan mengutarakan isi hati lewat ucapan, aku memang memiliki kelemahan dalam komunikasi sehingga terkadang orang lain sulit memahami apa yang ingin ku sampaikan, sehingga dengan sisi egois yang ku punya, aku lebih memilih untuk mengakhiri perbincangan tanpa menjelaskan detail kepada lawan bicara. Berbeda dengan menulis, aku bisa berpikir terlebih dahulu lalu merangkai kata supaya orang lain mengerti apa yang ingin ku sampaikan.
Setelah Facebook, aku mulai berkenalan dengan Blog. Di sana aku mulai mencoba membuat suatu karya. Kini perasaanku tak hanya sekedar perasaan yang di posting di Facebook, ku coba mengubahnya dalam bentuk artikel atau cerita pendek dengan harapan bisa menghibur dan memotivasi orang lain. Aku menuliskan apa yang ingin ku tulis tanpa peduli penggunaan tata bahasa, tanda baca, atau apapun yang berhubungan dengan sistematika penulisan. Aku hanya menyampaikan opini, mengungkapkan perasaan dalam bentuk artikel atau cerpen, yang penting isinya menarik dan mengandung motivasi, pikirku saat itu.
Cukup lama aku berkutat di dunia Blog sampai akhirnya aku memiliki pembaca setia walaupun jumlahnya bisa dihitung jari. Namun, itu masih belum cukup. Keinginan untuk mengenalkan karyaku kepada khalayak ramai semakin hari semakin menggebu-gebu. Aku tak ingin karyaku hanya dibaca oleh sahabat sosmedku saja. Aku mencoba browsing di internet tentang event lomba menulis. Banyak. Namun, info lengkapnya mayoritas ada di Instagram. Aku yang awalnya tak ingin bermain di Instagram karena menurutku kurang berfaedah akhirnya terpaksa membuat akun instagram demi mengembangkan karya-karyaku. Menarik. Aku baru sadar kenapa banyak orang yang menggunakan Instagram, ternyata isinya memang menarik dan cakupannya luas, hampir menyaingi Facebook. Dengan akun @id_soleha9 aku mulai menjajaki Instagram, mencari informasi mengenai event lomba menulis yang begitu banyak ku temui. Aku mengikuti beragam lomba menulis dengan penuh percaya diri, mulai dari yang free sampai berbayar. Namun, dari sekian banyak lomba yang ku ikuti belum ada satu pun yang berhasil. Sedih? Kecewa? Tidak. Aku tidak merasakan keduanya karena tujuan awalku mengikuti lomba itu hanya untuk mengenalkan karyaku kepada lebih banyak orang.
Dari banyaknya kegagalan yang ku terima, aku menjadi lebih semangat untuk menulis. Aku mulai membawa note kecil kemana-mana untuk sekedar  mencatat jika sebuah ide muncul di waktu dan tempat yang tidak tepat. Setidaknya aku mencatat ide tersebut sebelum akhirnya ku rangkai menjadi sebuah karya. Ide itu mahal dan langka. Jika tak segera dicatat ide itu akan hilang dengan mudahnya, kemungkinan untuk mengingatnya kembali sangat kecil. Selain membuat catatan di note, aku juga merecord ide yang muncul di ponsel supaya lebih mudah dan praktis.
Berawal dari kegagalan ini aku berpikir, apa yang membuatku gagal? Apakah ceritanya kurang menarik? Atau bahasanya yang berantakan? Tanda bacanya yang tak beraturan? Entahlah, aku tak tahu karena tak ada yang memberitahuku dimana letak kesalahannya. Aku mulai mencari referensi tentang sistematika menulis di internet, akun Instagram seorang penulis, atau dari buku-buku yang ku punya, baik fiksi maupun non fiksi. Dulu, aku membaca buku hanya untuk sekedar hiburan saja dengan menikmati isi cerita yang disampaikan penulis dalam buku itu. Namun, sekarang berbeda. Aku membaca buku penuh dengan kehati-hatian, banyak yang harus diperhatikan mulai dari isi cerita, gaya bahasa, penggunaan tanda baca, dan semua yang mencakup unsur intrinsik dan ekstrinsiknya.
Usahaku untuk mengembangkan karya tulisanku tidak cukup sampai di situ saja. Aku ingin belajar menulis yang baik dan benar karena aku bukan seorang lulusan sastra, aku orang awam yang hanya mengandalkan hobiku semata. So aku mencoba mengikuti kelas menulis yang salah satunya adalah komunitas “NulisYuk”, mulai dari yang free sampai yang berbayar. Aku suka dengan komunitas ini, cara belajarnya serius tapi santai. Aku tipe orang yang cukup pemilih. Aku tak ingin sia-sia dalam memilih segala sesuatu Awalnya aku mengikuti kelas menulis di komunitas ini tanpa berbayar, aku ingin mengamati terlebih dahulu bagaimana sistem belajarnya yang ternyata cukup nyaman. Hingga akhirnya aku berani mengikuti kelas berikutnya yang berbayar. Maklum penganut anti rugi, nyicip dulu baru beli (jangan ditiru ya friends, hehehe).
Mungkin saat ini aku belum memperoleh hasil yang baik dari hobi yang ingin ku kembangkan. Ini adalah langkah awal, sangat awal. Aku tak peduli dengan sebagian orang yang mungkin meremehkan hobiku ini, ngapain sih nulis? Untuk apa menghabiskan waktu dengan menulis yang belum tentu bisa menghasilkan? Mending bisnis yang pasti-pasti saja, yang lebih mudah terlihat hasilnya. Whatever they said, I don’t care about that. Aku menulis bukan untuk mencari uang, tapi menulis adalah hobiku. Menulis adalah sebuah keharusan, sebagai penghilang depresi karena aku bisa mengekspresikan emosi di sana. Menulis melatihku memperkaya kosa kata sehingga membantuku dalam kelancaran berkomunikasi yang menjadi kelemahanku selama ini. Masih banyak lagi manfaat menulis yang bisa dirasakan.
Aku bukan seorang anak sastra atau penulis, bahkan cita-citaku dari kecil adalah menjadi seorang guru. Aku hanya seseorang yang memiliki hobi menulis dengan impian kelak tulisanku dibukukan sebagai jejak bahwa aku pernah membuat karya. Namun, impian terbesarku yaitu karyaku bisa dinikmati oleh banyak orang dan bisa memberikan energi positif bagi para pembacanya.
Ok friends, mungkin itu saja yang bisa aku ceritakan tentang hobi menulisku. Mudah-mudahan bisa bermanfaat. Mohon maaf bila banyak kesalahan dalam penulisannya. Semangat menulis, friends….
Wassalamu’alaikum.

#NulisYuk #belajarmenulis # nulisyukbatch37

Comments

Popular Posts