Nggak Boleh Pacaran !!!






Bismillahirrahmaanirrahiim

Bicara soal pacaran memang tak akan ada habisnya. Pacaran selalu menjadi topik yang tak pernah bosan untuk dibahas. Pacaran juga merupakan sebuah keharusan bagi mereka yang menjalankan, baik tua ataupun muda termasuk aku. Aku yang saat ini menentang pacaran ternyata pernah pacaran juga. Seperti perempuan pada umumnya, aku pun merasakan apa yang namanya jatuh cinta, patah hati, cemburu, diselingkuhi, dilema, dan konflik bathin lainnya yang sering dirasakan oleh para budak cinta.
Semuanya berawal ketika aku duduk di kelas 3 SMP. Seingatku waktu itu masih awal ajaran baru. Tak ada angin, tak ada hujan, salah satu teman sekelasku, cowok datang kepadaku menyatakan perasaannya. Kaget. Seorang cowok yang tak pernah memiliki hubungan baik denganku sebelumnya, tak pernah dekat, tak pernah akrab apalagi sampai curhat bareng, yang ada hanyalah perseteruan di antara kami. Bisa dibilang dia adalah salah satu musuh bebuyutanku, si biang huru-hara, si pemicu keributan, sering aku bertengkar dengannya.
Aku dan dia memang sudah lama saling mengenal. Kami bersekolah di tempat yang sama dari sejak SD hingga SMP. Selama ini dia sering membuatku marah, banyak kelakuannya yang menyebalkan. So mana bisa aku percaya ketika dia menelpon malam-malam, mengajakku ngobrol asyik di telpon sampai akhirnya memintaku untuk menjadi pacarnya. Aku tak tahu apa yang sedang direncanakannya malam itu. Aku hanya dibisiki oleh hati untuk tidak mudah percaya kepada orang lain, apalagi dia.
Sekali, dua kali dia menyatakan perasaannya, tapi tak pernah ku gubris. Hingga yang ke tiga kalinya aku mulai berpikir dan menimbang-nimbang permintaan dia yang ingin menjadikanku sebagai pacarnya, ditambah lagi dengan mayoritas teman-teman dan sahabatku yang hampir semua sudah memiliki pacar. Setiap kami kumpul selalu membahas tentang kisah asmara masing-masing, kecuali aku yang memang masih sendiri.
Terlahir dari keluarga yang sangat peduli dengan pendidikan dan menentang keras pacaran merupakan suatu beban bagiku. Awalnya. Aku merasa hari-hariku hanya dihiasi dengan belajar, belajar, dan belajar demi mendapatkan nilai tertinggi serta memertahankan julukan si nomor satu. Cukup membebani pikiranku. Sempat ku berdo’a pada Alloh Swt. agar aku menjadi orang biasa saja, tak perlu menjadi nomor satu. Aku merasakan sesuatu yang hambar di saat remaja seusiaku tengah menikmati masa puber mereka, aku di sini masih sibuk dengan aktivitas belajar yang sangat membosankan. Jujur, aku sangat ingin seperti mereka merasakan jatuh cinta dan punya pacar yang sebenarnya menyukai lawan jenis itu sudah ku rasakan ketika masih SD, kalau nggak salah kelas 5. Namun, hanya sekedar suka, belum ada hasrat ingin memiliki. Berbeda dengan sekarang yang mana sangat ingin punya pacar seperti teman-temanku yang lain.
Aku yang seorang penurut tak memiliki keberanian untuk melawan orangtuaku, aku takut durhaka. Dari kecil aku tak membantah apa yang dikatakan orangtuaku sekalipun aku tak suka dengan hal itu. Namun, aku akan berusaha untuk menyukai apapun yang tidak ku suka selama itu pilihan yang terbaik yang dipilihkan orangtuaku karena ku percaya bahwa ridho Alloh Swt. adalah ridhonya orangtua. Sedangkan untuk berpacaran berarti aku harus menentang larangan orangtuaku. Berdasarkan hasil diskusi antar sisi bathin, akhirnya aku memberanikan diri untuk menentang larangan itu dengan menetapkan tanggal 8-8-2008 sebagai hari jadianku dengan dia. Aku punya pacar untuk pertama kalinya. Aku minta maaf karena sudah tidak mengindahkan peraturan kalian, orangtuaku untuk tidak pacaran karena hawa nafsuku terlalu besar untuk diredam. Aku pacaran tanpa sepengetahuan orangtuaku, backstreet.
Ada kepuasan tersendiri saat aku menerimanya sebagai pacarku. Bukan karena siapa dia yang kini menjadi pacarku, tapi karena kali ini aku bisa merasakan apa yang dirasakan oleh remaja pada umumnya. Ternyata aku menyukai fase pendekatan (PDKT) dimana doi selalu berusaha untuk mendekati target dengan berbagai cara seperti yang dilakukan dia padaku. Meskipun aku selalu menghindar dan sok jual mahal, tapi dengan gigih dia mendekatiku. Mungkin inikah rasanya diperjuangkan? Apakah remaja perempuan lain juga merasakan hal yang sama di fase ini? menurutku perempuan itu memang senang diperjuangkan, disanjung, dimengerti, serta hal-hal sweet  lainnya.
Sejak tanggal itu aku mulai menjalani hari-hariku sebagai pacar dia yang ku rasa tak perlu ku sebut namanya di sini. Setiap berangkat dan pulang sekolah selalu bersama. Bukan aku yang mau, tapi dia yang meminta. Jujur, aku risih dengan aktivitas pacaranku saat itu ditambah lagi aku takut jika orangtuaku tahu. Namun, di sekolah kami memang jarang bersama. Aku lebih sering menghabiskan waktu dengan sahabat-sahabat perempuanku, begitu pun dia yang lebih asyik dengan teman-temannya. Setiap pulang sekolah aku sering ber-SMS-ria dengannya untuk sekedar menanyakan sudah makan siang atau belum dan percakapan-percakapan ringan lainnya. Sedangkan malam sebelum tidur dia rutin menelponku untuk mengucapkan selamat tidur, terkadang kami mengobrol panjang sampai tengah malam bahkan dini hari.
Terkadang aku bertanya pada diri sendiri, kenapa aku bisa dekat dengannya, padahal sebelumnya kami hanya pasangan huru-hara bak kucing dan anjing yang selalu ribut dimana pun berada. Mungkin ini yang dinamakan ‘Benci Jadi Cinta’, pikirku yang bucin saat itu. Namun, jujur aku tak mengerti apa itu cinta? Apakah aku mencintainya? Entahlah, yang aku rasa saat ini hanyalah kenyamanan. Aku nyaman bisa dekat dengannya, setidaknya aku punya teman cerita baru selain buku diary yang selama ini menjadi tempat curhatku. Aku mendapatkan perhatian lain dari orang luar selain orangtuaku, tapi yang paling penting adalah aku bisa nyambung ketika bercerita dengan sahabat-sahabatku saat mereka membahas tentang pacar masing-masing, mungkin ini alasan utama kenapa aku pacaran.
Hubungan kami makin hari makin akrab, aku mulai terbiasa dengan kehadirannya mungkin karena sering beraktivitas bersama, misalnya berangkat dan pulang sekolah bersama, latihan PASKIBRAKA bersama, bahkan saat ada kegiatan camping menyambut HUT PRAMUKA juga kami bersama, tapi tunggu. Tenda kami terpisah jauh dan kami tidak melakukan hal-hal negative ya, masih dalam pengawasan penuh oleh Pembina. Selain itu, banyak hal-hal sweet yang ditunjukannya padaku, seperti memberiku hadiah ulang tahun berupa cincin perak yang ku rasa asli karena ada surat-suratnya dan harganya lumayan menguras kantong untuk ukuran siswa SMP, lalu saat lebaran dia juga memberiku boneka beruang berwarna pink sebagai hadiah lebaran, katanya. Saat itu aku bingung harus menyimpan boneka pemberiannya dimana karena kalau di kamar pasti akan mengundang pertanyaan yang teramat panjang dari orangtuaku. So ku simpan boneka itu di dalam tas besar ber bulan-bulan lamanya. Namun, aku sempat berpikir dari mana dia mendapatkan uang untuk membeli barang-barang itu mengingat perannya sebagai siswa SMP kelas 3.
Inikah yang disebut dengan ‘Dunia Milik Berdua’? ketika hari-hari hanya dipenuhi oleh serba-serbi si dia. Di sekolah aku bersama dia, di rumah aku pun telponan dengan dia, setiap waktu aku pasti berkabar dengan dia via SMS hanya untuk saling mengingatkan jam makan, jam shalat, jam tidur, atau sekedar berhaha-hihi membahas acara bola kesukaan kami. Kebetulan kami menyukai Soccer Club yang sama. Satu, dua, tiga bulan kami mengukir cerita sebagai pasangan kekasih (belum halal) tanpa sepengetahuan orangtua masing-masing.
Semenjak mengenal pacaran, sedikit demi sedikit hidupku mengalami perubahan. Aku menjadi ketergantungan dengan kebiasaan-kebiasaan yang dia lakukakn padaku, misalnya kebiasaan mengirim pesan singkat atau telpon di jam-jam tertentu sekedar mengingatkanku untuk makan, shalat, belajar, mengucapkan selamat tidur, dan hal-hal lainnya. Aku sering dihantui negative thinking dan rasa khawatir ketika dia tak memberiku kabar, apalagi saat ku hubungi telponnya bernada sibuk. Selain itu, aku pun menjadi kaku di sekolah. Aku tipikal orang yang cuek, tak peduli dengan tanggapan orang lain terhadapku. Namun, kini aku menjadi lebih memerhatikan penampilanku, setiap gerak-gerikku penuh dengan kehati-hatian, alasannya hanya satu karena tak ingin terlihat buruk di depan dia. Aku juga kehilangan fokus dalam belajarku, terutama di rumah. Seperti yang ku ceritakan sebelumnya bahwa sebagian besar waktuku habis untuk berkomunikasi dengan dia. Sebenarnya dia tahu dan menghargai jadwal belajarku, tapi aku yang bucin ini sulit menahan diri untuk tidak membalas pesan singkatnya, bahkan aku sengaja mencari pembahasan sehingga saling balas pesan pun berlanjut lagi di jam belajarku. Aku pernah mencoba untuk mengabaikan pesannya, tapi aku malah ingin segera mengakhiri kegiatan belajarku agar bisa ber-SMS-ria dengannya. Dan yang paling parah adalah ketika hubungan kami dihadapkan pada trouble, entah itu karena kesalah pahaman, dia yang ketahuan selingkuh, atau hal lain yang memicu pertengkaran. Kalau sudah begitu konsentrasi belajarku mulai mengabur, aku jadi malas belajar, bahkan sampai kehilangan nafsu makan, pikiranku dihantui kecurigaan dan ketakutan, takut hubungan kami berakhir. Bukan, bukan takut kehilangan dia, tapi aku takut kehilangan kebiasaan-kebiasaan yang sering dilakukan. Aku ketergantungan. Aku benar-benar bucin alias budak cinta saat itu yang sebenarnya masih disangsikan, apakah memang cinta atau bukan?. Jika mengingat masa itu, aku jadi jijik sendiri.
Betul kata pepatah, sepintar-pintarnya menyembunyikan isteri muda, lama-lama akan tua juga. Ups, maksudnya sepintar-pintarnya menyembunyikan bangkai, lama-lama akan tercium juga. Seperti yang terjadi pada hubungan kami yang akhirnya tercium oleh Mama. Aku tak mengerti bagaimana Mama bisa tahu aku punya pacar. Selama ini aku selalu berusaha menyembunyikan semuanya serapi mungkin. Sekalipun berangkat dan pulang sekolah bersama, tapi bukan berarti bersama dari rumahku. Entahlah, yang pasti saat itu Mama marah padaku. Mama memintaku untuk menjauhi dia dan aku tak bisa berbuat apa-apa selain menuruti apa yang beliau minta..
Dari awal orangtuaku memang menentang pacaran di usia sekolah karena itu bisa mengganggu belajar dan itu terbukti ketika julukan si nomor satu menghilang dari diriku. Saat itu Mama begitu marah padaku, padahal gaya pacaranku bisa dikatakan sangat standar jika dibandingkan dengan gaya pacaran remaja lain yang mana malam minggu main keluyuran bareng pacarnya, setiap sore jalan-jalan boncengan bareng pacarnya, atau saling berkunjung ke rumah pacar masing-masing. Sedangkan gaya pacaranku hanya bertemu di sekolah dan sisanya berkomunikasi via ponsel. Namun, apapun itu Mama tetap tidak suka. Menurutnya tidak pantas seorang anak SMP berpacaran karena belum waktunya. Mama takut aku terjerumus dalam pergaulan bebas remaja yang selalu menjadi trending topic di segala zaman. Mama tak ingin aku menjadi bahan perbincangan orang lain. Okelah, i see. Aku tidak terlalu mengingat kisahku dengan dia secara lengkap karena itu terjadi dalam kurun waktu yang cukup lama, yang pasti pada akhirnya aku mengakhiri kisahku dengan dia.
Friends, betapa tak berfaedahnya pacaran bagiku. Suatu hari aku pernah bertanya tentang manfaat pacaran pada seorang penganut budaya pacaran. Dia mengatakan bahwa pacaran bisa menjadi penyemangat hidup, menjadi alarm, sebagai teman curhat, dan sebagai teman antar jemput, begitu katanya. Namun, entah kenapa aku tak sependapat dengan apa yang dia katakana. Pacaran membuatku kehilangan fokus belajar. Semangat belajar memang ada, dan akan selalu ada, tapi konsentrasiku terbagi ketika mengenal pacaran. Alhasil nilai-nilaiku di sekolah menurun. Bagaimana tentang penyemangat hidup? Sungguh tak adil bagiku jika menempatkan si pacar sebagai penyemangat hidup mengingat orangtua lebih berperan penting dan berkorban banyak dalam perjalanan hidupku sampai saat ini. Sedangkan untuk alarm mungkin seperti yang ku ceritakan di atas, misalnya saling mengingatkan jam makan, jam tidur, jam belajar, dan jam shalat, padahal kalau dipikir-pikir rasa lapar lebih ampuh mengingatkan untuk segera makan, rasa kantuk ingatkan kita untuk segera tidur, jam belajar sudah ada schedule tersendiri, dan shalat, apakah lantunan adzan tak cukup mengingatkan untuk segera pergi shalat? Apakah pacar lebih dituruti dibandingkan Tuhan kita sendiri?. Nah, untuk teman antar jemput, selama transportasi umum masih beroperasi dimana-mana, itu tak jadi masalah bagiku apalagi sekarang sudah banyak transportasi online. Don’t worry! Biasakan melakukan segala sesuatu sendiri, mandiri sebelum meminta bantuan orang lain supaya tidak mudah bergantung pada ornag lain. Yuk, sama-sama kita jadikan bahan renungan.
Dari awal aku memang salah karena mengabaikan larangan orangtuaku untuk tidak pacaran di usia sekolah. Namun, saat itu egoku yang tengah mengalami fluktuasi membuat pikiranku tak jernih. Aku lebih mementingkan rasa penasaranku dibandingkan perasaan orangtuaku. Aku memutuskan untuk berpacaran karena ingin tahu rasanya punya pacar seperti apa? Bagaimana rasanya dicintai, padahal rasa cinta orangtua lebih besar dari apapun hanya saja mereka memiliki caranya sendiri utnuk mengekspresikan rasa cintanya. Alasan lain untukku berpacaran karena agar kekinian dan bisa nyambung jika sedang mengobrol dengan mereka yang penganut budaya pacaran. Oh iya, satu hal lagi yang membuatku penasaran dengan mereka para cowok yang suka membelikan hadiah kepada pacarnya, sedangkan posisi para cowok itu sebagai siswa SMP yang belum memiliki pekerjaan. So darimana mereka mendapatkan uang untuk membeli semua itu? minta kepada orangtuakah? Jika begitu, bagaimana pendapat orangtuanya ketika tahu uang hasil kerjanya dipakai untuk membelikan hadiah anak orang lain?. Atau mungkin hasil nabung dari uang jajan? Sungguh mulia sekali rela menabung untuk beli hadiah anak orang lain, sedangkan untuk kebutuhan sendiri beli buku saja minta ke orangtua. Yuk, kita renungkan kembali.
Ok friends, aku bukanlah orang yang sempurna. Saat ini aku sudah tidak membudayakan pacaran, tapi bukan berarti aku tidak pernah pacaran. Justru aku tidak pacaran karena tahu seperti apa pacaran yang menurutku lebih banyak mudharatnya. Dalam diary ini aku hanya beropini atas apa yang aku alami dan rasakan. Aku tidak menghakimi friends yang memang membudayakan pacaran. Mungkin di antara friends ada yang memiliki opini lain dalam sudut pandang berbeda, lebih positive. Aku terbuka dengan kritik dan saran karena blog ini adalah tempat untuk sharing. Aku berharap mudah-mudahan diary ini bisa bermanfaat untuk kita semua dan mohon maaf bila banyak kesalahan dalam penulisannya. Akhirulkalam.


Comments

Popular Posts